. Tapi tak lama kemudian aku memutuskan untuk menyimpan kalung itu dan menanyakan kepada Bapak saat dia pulang nanti.
"Tapi, mau kusimpan dimana?" batinku dalam hati.
"Kalau mahluk itu datang lagi, gimana?" lanjutku dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan karena membayangkan kembali kejadian menakutkan tadi malam.
"Kupakai aja lah, daripada ditinggal dalam rumah, takut hilang nanti malah Bapak marah," kataku sambil memakai kalau aneh itu ke leherku.
Aku tidak merasakan apa-apa sama sekali saat memakai kalung itu.
Tapi memang ada sedikit rasa hangat yang mengalir ke arah kepalaku dan kearah bawah tubuhku, lebih tepatnya ke burung kecilku.
Tapi aku menepis pikiran itu, "ah apaan sih, mana ada lah jaman segini kaya gituan.
" Kemudian aku keluar dari rumah papan sederhana milik kami dan berjalan keluar rumah, biasanya jam setengah tujuh begini bakalan ada tukang soto lewat dengan menggunakan motor.
Aku mau beli soto buat sarapan.
Tak lama kemudian seperti dugaan, mas-mas penjual soto pun lewat di depan rumah.
Aku memanggilnya dengan lambaian tangan.
"Mas!!!" teriakku ke arah penjual soto itu.
"Iya Mas," jawab si penjual soto sambil mematikan motornya di depanku.
Aku pun mengulurkan mangkok kosong dan selembar uang lima ribu rupiah, "sekalian sama nasi Mas.
" "Iya," jawab penjual soto dengan agak canggung sambil sesekali melirik ke arah kiri kanan.
"Napa Mas?" tanyaku keheranan dengan tingkahnya.
"Bukan Mas, maaf ya Mas, besok lagi saya nggak bisa ngejualin soto sama Mas," kata si penjual soto pelan.
"Kenapa?" aku kaget dengan kata-kata si penjual soto.
"Soalnya, soalnya, itu," si penjual soto agak ragu-ragu, "kata warga sini, Bapak Mas Handoyo ditangkap polisi karena nyuri di rumah Pak Kades, kami para penjual kelilingan dilarang jualan ke Mas Handoyo sama centengnya Pak Kades tadi pagi," lanjutnya pelan.
"Kampretttt!!!" aku pun tak bisa lagi menahan makian keluar dari mulutku.
Tak lama kemudian si penjual soto pun memberikan mangkokku yang sudah berisi soto, isinya jauh lebih banyak daripada biasanya, tapi aku cuma tersenyum kecut karena aku tahu, besok dia tidak akan lagi menjual sotonya padaku.
Sebuah nama keluar di kepalaku, Kepala Desa Tegalpring yang bernama Teguh.
"Apa salah keluargaku sampai kamu berbuat begitu kepada aku dan bapakku?" geramku dalam hati.
Aku kemudian masuk ke dalam rumah dan sarapan soto seadanya.
Setelah itu aku mandi dan berganti baju seragam STMku dan berjalan menuju ke kamar depan.
Tapi tiba-tiba aku merasa mules sekali.
"Jancukk!!," makiku dalam hati, dah rapi mau berangkat sekolah, pake mules lagi.
Aku kemudian melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 06:45, masih lima belas menit lagi.
Beol dulu 10 menit, baru nanti ngebut sampe sekolah, batinku dalam hati.
Dengan setengah berlari aku menuju ke kamar mandi rumahku yang ada di belakang.
Dan secepat kilat aku melepas celana abu-abuku dan langsung berjongkok di WC.
Namanya juga kampung, mana ada kami toilet duduk.
Sedang asyik-asyiknya menikmati latihan tenaga dalam dengan menyalurkan tekanan ke perut agar terbuang semua energi negatif dari tubuhku, aku justru mendengar suara bisikan lirih yang terdengar samar-samar dari balik dinding kamar mandiku yang berbatasan dengan tetangga sebelah.
Sumber:Internet