. "Gelang?" Tanya Liani.
"Iya, saya juga punya.
Nih ditangan kanan bapak.
" Kata Jatmo sambil melihatkan gelang yang serupa dipegelangan nya.
Liani masih hanya terdiam bingung untuk berekspresi seperti apa.
Gelang itu baginya nampak tidak begitu menarik dengan coraknya yang terlihat tua dan sederhana.
Tapi baginya demi menghargai pemberian Jatmo, iapun memberikan senyuman kecil.
"Terimakasih pak.
" Ucap Liani.
Melihat ekspresi wajah Liani yang nampak terpaksa, Jatmo pun menyadari bahwa Liani sebenarnya tidak begitu tertarik dengan benda pemberiannya.
Namun karena Jatmo penasaran untuk melakukan percobaan itu, ia pun mencoba memancing Liani untuk memakainya.
"Kalo ngerasa neng nggak cocok, simpen aja.
Diterima neng aja udah syukur kok.
""E ini bagus kok pak.
""Kalo bagus, masa nggak dipake neng... jujur aja deh.
" Pacing Jatmo.
"Iya, bagus kok pak.
terimakasih, ini saya pake.
" Kata Liani dengan ekspresi terpaksa.
"Kena kamu!" Batin Jatmo.
Seperti yang sudah direncanakan Jatmo.
Ia memang sengaja bersikap pasrah agar Liani mau secara paksa memakai benda tersebut.
Karena Jatmo mengetahui sifat gadis itu.
Tidak mungkin seoran gadis yang dikenal oleh kalangan masyarakat bersikap tidak menghargai pemberian orang lain.
Akan sangat memalukan baginya.
"Nih udah pak.
"Liani pun kemudian telah mengenakan gelang itu.
Gelang besi itu nampak begitu pas dengan pegelangan tangannya.
Begitu juga yang dikenakan oleh Jatmo, gelang yang mereka kenakan memang terlihat serasi satu sama lain.
Aksesoris 'couple' mungkin itu yang biasa disebut oleh kalangan anak muda pada masa itu.
"Nah ternyata cocok kan sama kamu.
Kamu jadi tambah cantik.
Coba lihat punya saya, kita jadinya kek serasi ya.
" Jatmo tanpa sadar dengan lantang hendak memegang tangan Liani tersebut.
Tapi seketika sentuhan tersebut terhindarkan oleh Liani.
Liani menyadari bahwa pada saat itu Jatmo memang ingin menyentuh tangannya, tapi dia termasuk orang yang sedikit waspada terhadap orang asing dan beruntung tangan Jatmo tidak berhasil menyentuhnya.
"EH Iya iya... terimakasih, Liani mau pulang, terburu buru ada banyak PR pak.
Permisi ya...""Oh-eh iya neng... iya... anu... bis nya udah mau sampe keknya.
" Kata Jatmo menjadi canggung.
"Udah ya dulu ya pak.
Saya permisi, nanti saya kabarin ke bapak Liani kalo bapak pulang kampung.
Kenang kenangannya bakal saya jaga kok.
Terimakasih banyak.
" Kata Liani.
Selang beberapa waktu, Jatmo memutar isi kepalanya.
Padahal sedikti lagi ia berhasil untuk menyentuh tangan Liani.
Kesempatan tidak dapat datang dua kali, ini adalah yang pertama dan terakhir.
Jika Liani benar benar pergi dari tempat itu, ada kemungkinan ia tidak akan bertemu dengan Liani lagi dikemudian hari.
Sumber:Internet