Gelap

Kumpulan Cerpen Asa 1

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Kumpulan Cerpen Asa 1

. Aku Ibu yang Gagal#Asj (Kisah nyata) November 1990 “Adlan ... Melvi .... Dimana? Ayo makan, Ibu sudah buatin sop ayam, nih.
” Tak ada jawaban.
Pikiranku tak enak.
Kucari sekeliling rumah.
Nihil.
Kuulangi lagi mengelilingi rumah dan mencari di setiap ruangan sembari memanggil mereka.
Tak ada! Saat tubuhku mulai merespon dengan gemetar dan peluh yang membanjir, tiba-tiba terdengar suara cekikikan dari dalam kamar.
Ya, Rabb, rupanya Adlan dan Melvi sedang bersembunyi di balik selimut tebal berpelukan.
Sekonyong-konyong mataku membulat, melepas napas dengan tersengal.
“Ya Allah, Nak.
Jadi kalian berdua dari tadi tuh, disini.
Ibu cariin keliling rumah, lo, Nak.
Kenapa sich, dipanggil-panggil nggak menjawab,” tanyaku kepada duo krucil berusia tiga dan empat tahun itu.
Meski lutut masih gemetar, kelegaan menjalari hati.
Seandainya saja mereka hilang karena penculik, entah apa jadinya.
Adlan dan Melvi adalah kakak adik yang usianya hanya berselisih sebelas bulan.
Ya, saat aku baru dua bulan melahirkan Melvi, Allah memberiku rejeki kembali, buah hati dalam kandungan.
Padahal waktu itu usiaku nyaris empat puluh tahun tahun dan mereka telah memiliki dua orang kakak lelaki dan perempuan.
Pada suatu ketika, kami yang jarang berlibur ke rumah nenek mereka nun jauh di pelosok pedesaan jawa sana, memutuskan untuk berkunjung.
Ini karena kerinduan mendalamku kepada Ibu yang sudah tak terbendung.
Selama ini terpaksa kutinggalkan jauh orang tua, demi mengikuti suami yang merantau mencari nafkah untuk kami.
Entah bagaimana, kesedihan itu dimulai, ternyata putra bungsuku tak ingin ikut denganku kembali ke perantauan.
Selama satu bulan berada di rumah neneknya, rupanya ia betah dekat-dekat dengan nenek kakeknya meski kehidupan keduanya tak jauh beda susahnya denganku.
Kasih sayang berlimpah tak terkira dari keduanya membuat Adlan nyaman.
Ditambah Kakek Nenek mereka memang hanya tinggal berdua saja, tentu ada cucu yang tinggal di rumah membuat kduanya merasa bahagia.
Mereka berdua pun berharap Adlan tetap tinggal ketika aku dan kakak-kakaknya Adlan pulang.
Tapi bagaimana mungkin aku tega meninggalkannya, ia masih balita.
Bagaimana jika malam-malam ia menangis mencariku, bagaimana jika ia rewel ingin bermain dengan Melvi.
Bagi Adlan, Melvi adalah kakak terbaiknya, namun ia juga mulai nyaman hidup dengan kakek neneknya.
Dan bagaimana aku harus menjelaskan kepada suami yang tak ikut.
Namun kemauan putra kecilku tak bisa kucegaah.
Akhirnya dengan bujukan Nenek Kakek mereka.
Aku mengikhlaskan Adlan tinggal bersama mereka.
Hanya saja, aku tak akan yakin bisa kembali ke sini lagi dengan cepat.
Sementara penghasilan suami saja teramat pas-pasan.
Untuk bisa mengunjungi Bapak Ibu ini saja, aku perlu menabung bertahun-tahun.
“Adlan baik-baik saja, ya, Nak.
Janji tak nakal.
Nurut sama Kakek Nenek.
Oke ?” nasehatku padanya.
Lelaki kecilku itu mengangguk mantap.
Wajahnya berbinar karena di ijinkan tinggal, meski ada kesedihan dari raut wajahnya karena berpisah dengan Melvi.
“Mbak Epi celing cini ya, Mbak.
Biar Adan nggak tangen,” katanya.
Ya Allah, dia bilang Mbak Melvinya suruh sering datang biar ia tak kangen.
Sang kakak hanya mengangguk sedih.
Semoga ya, Nak, Ibu dikasih banyak rejeki dari Allah, sehingga bisa sering mengunjungimu, ujarku dalam hati saja.
Tentu tak akan tega aku mengatakannya.
Biarlah kamu disini menemani kakek dan nenek yang begitu menyayangimu.
Sejak itu, hariku menjadi sepi.
*** Desember  2000 Ternyata hidup memang tak selalu mulus.
Harapan tinggal harapan.
Rasa kangenku yang menggunung pada si bungsu belum sama sekali terbalaskan hingga bertahun-tahun.
Suami yang hanya seorang pekerja kelas paling bawah pada perusahaan kopi, justru diberhentikan karena adanya pengurangan karyawan.
Selanjutnya ia malah mengambil profesi sebagai tukang gali sumur demi bisa menghidupi kami.
Aku membantu dengan berdagang nasi pecel di depan rumah karena penghasilan suami yang tak menentu.
Sementara kakek nenek mereka sudah semakin tua, tak tega meminta mereka bertiga yang pergi menyambangi kami.
Jadi aku hanya mampu memendam rindu sembari berharap, bisa secepatnya melihat si bungsu.
Entah sudah sebesar apa dia sekarang.

Sumber:Internet