. Melihat Oca mengenakan lingerie itu membuat tenggorokan Mang Deden seketika menjadi kering, beberapa kali Mang Deden terlihat menelan ludah.
Melihat itu Oca pun merasakan kemenangan dalam dirinya karna kini gantian Mang Deden yang terdiam karna keelokan tubuhnya.
"Kenapa mang, ngelamunin apaan? Masa gantian ngelamunnya? Hihi" "Eh eneng sih seksi banget, jadi bingung.." pancing Mang Deden.
"Bingung kenapa sih maaang? Kok bisa bisanya malah bingung" "Iya bingung neng, mau makan nasi gorengnya atau ngelahap yang masaknya nih" "Mulai deh genit, inget istri sama anaknya maang" cetus Oca menanggapi godaan Mang Deden.
"Huu lagian enengnya segala pakek baju begitu, kan jadi bangun nih si adek" secara terang terangan jari telunjuk Mang Deden menunjuk tonjolan penisnya yang semakin tercetak di boxernya itu.
"Ih kan panas mang, mamang sendiri cuma pakek celana daleman tuh huu awas tuh burung terbang" celetuk Oca menjawab protes Mang Deden.
"Iya takut nih neng, ntar terbangnya nyasar lagi nih burung" "Nyasar kemana hayo" "Ada deh, si eneng nih sok polos" "Huuu dasar, yaudah lanjut makan maang" "Hehe iya neeng cantiiik" Mereka berdua menikmati makanan yang dimasak oleh Oca itu dengan hening, keduanya tidak ada ada yang memulai percakapan lagi.
Hanya berkomunikasi dengan saling menatap satu sama lain, melempar senyum.
Tanpa mereka sadari sekarang kaki mereka telah saling bersentuhan, dengan ibu jari kakinya, Mang Deden sengaja menyentuh betisnya bergerak perlahan menuju mata kaki milik Oca.
Mendapat perlakuan seperti itu, Oca pun membalas dengan menaikan kakinya menuju paha Mang Deden, dan menggerakan jari jari kakinya meremas otot paha milik Mang Deden.
Nafas keduanya semakin memburu jantung mereka berdegup kencang.
Mereka sama sama tahu akhir dari sesuatu yang mereka mulai siang ini.
Oca yang rindu untuk disentuh oleh suaminya tentu menerima saja perlakuan Mang Deden yang semakin agresif dengan kakinya.
Oca yang dilanda birahi yang amat besar akhirnya bersuara.
"Majuan dikit dong Mang duduknya" "Iyah neng, eneng juga dong" Keduanya akhirnya sama sama berhenti sejenak untuk memajukan posisi duduk mereka.
Dalam benak Oca dan Mang Deden sangat yakin siang ini lah mereka akan memulai permainan cinta mereka berdua.
Tangan Mang Deden menggapai tangan Oca, jemari mereka berkait.
Dalam hati Mang Deden ingin rasanya langsung saja menggendong Oca ke ruang tengah dan bercinta disana.
Namun ia berusaha untuk sabar, tidak ingin Oca menganggapnya sebagai laki laki mesum tak tau adab yang langsung saja menyetubuhi wanita yang juga istri orang lain.
Oca sendiri meremas jari Mang Deden untuk mengirim sinyal pesan bahwa sang betina telah siap untuk memulai persetubuhan siang itu.
Tanpa diduga, Mang Deden berdiri sambil tetap menggandeng Oca, menuju kursi meja makan yang berada ditengah.
Mang Deden duduk dikursi itu, dan membimbing Oca untuk duduk dipangkuannya sambil tetap berhadapan.
"Ahhh keras banget mang" desah Oca saat menduduki penis Mang Deden, kedua kelamin mereka kini hanya dihalangi oleh pakaian dalam yang mereka kenakan.
Spontan saja Oca langsung merespon dengan bergoyang menggesekan vaginanya di atas penis Mang Deden.
"Tubuhmu indah banget neng, enak banget goyangannya ahhh" puji Mang Deden ketika ia melihat bayangan mereka berdua dari cermin yang mengarah ke mereka.
Sangat kontras, tubuh mulus putih Oca berpadu dengan tubuh berotot, hitam dekil milik Mang Deden.
Berpadunya tubuh mereka pastinya akan membuat siapapun yang melihatnya menjadi terangsang..
Sumber:Internet