. Sebuah Pertemuan Simfoni alam tergambar indah di tempat itu.
Angin bergerak perlahan membelai setiap sosok yang menikmati birunya laut kala sore.
Ombak-ombak kecil yang tenang.
Pasir putih berbentuk bulat-bulat kecil di hamparan pantai.
Anak-anak kecil berlarian di tepian dan burung-burung camar berkejaran di atasnya.
Lana dan Azka menikmati setiap inci pemandangan indah di hadapan mereka.
'Ini saat yang sangat tepat,' batin Azka.
โMaukah kau menikah denganku, Lana?โ ucap Azka.
Gadis sendu berhidung mancung itu menatap Azka sesaat, kemudian berpaling lagi memandang ke hamparan laut didepannya.
Terkejut namun berusaha menutupi perasaannya.
โ Mmm ... Azka, maksud kamu?โ Lana menjawab pelan, berusaha mencerna pertanyaan Azka yang tiba-tiba itu.
Azka memahami keterkejutan Lana.
Sebuah pertemuan yang masih baru.
โMaafkan, tapi kurasa saat ini aku harus mengatakannya padamu, Lana.
Aku ingin kita menjejak ke arah yang lebih serius.
โ Lana hanya terdiam.
Perlu ribuan kali Azka meyakinkan hati untuk mengatakannya.
Ia tak pernah mengutarakan cinta kepada siapapun, apalagi mengajak seseorang menikah.
Tapi ketika hatinya telah mantab menjatuhkan pilihan, segala kesiapan telah terpenuhi, untuk apa lagi ditunda.
Terlebih ia telah menemukan sosok yang tepat.
Wanita yang telah memberi kesan berbeda pada hatinya.
Hidupnya terlalu serius belakangan ini, membangun bisnis yang kini telah ia petik hasilnya.
Bekerja dan berkarya, yang awalnya sebagai bentuk pelampiasan mengobati kekecewaan hati yang sempat rapuh kehilangan Papa juga Mamanya.
Gea, Mama Azka, wanita supel nan cantik itu, begitu tak percaya menghadapi kenyataan seseorang yang teramat ia cintai telah menghianatinya.
Ia membaca sebuah pesan yang baru masuk ke handphone suaminya.
Seorang wanita mengaku hamil dan meminta pertanggung jawaban suaminya.
Malam itu, keributan luar biasa mengakhiri segalanya.
Menciptakan trauma tersendiri untuk Azka kecil.
Begitu cepat perpisahan itu terjadi.
Bertahun Gea menjadi depresi.
Papa Azka yang terusir dan malu kepada keluarga besar Gea, pergi entah kemana tak kembali.
Azka kehilangan sosok Papa dan kehilangan figur Mama yang ceria.
Mamanya telah seperti mayat hidup selepas perceraian itu.
Azka kecil tak paham mengapa semua ini harus terjadi, mengapa ada perpisahan.
Sementara Mamanya semakin lemah dalam kesedihan yang mendalam.
Hingga selang dua tahun kemudian, sang Mama berpulang untuk selamanya.
Hati Azka kecil semakin hancur.
Menciptakan kebencian pada lelaki yang dulu ia kagumi.
Membenci perceraian yang terjadi.
Membenci perselingkuhan yang pernah ada.
Jauh di lubuk hatinya, ia tak bisa memaafkan Papanya.
Bertahun Azka dalam ketidakstabilan emosi.
Dalam kamar Azka berteriak-teriak atau kadang jutru diam berhari-hari tanpa selera makan.
Perasaan rindu, sedih, benci, hilang pegangan dan kasih sayang dari Papa Mamanya membuatnya tak tak bisa mengendalikan emo dan Tante, adik Mama Azka yang menjadi orang tua pengganti, mengkhawatirkan ini setelah mereka kewalahan menghadapi Azka.
Rudi, Om Azka mengerti, ia tak bisa menghadapi anak broken home tanpa penanganan profesional.
Azka harus dipertemukan pada Guru Agama, Psikiater dan Psikolog Anak.
Dengan telaten Azka dibantu konseling berbulan-bulan sampai akhirnya Azka makin membaik.
Ia mulai bisa menerima keadaan dirinya yang telah kehilangan orang tua.
Azka kecil sudah bisa memahami bahwa dirinya harus semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Ia menyadari seorang anak yang broken home sewaktu-waktu emosinya bisa saja tak stabil.
Sehingga itu membuatnya semakin religius.
Kini Azka telah dewasa.
Ia ingin membawa harapan baru akan kebahagiaannya.
Bersama Lana, wanita pendiam namun cerdas, bertubuh mungil dengan kulit putih bersih bagai pualam.
Ia yakin wanita lembut ini akan bisa mengobati kekosongan hatinya.
Perkenalan yang baru sebentar, diawali dengan sebuah pertemuan tak sengaja.
Sumber:Internet