Gelap

Kumpulan Cerpen Asa 18

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Kumpulan Cerpen Asa 18

. AIB YANG MENYELAMATKAN PERNIKAHANJudul asli: Seperti Mustahil, Cinta.
By Asa Jannati Larasati melepas mukenanya, kemudian melipat dan meletakkan di ujung meja kamar apartementnya.
Setengah juz sudah ia bertilawah.
Berharap itu akan sedikit menenangkan batinnya yang terus gundah.
Sesaat kemudian tatapannya tertuju pada laptop di atas meja yang masih menyala.
Menantinya melanjutkan pekerjaan yang masih tertunda.
Namun ia urungkan berjalan ke arah meja kerja.
Langkahnya tertuju ke arah balkon.
Di bawah sana, pepohonan yang basah memantulkan cahaya dari lampu-lampu taman yang bersinar.
Bunga-bunga yang sedang bermekaran lengkap dengan kolam renang yang nampak berkilauan, memberi efek menenangkan bagi siapapun yang menatap dari ketinggian lantai gedung megah ini.
Larasati menarik napas dalam, sayangnya ia sedang tak menikmati pemandangan di hadapannya.
Matanya masih sembab, seperti kemarin-kemarin.
Satu bulan sudah ia hidup terpisah dengan suami yang amat ia cintai.
Coba membiasakan diri tanpa kehadiran lelaki yang telah setia menemani hari-harinya belakangan ini.
"Jika ini memang jalan takdirku, bantu aku mempercepat melupakan semuanya, Rabb," bisiknya.
Larasati menatap bias pada pemandangan di hadapannya.
Memorinya hanyut pada setiap kenangan masa lalunya.
Masa-masa perkenalan dengan Ananta, hari-hari setelah pernikahan, bulan madu yang sangat indah, semua terus berkelebat dalam benaknya.
Sayangnya, setiap kali ia usai mengingat kenangan indah itu, rasa nyeri kembali menyeruak dalam dadanya.
Ada perih, sakit, luka yang kini mencipta lara dalam jiwanya.
Ia harus mengubur mimpi bahagia di bulan ketiga pernikahannya, tak hanya untuk sesaat, tapi selamanya.
Impian tentang rumah tangga yang penuh cinta dan kehangatan telah hancur.
Impian yang sebenarnya perlahan telah mampu membantu menyembuhkan luka masa lapunya, kini justru telah menciptakan luka baru.
Bagaimana tidak.
Disaat cinta keduanya tengah tersemai sempurna dalam ikatan yang tak teragukan oleh siapapun.
Disaat keduanya tengah mencecap manisnya bulan madu, justru mereka harus segera mengurus pembatalan pernikahan.
Sebuah kenyataan, telah meluluhlantakkan segalanya.
Bahwa lelaki yang telah membuatnya ada didunia ini, lelaki yang bertahun menghilang yang ia sebut sebagai Ayah, ternyata adalah juga Ayah Ananta.
Suaminya! Sebuah kenyataan yang sungguh terlambat, sangat terlambat.
Larasati mengusap derai air mata yang berjatuhan ke bawah balkon lantai tiga itu.
Lama ia menangis di sana.
Sampai bunyi gawai menyadarkannya.
Ada sebuah pesan masuk di sana.
[Sayang, sudah makan malam, belum? Malam ini Mas beli kwetiau untuk makan malam, kwetiaw kesukaanmu itu.
Mau Mas pesankan juga?] Membaca pesan itu, Larasati memejamkan matanya dalam, bibirnya bergetar seakan menahan sesuatu yang nyeri dalam dadanya.
'Bukankah sudah kukatakan, jangan beri aku perhatian lagi, Mas .... Ini semakin membuatku sakit,' bisiknya lirih.
Ia segera menekan opsi hapus pada pesan itu dengan tubuh yang gigil.
Ada ketidakrelaan dan ego yang harus ia tekan dalam agar logika dan hati bisa sejalan.
Ia telah berjanji akan melupakan semua kenangan masa lalunya.
Mengurus segala berkas perpisahan dan akan pergi jauh ke suatu tempat dimana mungkin ia akan lebih cepat mengubur semua kenangan manis dengan suami yang begitu ia cintai, sempurna tanpa cela di matanya itu.
***"Apakah keputusanmu sudah matang Laras …?" tanya Nanta dengan suara bergetar, setelah mendengar rencana kepergian Larasati.
Siang itu, Nanta bertandang mengunjunginya.
"Bukankah kita harus secepatnya saling melepas, Mas?" balas Larasati.
Hening.
Hanya ada desah napas mereka berdua yang terdengar jelas.

Sumber:Internet