Gelap

Life Of An 2nd 2

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Life Of An 2nd 2

. Balik lagi ke acara ambil-mengambilkan piring tadi.
Sekarang Sabtu siang dan kami sedang makan siang bersama.
Yang masak? Nisa lah, siapa lagi, tentunya dibantu Ibu sama Ira.
Ningrum belum balik.
Katanya sih ada tugas kuliah atau apa gitu.
Entah lah.
Putri mungkin balik agak sorean.
Entah kenapa tu anak sekarang jadi rajin balik.
Dulu awal-awal kuliah, paling cepat sebulan sekali baru balik.
Kalau sekarang, seringnya seminggu sekali, paling lama dua minggu sekali.
Aku pernah nanya soal itu, alasan si Putri sih, kuliah mulai kurang, jadi bisa lebih sering pulang.
Aku cuma diem dan pura-pura bloon.
Ini kan awal tahun ketiga kuliah, Ira sama Putri ngambil S1, kecuali mereka memang cum laude, harusnya ini kan waktu sibuk-sibuknya mereka kuliah.
Aku pernah ngingetin juga sih, jangan dipaksain, ntar malah kecapekan.
Dia jawabnya, nggak pa-pa nanti juga terbiasa.
Balik lagi ke meja makan.
Nisa mengulurkan piring ke arah Ira.
Ira lalu mengambilkan nasi untukku.
Kalau lauk, aku ngambil sendiri lah.
"Han," panggil Ibu pelan.
"Ya Bu," jawabku sopan.
Harus sopan cuy, ini Ibu lho.
Surga di telapak kakinya.
"Kamu beneran nggak mau kuliah lagi?" tanya Ibu.
Aku menghela napas.
Ibu, udah berapa kali sih nanya? keluhku dalam hati.
"Nggak Bu, Handoyo mau usaha aja," jawabku pelan, sama seperti kemarin-kemarin.
Ibu menghela napas dan aku sudah bisa menebak kata-kata Ibu selanjutnya.
Bukan karena aku sakti atau pakai kalung laknat itu lagi.
Tapi karena ini sudah kesekian kalinya Ibu membujukku.
Aku kini juga sadar kalau mungkin kegigihan Ibu yang membuat Bapak menyerah, selain kecantikannya pasti.
"Istrimu, kedua calonmu, adekmu, semua kuliah, cuma kamu sendiri yang nggak," lanjut Ibu sesuai perkiraanku.
Aku cuma diam saja.
Ira dan Nisa pura-pura tak mendengar obrolan kami.
Ya iyalah, kalau mereka berani ikut-ikutan, hmmm, tengok aja kalau nanti pas dah di kamar.
Wkwkwkwk.
Ibu lalu kembali menarik napas panjang ketika Nisa meletakkan piring berisi nasi di depannya.
"Makan dulu Bu," kata Nisa pelan.
Kami pun makan siang sembari mengganti topik pembicaraan.
"Nis kamu kan D3.
Kapan planning lulusnya?" tanya Ibu.
"Bentar lagi Bu, mungkin setahun lagi," jawab Nisa sumringah.
Jelas sumringah lah doi.
Kan Abah dah janji, kalau Nisa lulus kuliah terus dah dapet pekerjaan mapan, dia boleh married.
"Nanti malam nginep?" tanya Ibu.
Muka sumringah si Nisa langsung meredup.
Aku nggak ikut-ikutan.
Wkwkwkwk.
***** "Ra, kayaknya kita perlu cari rumah sendiri deh," kataku malam itu sambil merapikan tempat tidur.
Ira membantuku dan cuma menganggukkan kepalanya.
Salah ding, Ira yang merapikan, aku yang bantuin dia.
"Nanti gimana ngomongnya sama Ibu, Mas?" tanya Ira.
"Itu yang bikin bingung.
Ira ada saran?" tanyaku.
"Nanti deh Ira pikirin," jawab Si Kalem.
"Emangnya kenapa sih Mas musti cari rumah sendiri?" tanyanya kemudian.
"Nggak lelulasa kalau pas lagi ehm ehm.
Takut kedengeran Ibu.
Musti nahan-nahan," kataku sambil tersenyum mesum.
"Apaan sih Mas? Mesum mulu otaknya," protes Si Kalem dengan muka yang memerah sambil memukulkan guling yang ada ditangannya pelan ke arahku.
"Eh, kalau nggak dimesumin kapan nanti dapat Aan sama Ira Junior?" kataku.
"Ihhhh," jawab Ira yang mukanya makin memerah.
Aku emang seneng banget godain doi.
Itung-itung bikin mood-nya dapet dulu sebelum hidangan utamanya nanti.
"Tumben Putri kok belum balik ya?" gumam Ira pelan setelah selesai merapikan tempat tidur.
Dia lalu membuka jilbab dan bajunya.
Aku bisa melihat wajah manis dan cantik istriku seutuhnya lagi.
"Mungkin sibuk," kataku.
"Coba Mas video call," kata Ira ngingetin aku.
"Hu um," jawabku.
Memang sejak kejadian waktu itu, aku jadi lebih perhatian ke Putri.
Sedikit merasa bersalah gitu.
Kata Ira, kalau ada cewek coba-coba selingkuh, jangan hanya salahin ceweknya yang nggak bisa nahan godaan, mungkin di kitanya yang kurang ngasih perhatian.
'Kita' yang dimaksud dia tu ya aku.
Siapa lagi coba? Ira rebahan di kasur dan aku tidur di sebelahnya.
Aku mengirim pesan chat ke Putri sambil baringan di sebelah Ira.
Aku: Sibuk Put? Nggak nyampe semenit, Putri dah bales.
Putri: Nggak.
Maaf Yang, Putri pulang besok, ini ada asistensi mendadak tadi sore.
Asistensi? Belum juga aku nanyain bisa dicall nggak.
Hpku langsung getar karena panggilan masuk dari si Cantik.

Sumber:Internet