Gelap

Kumpulan Cerpen Asa 14

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Kumpulan Cerpen Asa 14

. Oase Dalam Samar Kebisuan Hari ini kembali kubuka lembar demi lembar album kenangan itu.
Mataku basah, mengingat semua kenangan manis di dalamnya.
Anganku menerawang kembali ke masa itu.
Setahun yang lalu, kebahagiaan menjalar ke seluruh keluarga.
Tepat di usiaku yang telah matang untuk dipersunting seseorang, ada seorang pangeran cinta yang datang untuk melamar.
*** [Sonia, apa kamu masih mencintaiku?] [Ya, tentu, Sayang.
Sampai kapan pun!] jawabku.
[Sonia, apakah sayangmu tak berubah kepadaku?] [Oh, Sayang, justru semakin bertambah] [Sonia, apakah kamu mau hidup denganku?] [Tentu saja, Sayang, itu yang aku impikan] [Kalau begitu, tunggulah dua hari lagi, Sayang.
Pangeran berkuda akan datang ke rumahmu bersama seluruh pasukan dan keluarganya untuk menemui ayah dan ibumu] Mataku terbelalak menatap gawai.
[Sungguh?] Pesan itu kubalas cepat.
[Sungguh] [Apa kamu tidak main-main?] [Tidak] [Kamu sedang bercanda?] [Tidak, Sayang, aku serius] Mataku berkaca-kaca.
[Hari kamis, dua hari lagi, persiapkan segalanya, ya, Sayang.
Beri tau ayah dan ibumu, aku ingin kamu terlihat sangat cantik saat ayah dan ibuku datang melihat dan melamarmu untukku] Hatiku membuncah, bulir-bulir bahagia deras mengalir tak terbendung.
[Tentu, Sayang.
Lebih dari yang kamu harap, aku akan cantik sempurna mempersiapkannya untukmu] Apa yang lebih membahagiakan dari seorang wanita kalau bukan menikah dengan laki-laki yang dicintainya? Siapa lagi wanita yang beruntung kalau bukan wanita yang dilamar oleh kekasihnya yang rupawan nan sempurna dan disetujui kedua orang tuanya? Tiga hari. setelah Idul Fitri, pertemuan dua keluarga yang mengharu biru.
Lelakiku tampak tampan memakai batik motif Jalu Mampang dengan bawahan celana bahan hitam.
Rambutnya yang hitam legam terkesan basah tersisir rapi menaungi kedua mata elangnya, berhidung mancung juga bibir tipis dan rahangnya yang tegas.
Aku seperti tak percaya.
Penampilannya tampak sempurna malam itu.
Ia pun tak henti mencuri pandang ke arahku di antara keriuhan keluarga yang berkumpul.
Pembawaannya yang santun dan tenang tatkala berdiskusi, membuat keluarga amat simpatik terhadapnya.
Tanggal sudah ditentukan, pihak keluargaku meminta waktu enam bulan lagi.
"Apakah tidak terlalu lama, Sayang?" tanyanya ketika acara sudah selesai.
"Tidak, Sayang, persiapan pernikahan kita akan membutuhkan banyak waktu.
Percaya padaku, enam bulan itu akan terasa sebentar," jawabku.
Ia tampak mengerti dan menyetujuinya.
Aku bahagia.
Tak lama lagi aku akan menikah.
Ribuan rasa yang terkadang berubah menjadi ribuan tanya, kini terjawab dan memecah terbang ke langit tinggi bersama cinta yang melabuh pada hati yang menunggu.
Kebahagiaan menanti masa-masa itu kami habiskan dengan banyak diskusi.
Aku selalu tergelak mendengar saran tanggal darinya yang dibuat semakin maju karena tak sabar menanti hari pernikahan.
*** Terasa menyakitkan bagiku, ketika aku harus mengatakan bahwa hari yang indah itu harus diundur beberapa bulan lagi karena keputusan kantor tempatku bekerja di Jakarta.

Sumber:Internet