. oleh Asa Jannati [Bolehkan aku menjadi istri suamimu nanti, El.
] pesan terakhir percakapan whatsapp kita siang itu.
Kuhempaskan gawai ke kasur.
Hanya ia yang tahu semua tentangku, juga tentang penyakitku.
Meski sebenarnya ini gila, tapi aku tak marah saat ia mengutarakan itu.
Justru seharusnya aku bersyukur.
Karena artinya aku tak perlu susah payah membujuknya suatu saat nanti, ketika waktu itu akan tiba.
Aku tahu tak akan ada yang bisa menggantikan posisiku selain dia.
Meski hatiku terasa sakit harus menerima kenyataan, suamiku akan hidup dengan wanita lain.
Namun setidaknya ini jauh lebih baik, daripada aku tak tahu sama sekali, akan dengan siapa suamiku hidup nantinya.
Anak-anakku sudah mengenal Reni dengan baik.
Begitu pula anak semata wayangnya, sangat dekat dengan anak-anakku.
Reni berada di Sumatra, hanya aplikasi whatsapp yang kami gunakan untuk sekedar mengobati rasa kangen, atau keinginan untuk bercerita.
Sebagai seorang wanita, aku menyukai kepribadiannya.
Dia lembut, ramah, murah senyum, keibuan dan aktif.
Mungkin karena itu kami cocok.
Aku mengenalnya ketika berada di bangku kuliah.
Tidak satu fakultas, tapi kami terlibat dalam satu organisasi yang sama.
Tahu-tahu kami sudah dekat, kami sering hang out bersama diluar aktivitas kampus.
Setelah lulus kuliah, kami berpisah mengejar cita dan asa masing-masing.
Bertahun kami tak berkomunikasi, hingga ketika aku membuat akun facebook, ada seseorang mengirim inbox kepadaku.
Reni! Komunikasi kami jalan kembali.
Sahabat yang hangat, aku tak mudah menceritakan kehidupan pribadiku kepada siapapun.
Tapi kepadanya adalah pengecualian.
Menurut teman-teman kampus dulu, wajah, bentuk tubuh dan kepribadian kami mirip.
Kami seperti kembar.
Bahkan kami banyak memiliki kesamaan selera.
Bedanya aku sedikit lebih keras kepala, sementara level keras kepala Reni masih pada batas wajar.
Sayangnya nasib rumah tangganya tak baik.
Ia sering mengalami penyiksaan-penyiksaan dari suaminya.
“Ren, tinggalkan suamimu! Aku tak tahan mendengar penganiayan-penganiayaannya padamu,” jawabku suatu ketika, saat ia meneleponku di pagi buta.
Manakala baru saja di hajar suaminya yang kalah judi pulang subuh hari.
“Aku tak bisa, aku mencintainya, Elsa,” ujarnya terisak.
“Kamu menderita!” tegasku.
Ia hanya diam.
Aku tahu dia begitu mencintai suaminya.
Sama sepertiku yang tak akan bisa menikah dengan lelaki yang tak kucintai.
Tapi suaminya kian hari kian menunjukkan perangai tak baik.
Terlebih setelah usahanya sepi.
Ini pelampiasan yang salah.
Aku tak terima Reni diperlakukan sebegitu buruknya oleh seseorang yang seharusnya melindunginya.
Suatu hari, saat aku sedang ditugaskan dinas ke kotanya.
Kami bertemu.
Ia masih sama.
Cantik, hanya terlihat kurus.
“Kamu semakin cantik, Elsa,” ucapnya.
“Belakangan ini aku semakin sibuk, Reni.
Entah kenapa kepalaku juga jadi sering sakit.
Mungkin karena beban pekerjaanku yang semakin banyak.
” “ Kurasa begitu.
Ambil waktu libur, El.
Manjakan diri sendiri untuk melepaskan kepenatan,” Sarannya.
“Ya, secepatnya,” jawabku.
Aku memesan chicken wings saus keju.
Hidangan favourite yang sering kami makan bersama dulu.
kamu juga tak berubah Ren, masih cantik,” lanjutku.
“Tapi aku makin kurus, kan?” tanyanya.
“Ya, akupun makin kurus, ‘kan? Bukankah kita ini memang kembar identik.
Jadi selalu sama dan bisa merasai satu sama lain,” candaku.
Sumber:Internet