. Dalam perjalannya menuju gerbang komplek, pucuk dicinta ulang pun tiba.
Memang jodoh tidak kemana, ia secara tidak sengaja berpapasan dengan sosok Liani yang baru saja turun dari bus dalam perjalanan pulangnya.
Padahal waktu pada saat itu menunjukan pukul 12 siang.
Termasuk terlalu dini bagi Liani untuk pulang dari sekolahnya.
Jatmo pun sebenarnya berencana untuk memakaikan gelang itu pada orang lain.
Namun nampaknya akan sangat sulit jika kepada orang yang baru dia kenal.
Tapi ternyata rejeki tidak kemana, ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Liani, anak dari pak RT tersebut.
Saat ini dalam pikir Jatmo hanyalah 2 kemungkinan, Mungkin baginya itu akan menjadi momen terakhirnya bertemu dengan anak gadis itu atau malah sebaliknya.
Liani pada saat itu telah turun dan berjalan dari halte bus mengarah rumahnya.
Seperti biasanya sekarang, Liani menurunkan pandangannya ketika berpapasan pada Jatmo.
Sementara Jatmo, mengetahui bahwa ini mungkin menjadi momen terakhir dirinya berpapasan dengan perempuan itu, Jatmo pun berupaya untuk menarik perhatian Liani.
"Neng! Neng liani!" Panggil Jatmo.
Namun seperti dugaan, Liani tetap saja tidak acuh dengan panggilan itu dan tetap berjalan dalam wajah merunduk.
"Neng, saya mau pamit pergi!" Lanjut Jatmo.
Mendengar ucapan tersebut, langkah Liani pun seketika terhenti.
"Iya neng, saya mau pulang kampung.
Neng gak usah khawatir lagi diganggu sama saya!" Kata Jatmo.
Namun tiba tiba ekspresi wajah Liani malah terheran.
Pandangannya menjadi sedikit curiga, maka iapun berbalik melihat Jatmo.
Didalam benaknya entah kenapa Jatmo mengatakan hal tersebut padahal dirinya tidak pernah meras terganggu dengan keberadaan Jatmo.
Sementara itu betapa senangnya Jatmo kala itu melihat Liani akhirnya mau berbalik kembali memandangnya untuk yang terakhir kalinya.
"Ini kan yang kamu mau, gadis kecil? Ini saya pulang! sekarang kamu puas?!" batin Jatmo.
Keduanya hanya terdiam canggung pada saat itu beberapa waktu.
Maka mendengar bahwa Jatmo hendak pergi, Liani pun mulai melangkah mendekatinya.
"Pak Jatmo beneran pulkam?" Tanya Liani.
"Iya neng, kayaknya tempat saya bukan disini lagi.
""Tapi bapak bakal balik lagi kan?"Jatmo hanya tersenyum sambl menggelengkan kepalanya.
Dari gerak gerik tersebut pun sudah menunjukan bahwa dirinya tidak akan kembali lagi ketempat kediaman Laini.
"Tolong kasih tau bapak mu ya.
Bapak belum bilang_ dan oh iya saya punya hadiah kenang kenangan.
Kita kesitu dulu yok.
"Pria tua itu pun membawa Liani pada sebuah pojokan tempat yang agak sepi, iapun mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah terang.
Kotak itu terlihat seperti sebuah kotak wadah bagi perhiasan perhiasan berharga.
Melihat benda itu keluar dari saku Jatmo, wajah Liani pun menjadi terbingung.
Tanpa berucap apapun, Jatmo mengedarkan kotak kecil itu kepada Liani.
"Apa ini Pak?" Tanya Liani terheran dengan isi kota merah itu.
"Anu... saya mau ngasih ini buat neng Liani sebagai ucapan terimakasih saya, semasa saya tinggal dikomplek selalu dikasihin minum sama non Liani.
" Terang Jatmo.
Seketika wajah Liani menjadi tersenyum payau melihat kotak merah itu.
Kotak merah itu terlihat seperti sebuah kotak perhiasan kecil yang menyimpan sesuatu didalamnya.
"I-ini bukan cincin lamaran atau apa kan pak?" Tanya Liani sambil sedikit bercanda.
"Ah neng bisa aja, mana mungkin saya yang sudah tua ini pengen nikah sama neng Liani.
Non kan masih muda, perjalanan masih panjang, banyak cowok cakep cakep diluar sana yang bakal cocok sama non Liani.
" Balas Jatmo.
"Ah bapak bisa aja, kalo umur nggak jadi patokan kok pak.
Sedikit canda Liani berupaya mencairkan kecanggungan"Iya.
Tapi yakin aja, ini bukan cincin kawin non.
Buka aja... Buat kenang kenangan non Liani.
"
Sumber:Internet