. .
~ Mendung di Mata Areiya ~ ... ”Brak!” Tas ransel yang dilemparkan itu jatuh dihadapan Areiya, setelah sebelumnya tepat mengenai kepalanya.
”Cepat pergi kamu dari sini sekarang juga!” ”Cepat! Sebelum aku benar-benar melemparkanmu keluar!” Suara wanita itu semakin meninggi.
Areiya tak dapat lagi menahan dirinya untuk tetap berada dirumah itu, ia harus pergi malam itu juga.
Ia harus benar-benar pergi meninggalkan rumah yang telah sedikit menghibur hari-harinya hampir dua tahun belakangan ini.
Setelah sebelumnya ia harus kehilangan seluruh keluarga, orang-orang yang ia kenal akibat bencana itu, bencana yang telah memberangus habis seluruh harapannya.
Harapan yang tinggal menyisakan perih didadanya.
Melihat masa depannya yang hancur luluhlantak, seluluhlantak bumi yang ia pijak, yang telah membawa serta keluarga yang teramat ia cintai ke alam yang tak akan pernah membawa mereka kembali lagi.
Tinggal ia sendiri.
Hingga harapan itu datang.
Harapan akan masa depan yang lebih baik.
Setidaknya setelah ia tak punya siapa-siapa lagi didunia ini.
Meski ia tau, harapan itu tetap tak dapat mengobati luka hatinya.
Ia kembali sadar bahwa apa yang telah terenggut darinya adalah takdir atas hidupnya.
Ia tau ini kehendak dan kuasa-Nya.
Dan ia tak sendiri.
Banyak manusia yang mengalami nasib sepertinya.
Ini menjadikannya lebih kuat.
Kekuatan yang pula ia bangun atas penerimaan yang baik dari orang tua barunya.
Lelaki yang harus ia sebut papa, telah mampu menggantikan posisi ayah dalam dirinya, beliau begitu bijak, begitu arif layaknya seorang ayah dalam memberikan nasehat dan pandangan hidup yang telah ia jalani.
Banyak waktu yang Areiya habiskan dengan Ayah barunya, untuk bercerita dan melabuhkan luka hatinya yang belum jua sembuh.
Hingga tanpa Areiya sadari, hari-hari yang ia lewatkan di rumah itu, telah menciptakan kecemburuan pada wanita yang juga harus disebutnya mama.
Wanita yang awalnya begitu lembut dan menyayanginya.
Yang kemudian berubah tanpa Areiya bisa pahami dan sulit untuk ia selami.
Entah kecemburuan macam apa.
Kecemburuan karena kasih suaminya yang harus terbagi untuk Areiya, sebagai anak dan bagian baru baginya.
Yang mungkin mengurangi kasih suaminya yang awalnya utuh hanya untuk istrinya.
Atau kecemburuan macam istri yang melihat suaminya seolah berbagi kasih dengan wanita lain.
Entahlah, Areiya tak cukup memahami.
Sampai tiba malam itu, ketika hanya ada ia dan wanita itu dirumah, wanita yang sudah berusaha ia cintai seperti ibunya, berteriak-teriak mengusirnya atas sebab yang ia tak pahami.
”Kesabaranku sudah habis! Jangan sisakan sedikitpun barang-barangmu dirumah ini.
Kurang ajar! Tidak tau balas budi! Pergi! Sudah ditolong, justru mau merebut suamiku ....” Blar! Suara itu terdengar bagai bom yang memekakkan ditelinga Areiya, menciptakan ledakan-ledakan tak terkira ditiap kisi hatinya.
‘Tu Kenapa dengan wanita lembut ini? Aku seolah tak mengenalinya lagi.
Kenapa ia berubah sekasar ini? Jadi sikapnya berubah selama ini karena ia cemburu padaku?’ ‘ Tidak! Mengapa ia selama ini tak pernah mengenalku secara utuh.
Sampai sebegitu teganya ia menuduhku seperti itu.
Aku tidak mungkin tega berbuat seperti itu, pada orang tua yang kini sudah teramat aku cintai seperti orang tuaku sendiri!’ Bantah Areiya dalam hati.
Areiya sadar, ia bukan anak mereka, apalagi ia dipertemukan mereka saat usianya sudah lima belas tahun.
Usia yang mungkin pantas untuk dicemburui bagi seorang wanita.
Sumber:Internet