. AIB YANG MENYELAMATKAN PERNIKAHANJudul asli: Seperti Mustahil, Cinta.
By Asa Jannati Larasati melepas mukenanya, kemudian melipat dan meletakkan di ujung meja kamar apartementnya.
Setengah juz sudah ia bertilawah.
Berharap itu akan sedikit menenangkan batinnya yang terus gundah.
Sesaat kemudian tatapannya tertuju pada laptop di atas meja yang masih menyala.
Menantinya melanjutkan pekerjaan yang masih tertunda.
Namun ia urungkan berjalan ke arah meja kerja.
Langkahnya tertuju ke arah balkon.
Di bawah sana, pepohonan yang basah memantulkan cahaya dari lampu-lampu taman yang bersinar.
Bunga-bunga yang sedang bermekaran lengkap dengan kolam renang yang nampak berkilauan, memberi efek menenangkan bagi siapapun yang menatap dari ketinggian lantai gedung megah ini.
Larasati menarik napas dalam, sayangnya ia sedang tak menikmati pemandangan di hadapannya.
Matanya masih sembab, seperti kemarin-kemarin.
Satu bulan sudah ia hidup terpisah dengan suami yang amat ia cintai.
Coba membiasakan diri tanpa kehadiran lelaki yang telah setia menemani hari-harinya belakangan ini.
"Jika ini memang jalan takdirku, bantu aku mempercepat melupakan semuanya, Rabb," bisiknya.
Larasati menatap bias pada pemandangan di hadapannya.
Memorinya hanyut pada setiap kenangan masa lalunya.
Masa-masa perkenalan dengan Ananta, hari-hari setelah pernikahan, bulan madu yang sangat indah, semua terus berkelebat dalam benaknya.
Sayangnya, setiap kali ia usai mengingat kenangan indah itu, rasa nyeri kembali menyeruak dalam dadanya.
Ada perih, sakit, luka yang kini mencipta lara dalam jiwanya.
Ia harus mengubur mimpi bahagia di bulan ketiga pernikahannya, tak hanya untuk sesaat, tapi selamanya.
Impian tentang rumah tangga yang penuh cinta dan kehangatan telah hancur.
Impian yang sebenarnya perlahan telah mampu membantu menyembuhkan luka masa lapunya, kini justru telah menciptakan luka baru.
Bagaimana tidak.
Disaat cinta keduanya tengah tersemai sempurna dalam ikatan yang tak teragukan oleh siapapun.
Disaat keduanya tengah mencecap manisnya bulan madu, justru mereka harus segera mengurus pembatalan pernikahan.
Sebuah kenyataan, telah meluluhlantakkan segalanya.
Bahwa lelaki yang telah membuatnya ada didunia ini, lelaki yang bertahun menghilang yang ia sebut sebagai Ayah, ternyata adalah juga Ayah Ananta.
Suaminya! Sebuah kenyataan yang sungguh terlambat, sangat terlambat.
Larasati mengusap derai air mata yang berjatuhan ke bawah balkon lantai tiga itu.
Lama ia menangis di sana.
Sampai bunyi gawai menyadarkannya.
Ada sebuah pesan masuk di sana.
[Sayang, sudah makan malam, belum? Malam ini Mas beli kwetiau untuk makan malam, kwetiaw kesukaanmu itu.
Mau Mas pesankan juga?] Membaca pesan itu, Larasati memejamkan matanya dalam, bibirnya bergetar seakan menahan sesuatu yang nyeri dalam dadanya.
'Bukankah sudah kukatakan, jangan beri aku perhatian lagi, Mas .... Ini semakin membuatku sakit,' bisiknya lirih.
Ia segera menekan opsi hapus pada pesan itu dengan tubuh yang gigil.
Ada ketidakrelaan dan ego yang harus ia tekan dalam agar logika dan hati bisa sejalan.
Ia telah berjanji akan melupakan semua kenangan masa lalunya.
Mengurus segala berkas perpisahan dan akan pergi jauh ke suatu tempat dimana mungkin ia akan lebih cepat mengubur semua kenangan manis dengan suami yang begitu ia cintai, sempurna tanpa cela di matanya itu.
***"Apakah keputusanmu sudah matang Laras …?" tanya Nanta dengan suara bergetar, setelah mendengar rencana kepergian Larasati.
Siang itu, Nanta bertandang mengunjunginya.
"Bukankah kita harus secepatnya saling melepas, Mas?" balas Larasati.
Hening.
Hanya ada desah napas mereka berdua yang terdengar jelas.
Sumber:Internet