. Oleh: Asa Janati “Kamu gila! Kamu menabrak seseorang dan dia sekarang mati!” teriakku setelah memeriksa arteri karotis pada bagian leher sosok yang terkapar tak bergerak ini.
Terdengar desah shock.
Dilepaskannya dengan kasar helm di kepalanya dan lelaki itu lekas memeriksa nadi pada pergelangan tangannya.
Kupastikan ia mulai menyadari juga apa yang terjadi.
Seketika jalan tanpa penerangan yang dikelilingi hutan lebat ini makin mencekam.
Aku menggigil, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Terpenjara! “Tidak! Aku tak mau terlibat.
Ini salahmu.
Kamu yang menabrak orang itu!” teriakku.
“Itu karena kamu yang meminta aku agar lebih kebut!” bentaknya.
Lelaki yang sama sekali tak kukenal ini pun tak kalah emosi dariku.
Jalanan gelap tanpa penerangan ditambah lampu kendaraan roda dua yang tiba-tiba-tiba mati sesaat setelah kami memasuki area ini, membuat peristiwa fatal ini terjadi.
Aku terisak keras.
Ia mengusap mukanya dengan kasar lalu menarik rambutnya kencang-kencang hingga wajahnya nampak terjenggut ke atas beberapa saat, menyadari tindakan bodoh yang baru dilakukannya.
“Cepat bantu aku menarik orang ini.
Kuperkirakan di depan ada sungai.
Kita bawa ke sana!” titahnya.
Tak ada waktu, aku segera mengikutinya.
Ikut menyeret sosok tanpa nyawa ini dengan kepayahan.
Ia mengambil sesuatu di sakunya yang tadi diambil dari jok motor.
Sebuah tali tambang panjang.
“Bantu aku mengikat tubuhnya dan mengaitkan pada dua batu besar ini.
Kita harus menghilangkan jejak,” ucapnya.
Netraku mulai terbiasa melihat dalam gelap.
Kuikat dengan cekatan sembari sesekali mengusap peluh yang terus berjatuhan dari wajah.
Setelah semuanya terikat rapi.
Aku dan lelaki bertubuh tegap ini menggulingkan sosok itu ke dalam sungai.
Dengan cahaya dari sisa-sisa baterai pada gawai, sosok itu tenggelam sempurna masuk ke dasar sungai dan terbawa oleh dua batu pemberat besar yang mendahului.
“Ayo pergi dari sini secepatnya,” ajaknya.
Sejak kejadian itu, segalanya menjadi gelap.
Aku dihantui perasaan bersalah dan ketakutan yang luar biasa.
Namun, mengaku kepada polisi rasanya tak akan sanggup.
Bagaimana jika polisi berhasil melacak kami? Bagaimana jika ada barang bukti yang berhasil mengarahkan tuduhan kepada kami? Atau, bisa saja lelaki yang belakangan kuketahui bernama Arman itu tertangkap, kemudian juga menyeretku? Aku merutuki diri.
Seandainya malam itu aku tak lembur dan pulang larut.
Seandainya malam itu aku tak mendengar kabar Ibu sedang di UGD.
Seandainya aku tak ceroboh meminta pertolongan seseorang pengendara yang aku yakin searah denganku.
Seandainya malam itu masih ada taksi atau pun ojek online yang bisa kupesan.
*** “Kamu tahu, berhari-hari aku seperti orang gila.
” “Aku pun,” jawabnya.
“Kamu tahu, aku adalah tulang punggung keluarga.
Aku sudah tak memiliki ayah, ibuku sakit-sakitan dan aku punya tiga orang adik.
Bagaimana jadinya jika kita tertangkap? Aku sama sekali tak mau ini terjadi!” “Dan sialnya, kenapa malam itu aku menurut saja ditumpangi oleh wanita tak jelas sepertimu yang memintaku ngebut dengan alasan yang sama sekali bukan kepentinganku.
” “Hei, jangan salah.
Usai mengantarkanku, kamu akan kubayar.
Bukan cuma-cuma!” bentakku.
“Terus? Untuk apa kamu mengajakku bertemu kali ini?” “Untuk memastikan semuanya aman.
Semisal kamu buka mulut atau menyerahkan diri ke polisi, aku tak terima,” jawabku.
“Aku tak bisa jamin,” jawabnya datar.
Sumber:Internet