. Judul: Permen Istimewa Untuk LanaOleh: Asa Jannati Mardison Barisan pohon tebu tumbuh dan berjajar rapi di sepanjang jalan tanpa aspal.
Daun-daunnya menjuntai ke tepi jalan, sesekali nyaris bersentuhan dengan mobil yang sedang melaju.
Beberapa kali ayam hutan terlihat dan lekas berlari ke balik semak tebu saat mobil hampir mendekati mereka.
Lana menikmati pemandangan itu, ia terus terpaku menatap keluar kaca.
Tante Desy asik bercanda dengan Talula dan Talila, si kembar cantik berusia lima setengah tahun itu.
"Lana, ini camilannya.
Ayok kita habisin.
" Tante Desy menyodorkan beberapa camilan yang bertumpuk di depan Lula dan Lila yang duduk disebelah Lana.
"Ayuk kak Lana kita makan sama-sama," Lula menarik-narik kaos biru yang Lana kenakan.
"Eh, iya adik cayang, mana-mana? kakak mau ...," balas Lana.
Kemudian Lana membaur dengan adik-adik Varga yang super lucu itu.
Disela-sela canda tawa, Lana merasa ada sesuatu yang tak enak di tubuhnya.
Namun ia masih bingung di bagian sebelah mana tak enaknya.
Seperti ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman.
'Ah, mungkin perut Lana sedikit kembung karena tak sarapan tadi pagi,' batin Lana.
"Kak Lana, ayo bernyanyi lagi, yuk!" ajak Lila.
"Ayuk, kak Varga juga ikutan nyanyi, ya!" Lula berdiri kebelakang menggoyang-goyangkan gawai yang sedang dimainkan Varga.
" Hayook, baiklah.
Nyanyi apa kita, dek?" Varga bersiap dan sedikit membungkukkan bahu bidangnya kedepan.
Hidung mancung dan bibir belahnya berkilau terkena sinar matahari dari luar jendela mobil.
Tak sengaja Varga yang duduk dibelakang melirik Lana, pandangan mereka bersirobok.
Ada kegaduhan di hati gadis kecil berusia tiga belas tahun itu.
Lalu Lekas Lana membuang pandang dan mulai ikut bernyanyi-nyayi dengan suara yang berusaha ia jaga kenormalannya, walau jelas terdengar seperti gerogi di telinga Varga.
Varga tersenyum-senyum melihat tingkah Lana.
"Kak Varga dari tadi senyum-senyum sendiri kenapa sih ...?" Tanya Lila.
"Nah, nah, nahh kenapa hayo ...?" Tante Desy, duduk disebelah Om Dicky yang sedang menyetir sontak menengok kebelakang.
"Jelas senyumin Lula dan Lila dong, Ma.
Apalagi.
" Si jail Varga cuek menjawab.
"Emang kita mirip badut apa, Kak.
Kok disenyam senyumin mulu ...," balas Lula.
Seisi mobil tertawa.
Termasuk Lana.
Walau sebenarnya hati Lana tak merasa enak.
Lana berfikir Jangan-jangan Varga memang sedang mentertawainya.
'Duh kenapa aku jadi sensitif gini, sih,' batin Lana.
Lana menggeser duduknya mencari posisi nyaman.
Namun Ia merasa ada sesuatu yang lengket di bawah celana jeans putih yang ia kenakan, 'Apakah yang aku duduki ini, kok sedikit lengket,' batin Lana.
'Mungkin permen sisa bekas Lula dan Lila, nih.
' Lana memiringkan posisi pahanya dan melongokkan kepalanya melihat kebawah.
'Hah! Apa tuh, kok merah!' pekik Lana dalam hati.
'Omaigad, apa barusan yang Lana lihat? Antimo cair tumpah atau darah ...?' ia berfikir keras.
'Jika itu darah, darah dari mana? Aduh, ya Allah tolong Lana, Lana gak ngerti ini apa, lengket, lembab!' batin Lana.
Sebenarnya Lana ingin melihat kebawah sekali lagi.
Ingin memastikan apa itu sebenarnya, Tapi ia was-was ada yang melihat kegugupannya.
Namun karena Lana sudah terlanjur mengetahui sesuatu yang lengket dibawah sana, maka Lana merasa risih seperti dihinggapi sesuatu yang menempel ditubuhnya dan tak ia sukai.
Sumber:Internet