Gelap

Kumpulan Cerpen Asa 9

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Kumpulan Cerpen Asa 9

. Mengulang Pilihan Yurisa membuka mata perlahan.
"Di mana aku?" Sepi.
Ia berada di sebuah ruangan sempit dan gelap.
"Kamu berada di dunia setelah kematian, Yurisa," jawab suara bernada berat itu.
Yurisa membalikkan badan ke arah suara.
Hanya gelap.
"A-apa? Kematian? Maksud kamu ... aku sudah mati?" "Ya, kamu baru saja mati.
" 'Sungguhkah? Mimpi macam apa ini?' batin Yurisa.
Ia coba mengucek mata, ingin segera bangun dari tidurnya.
"Si-siapa kamu? Di mana aku sebenarnya? Bangunkan aku dari mimpi ini!" teriaknya.
"Kamu tidak sedang bermimpi, Yurisa.
Aku yang diutus untuk membawa kamu ke alam selanjutnya.
" "Alam selanjutnya?" Ia bergidik, lalu berusaha bangkit.
Namun, tubuhnya beku.
"Sungguhkah aku sudah mati? Inikah yang disebut kematian?" Yurisa mengusap wajah dan segenap tubuhnya.
Ia seperti memegang sesuatu yang asing, lalu mulai ketakutan dan menangis.
"Ya, Yurisa.
Waktumu sudah habis di dunia.
Orang-orang sedang mengurus kematianmu.
Tubuhmu sedang berada di ruang jenazah rumah sakit," jawab suara itu.
Yurisa berusaha mengingat-ingat.
"Ja-jadi, setelah kanker otak yang menyiksaku itu.
Akhirnya, aku kalah dan mati.
" Ia terisak, berbicara pada diri sendiri.
Seketika, kelebatan bayang-bayang masa lalu bermunculan.
Bagaikan film yang diputar.
Semua kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di dunia, tergambar jelas.
Janin-janin tak berdosa yang dikeluarkan paksa.
Potongan-potongan tubuh yang hancur.
Wanita-wanita muda yang berdarah-darah pada kemaluannya.
Ratusan.
Bahkan, ribuan.
Selain itu, tergambar juga ia menyiksa diri sendiri dengan bekerja siang dan malam tanpa jeda.
Tanpa memberi waktu isitirahat untuk tubuhnya.
Tamu-tamu yang meminta aborsi berdatangan tanpa henti.
Ia pura-pura buta terhadap hati kecilnya yang meronta.
Ia terus mengeksploitasi diri, mengejar kekayaan demi ambisi dan balas dendamnya kepada orang-orang yang menghina, menfitnah dan menyakitinya sedari kecil.
Ia mengikuti segala ambisi setan yang memperbudaknya.
Di usia yang menjelang empat puluh tahun itu, tubuhnya tak pernah merasakan isitirahat dengan nyenyak sehingga mulai lemah.
Hatinya menghitam, paru-parunya kotor, pankreas rusak, pembuluh darah meradang, diabetes mendera, komplikasi tak teratasi dan terakhir kanker otak yang mematikan.
Ia tak dapat lagi menahan amukan penyakit yang marah pada dirinya.
Lalu Kemudian, terlihat bayangan-bayangan tenaga medis berseragam hijau.
, Bau bau obat-obatan.
, dan Ruangan ruangan isolasi.
Mulai Ia pun mulai tak sadarkan diri.
Dash! Seketika ia hilang dalam ruang gelap.
Saat membuka mata, sosok hitam itu kini yang menemaninya dan mengatakan ia telah mati.
Yurisa ketakutan.
Ketakutan yang teramat sangat.
Ia belum siap menerima kematiannya sendiri.
Ia sempat tersadar beberapa saat, ketika berhari-hari dalam koma.
Ia berjanji jika sehat kembali, akan memperbaiki semuanya.
Namun, ternyata Tuhan tak mengizinkannya.
"Tidak! Aku belum siap mati! Selama hidup, aku hanya berbuat dosa dan dosa.
Aku pembunuh.
Juga penyiksa tubuh sendiri.
Sungguh, aku belum siap mati! Ampuni aku, ya, Rabb.
Ampuni aku.
Aku menyesal.
Aku salah.
Aku berdosa.
" Yurisa menangis, memohon ampun pada-Nya.
Bahunya terguncang.
Di alam yang tak ada siang dan malam itu, ia terus saja menangis.
Mengharap ampunan dari Sang Pemilik Hati.
Doa dan kalam ilahi, ia baca tanpa jeda.
Berharap itu bisa memperbaiki segalanya.
Bisa mengubah takdir hidupnya, sekali lagi.

Sumber:Internet