.  Kesetiaan yang Ternodai "Sayang, makan siang dulu ya ..., ini nasinya masih hangat, biar enak di perut abang," bujuk Aisyah menawarkan menu makan siang rumah sakit ini dengan hangat kepadaku.
Aku mengangguk perlahan.
"Bismillahirohmanirrohim," bisiknya pelan, lalu ia menyuapkan nasi dengan kuah tahu hambar itu kepadaku.
Pahit.
Namun aku bersemangat menerima suapan demi suapannya yang penuh cinta.
Aisyah Raheela Salehudin.
Ia istriku.
Seorang istri yang kesabaran dan kesetiaannya telah tertempa sedemikian rupa.
Seorang istri yang tak pernah berubah akan kesederhanaannya walau telah berpunya sekalipun.
Kecantikan hatinya yang memesona, membuat kehadirannya menjadi begitu istimewa di mataku, bahkan pada saat aku hanya mengingatnya saja, mampu membuat hatiku bergetar dalam.
Aisyah Raheela Salehudin Seorang istri yang awalnya tak pernah kucintai.
Aku menikahinya dulu karena sisi rasionalku yang bekerja.
Mencari istri yang tak perlu cantik, tak banyak menuntut, sehingga bisa mendukung mimpiku, menjadi lelaki kaya dan sukses di masa depan.
Namun ternyata aku salah tentang impianku.
Justru impianku itu yang mengantarkan aku pada kehinaan hidup tiada tara.
Mendekam di balik jeruji besi.
Bertahun.
Menjadi penyakitan.
Menjadi buruk rupa.
Disinilah kesetiaan seorang istri menelanjangi mata hatiku yang telah lama buta.
# Lima tahun menikah dengan Aisyah rejekiku semakin bagus, karirku naik dan aku menjadi orang kepercayaan pemilik saham kantorku.
Sudah dua tahun ini aku dipercaya menjadi wakil direktur perusahaan.
Kebetulan sekali Direkturku orang yang sudah uzur, jadi justru akulah yang aktif menjadi penentu arah perusahaan.
Dengan kecerdasanku, manuver-manuver beresiko kumainkan namun banyak memberi keuntungan tinggi untuk perusahaan.
Pemilik saham senang, bonusku semakin besar.
"Dek, bulan ini abang punya rejeki banyak, ini uang, bisa kamu pergunakan untuk beli kosmetik, beli baju yang bagus, ya, biar abang senang lihat kamu makin cantik," Aku menyodorkan dua puluh gepok uang ratusan kepadanya dalam satu amplop cokelat besar.
"MasyaAllah banyak sekali bang, ini beneran buat Ais?" tanyanya dengan sumringah.
Aisyah tampak terkejut namun ia senang.
"Ia, sekarang kamu harus bisa lebih mengimbangi abang, ya, harus cantik?" saranku.
Memang selama ini kami seperti jomplang.
Aku yang menurut sebagian orang tampan berbanding terbalik dengan Ais yang biasa saja, bahkan kini penampilannya makin lusuh karena ia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, sementara jumlah anak makin bertambah.
Ia sama sekali tak mau memiliki pembantu.
Menurutnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, mengajari anak dengan kedua tangannya sendiri adalah kenikmatan dan ibadah.
Namun seiring berjalannya waktu, aku yang makin banyak uang, makin ingin dilayani oleh wanita yang harusnya semakin cantik.
Kalau dulu aku menikahi dia karena dia yang biasa saja, itu karena aku khawatir tak akan bisa menjadi lelaki sukses seperti saat ini.
Tapi sekarang kondisinya berbeda.
# Hidup begitu berpihak padaku.
Sesuai Harapan dan impianku, untuk menjadi orang yang mapan finacial, semua berjalan mulus.
Berkat kecerdasanku, proyek perusahaan dimana-mana, tidak hanya sekedar gaji, bonus dari proyek terus mengalir deras.
Namun aku mulai mengalami kebosanan, walau bonusku sudah cukup besar, aku merasa tak puas.
Bagiku ini tak adil.
Aku bekerja keras siang malam untuk perusahaan, aku sang kunci perusahaan yang memenangkan banyak tender tapi aku hanya mendapat jatah yang tak lebih dari para owner perusahaan.
Berbagai ide mulai bermunculan di kepalaku.
Tak masalah kan kalau aku korupsi beberapa persen dari keuntungan perusahaan.
Gayung bersambut, dengan kekuasaanku, begitu mudah aku mengajak kerja sama Manager Accounting dan Manager Audit perusahaan untuk me mark up angka pengeluaran dan biaya-biaya perusahaan, sehingga beberapa miliar bisa masuk ke kantong kami bertiga.
Aku tak pernah khawatir akan kerangkeroh yang kulakukan ini, karena bagi perusahaan itu tak seberapa.
Sumber:Internet