. ~ Luka Sang Pemilik Cinta Seluas Samudera ~ "Aduh ..., Hana! Kemana duit Emak," Sedikit menjerit suara Emak.
Aku yg sedang mengambil minum di dapur segera melongokkan kepala melalui pintu belakang, menyaksikan dari balik punggung emak dan kakakku nomor tiga yang sedang membersihkan dua kilo ayam potong yang baru saja dibeli di pasar.
mereka tak melihatku.
"Kenapa, Mak?" jawab kak Hana lembut.
"Iya, ini tadi uang di dompet emak kan masih ada tiga ratus ribu, kenapa tinggal lima puluh ribuan dua lembar, ya?" gumam emak.
"Aduhh, kok bisa, Mak.
Jatuh dijalan apa gimana, mak?" Kak Hana tampak kalut.
"Enggak, ah.
tadi waktu emak bayar ojek depan rumah juga masih tiga ratus ..." Suara emak lirih sambil membolak-balik dompetnya.
"Sabar, mak.
nanti Hana bantu carikan.
" "Hilang berapa, Mak?" tanyaku segera menghampiri mak dan ikut membersihkan ayam.
"Dua ratus ribu sepertinya, Nin," jawab mak, sambil meletakkan dompet di tepian sumur.
"Ya sudah jangan terlalu disedihin, Mak, mungkin bukan rejeki emak.
nanti Nina ganti uang Emak yang hilang," jawabku.
"Eleuh, gak usah, Nin.
Kemarin waktu Nina datang kan sudah kasih banyak.
""Ya itu sudah kepake kan, Mak, buat beli kue lebaran, baju lebaran Epit, beli bahan dapur segala.
" Emak cuma terdiam sambil terus melanjutkan membersihkan ayam.
Lebaran kali ini sebenarnya hati Emak sedang senang.
Karena kesemua anak yang jauh pulang.
Tidak seperti lebaran lalu-lalu, banyak anak Emak yang memilih tidak pulang.
Semoga bisa mengembalikan keceriaan emak yang sudah jarang tertawa sejak kepergian Bapak sepuluh tahun lalu.
Aa' Dadang yang selepas menikah memboyong istrinya untuk tinggal di Medan, pulang bersama dua anak dan istri.
Teh Elin yang sudah dua tahun menikah dan tahun lalu tak pulang, kali ini pulang membawa si kecil Rafa.
Aa' Yadin yang merantau ke Surabaya, tahun lalu pulang dan tahun ini juga pulang.
Teh Inca yang bekerja di Palembang, tahun lalu tak pulang dan tahun ini pulang, dan teh Keket yang bekerja di sebuah spa di bali, tahun lalu tak pulang, akhirnya tahun tahun ini pulang.
Terakhir aku yang tiap tahun selalu mudik, sejenak meninggalkan penatnya hiruk pikuk kesibukan Jakarta.
Tinggal dirumah ada Teh Hana dan si kecil Epit menemani hari-hari emak yang sehari-hari berjualan kerupuk jengkol yang diolahnya sendiri.
Dan di titipkan di warung-warung kecil pinggir jalan.
Sebenarnya aku sudah melarang emak untuk terus berjualan.
Tapi laranganku tak cukup kuat untuk menghentikan emak, karena uang yang kutransfer tiap bulan untuk mak, belumlah mencukupi biaya hidup bulanan mak.
Mungkin hanya bisa untuk menambah biaya bulanan saja.
Ditambah emak masih harus menanggung hidup Teh Hana yang janda dengan satu anak dan biaya sekolah Epit, adikku yang bungsu tiap bulan.
Teh Hana adalah kakakku nomor tiga yang hatinya terlalu lembut, terlalu pendiam, dan terlalu lemah.
Hingga diceraikan suami dan tak pernah dikirimi nafkah untuk buah hatinya pun, teh Hana hanya menerima.
Emak tak tega membiarkan teh Hana bekerja apapun.
Karena sudah sering dibohongi orang.
Teh Hana hanya diam.
Pernah suatu ketika teh Hana mangkal berjualan kerupuk emak di pasar, setelah berjam berjualan, kerupuk habis tapi jangankan untung, kembali modal pun tidak, kemungkinan dibohongi soal uang kembalian.
Teh Hana memang terlalu lemah.
Dia hanya bisa hidup aman apabila menempel dengan emak.
"Hana, bumbu diulek lagi ya, kayak kemaren," pesan emak.
"Iya, mak, udah tau, kalo di belender rasanya jadi gak enak, kan, mak," sahut teh Hana.
"Semangat pisan, mak.
Masakin anak-anaknya," godaku.
"Iya, atuh ... mumpung lagi pada ngarumpul anak emak.
Anak-anak emak kan juga pasti kangen masakan emak," sahut mak.
"ho'oh, masakan emak mah paling di kangenin biar disana banyak KFC juga," jawab Teh Hana sambil melirik padaku.
Aku tertawa kecil.
Menurut teh Hana yang lugu itu, KFC adalah makanan dikota yang paling enak.
Kulihat kakak-kakakku yang lain yang sedang bercanda gurau diruang tamu.
Ada juga yang diteras dan di kamar.
Rumah tua emak yang kini tampak kecil di mata kami, anak-anaknya yang sudah terbiasa melihat dunia luar ini, terasa meriah dengan hadirnya kami dan juga cucu-cucu emak.
Sumber:Internet