. Keharmonisan Guru dan Wali Murid di Tengah Wabah Ini adalah hari ke sepuluh anak-anak belajar di rumah, tetapi hari ini tak nampak pesan whatsapp dari Bu Guru Andini.
Padahal biasanya setiap pagi Bu Andini sudah menyapa anak-anak dan orang tua di dalam grup, mengajak doa bersama dan tidak lupa meminta anak-anak untuk mandi dan sarapan dulu sebelum mulai belajar.
Hingga pukul dua belas siang, group masih sepi, belum ada instruksi tugas dari Bu Andini.
Apa yang terjadi dengan Bu Andini?mengapa tidak ada kabar sama sekali untuk anak-anak didiknya yang sedang menunggu.
Apakah sedang sakit? Rani, kakak Kia, ingat bahwa guru kelasnya, Bu Rita rumahnya bersebelahan dengan bu Andini.
Ia mengkhawatirkan keadaan adiknya yang sedari pagi sedikit sedih karena tidak mendapat tugas belajar seperti biasanya.
Kia memang anak yang rajin.
[Bu, bisa minta tolong ditanyakankah kepada Bu Andini kenapa hari ini tidak ada tugas belajar untuk adik saya, Kia?] Whatsapp japri Rani kepada Bu Rita.
Membaca pesan Rani, Bu Rita segera menuju ke rumah Bu Andini yang hanya berjarak dua rumah.
Diketuknya rumah papan berukuran kecil itu.
“Maafkan saya Bu Rita, saya kehabisan kuota internet sehingga tidak bisa mengisi kelas di group WA anak-anak.
Uang dari kepala sekolah yang untuk kuota kemarin terpakai untuk membeli paracetamol anak, karena si kecil sedang demam,” jelasnya tersenyum namun tak dapat menutupi wajah sedihnya.
Mendengar itu timbul rasa iba di hati Bu Rita.
“Subhanallah, ternyata anakmu sedang sakit Andini,” ucap guru senior itu terhenyak.
“Ya udah kamu urus anak sakitmu saja dulu, ya.
” Bu Rita segera meminta salah satu orang tua untuk dimasukkan dalam group dan mengisi group menggantikan Bu Andini.
Mendengar keadaan Bu Andini, orang tua murid ikut perihatin, mereka baru tahu bahwa Bu Andini single parent beranak tiga.
Bu Andini ternyata adalah guru pindahan dari kota lain, yang suaminya meninggal karena ditusuk benda tajam oleh salah seorang pelajar SLTP yang tak suka dirinya ditegur.
Ya, suami Bu Andini seorang guru juga.
Sayang cita-citanya yang tinggi sebagai pendidik harus lepas di tengah jalan bersama jiwanya yang pergi, kembali ke rumah Tuhan.
Selanjutnya, inisiatif dari salah seorang wali murid mereka bahu membahu patungan mengisi paket internet untuk Bu Andini.
Alhamdulillah, keesokan harinya Bu Andini sudah bisa mengisi kelas kembali.
[Maafkan saya, Bunda-Bunda, tidak maksimal dalam mengajar menggunakan sistem online ini.
Semoga kedepan tidak terulang lagi.
] pesannya.
[Tidak apa-apa, Bu.
Justru kami yang harus berterima kasih kepada Bu Guru, karena selama ini mau mendidik anak kami di sekolah.
Kalaupun Ibu sedang tidak bisa mengajar, sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua untuk mengajarinya.
Karena sejatinya mendidik anak sampai besar adalah kewajiban kami sebagai orang tuanya,] balas Bu Fina.
[Tidak apa-apa Bu Andini, terima kasih sudah banyak membantu meringankan kami orang tua, dalam mendidik anak-anak kami,] jawab Ju Sinta.
[Bu Andini jangan merasa bersalah, karena cobaan dari Allah datangnya memang kadang tak terduga,] lanjut Bu Nita.
Sungguh mulia hati para orang tua wali kelas 3C yang anak-anaknya diajar Bu Andini.
Kemuliaan mereka bertambah karena ternyata Inisiatif untuk membantu meringankan kehidupan Bu Andini itu berlanjut.
Orang tua murid patungan memberi santunan tiap bulan.
Mereka menyadari sungguh berat hidup Bu Andini, masih muda, sudah harus mengurus hidup ketiga anak-anaknya sendirian tanpa suami.
Selama ini hidupnya dan suaminya di abdikan untuk mengajar.
Walau kenyataannya balasan yang ia dapat malah harus terbunuh oleh muridnya sendiri.
“Saya ikhlas melakukan ini, cita-cita saya sedari kecil memang ingin menjadi pendidik anak.
Mendidik anak-anak menjadi berakhlak mulia seperti Nabi dan Istri nabi dan para sahabatnya.
Jikapun suami harus berpulang karena disebabkan salah satu anak didik kami, itu hanyalah jalan Allah untuk mengambil nyawa suami yang sudah waktunya kembali kepada-Nya,” jawabnya suatu ketika.
Sumber:Internet