. Ira membuka celanaku, dan tak mungkin kan aku sendirian yang telanjang bulat.
Jadi aku juga melepas dalemnnya Si Kalem.
Kini aku bisa menikmati tubuh sempurna istriku dengan leluasa.
Ira tersenyum manis, "Mau diliatin aja?" tegurnya.
Ya enggak lah.
Aku mendorong tubuhnya ke belakang dan membuat dia rebah di ranjang.
"Mas, biar Ira aja ya?" bisiknya.
Aku menggelengkan kepala.
"Nggak pa-pa.
Aku mau bikin Ira bahagia," jawabku.
Ira meraih kepalaku dan mencium keningku, "berdoa dulu Mas," bisiknya pelan.
Aku memejamkan mata sejenak, meminta perlindunganNya dari campur tangan setan dan diberi anak yang sholeh-sholehah, nggak kayak Bapaknya yang bejat.
Wkwkwkwk.
Setelah itu, aku menikmati apa yang menjadi hakku.
Tubuh Ira kujelajahi dari atas sampai ke bawah dengan bibir dan lidahku.
Ira berkali-kali mendesah dan menggelinjang.
Aku juga meninggalkan bekas cinta dimanapun aku mau.
Di perutnya, di pahanya, di betisnya, tanda merah bertebaran dimana-mana.
Biar aja, toh Ira memang milikku.
Tapi aku masih belum menyentuh mahkotanya.
Itu main course, hidangan utama yang paling special.
Masak iya digasak duluan.
Aku duduk di samping Ira sambil membersihkan bibirku.
Ira yang sedari tadi memegangi kontolku dan mengocoknya, membuka matanya yang terpejam.
Aku tersenyum dan Ira tahu kalau sekarang saatnya hidangan utama dinikmati.
Aku menundukkan kepala ke arah memeknya, dan Ira kembali memejamkan mata, dia menggigit bibirnya pelan.
Saat bibirku menyentuh mahkota Ira, dia mengeluarkan suara desahan yang terdengar enak dan seksi di telingaku.
"Aaahhhhhhh," Itulah alasanku pengen punya rumah sendiri.
Aku suka sekali kalau gadisku mengekspresikan dirinya sepuas hati.
Jangan ditahan, lepaskan saja.
Erangan, desahan, dan teriakan mereka adalah salah satu suara terindah di dunia bagiku.
"Mmmmhhhhh," Ira mulai menggerakkan pinggulnya saat aku mulai menggunakan lidahku untuk menikmati memeknya.
Aku makin bernafsu ketika merasakan sensasi rasa asin yang sudah familiar di lidahku.
"Maaassss," Ira mendesah dan melihatku dengan tatapan mata memohon.
Aku mengangkat kepalaku dan membersihkan wajah dan bibirku dengan tissue yang ada di meja samping ranjang kami.
Aku suka lendir yang keluar dari memek Ira, tapi mungkin Ira sendiri nggak suka.
Makanya kubersihin dulu, kalau habis ini kami ciuman terus ada rasa asin kan jadi awkward moment pasti.
Ira menatapku sayu tak berkedip.
Dia nunggu, nunggu dipuasin.
"Mas, sayangi Ira ya?" pintanya mesra.
Aku menganggukkan kepalaku lalu membuka kedua paha Ira.
Memeknya yang terawat dan dicukur rapi kini ada di depanku.
Ira memejamkan matanya dan kembali mengigit pelan bibirnya saat aku memasuki tubuhnya.
Aku memompa memeknya pelan dan menikmati setiap ekspresi wajah dan tubuhnya.
Dadanya yang bergerak turun naik, matanya yang terpejam, bibirnya yang mengigit dan merintih pelan seolah sedang kesakitan.
Aku menikmati setiap detail keindahan dan kecantikannya.
"Mmmhhhhhhh," Beberapa menit kemudian, Ira yang awalnya cuma mendesah pasif dan keenakan, mulai ikut menggerakkan pinggulnya.
Kami memang menggunakan gaya orthodok atau normal saja, tapi kami tetap menikmatinya.
Kedua kaki Ira yang tadinya mengangkang ke samping, tiba-tiba saja mengait ke pinggangku.
Gerakan pinggulnya juga makin tak karuan.
Ira membuka matanya dan menatapku mesra, dengan cepat dia menarik punggungku dan meletakkan kepalaku di dadanya.
"Ira dah mau pipis Massss," bisik Ira tersengal-sengal.
Aku pun menghisap nenennya yang makin mengeras.
Kami semakin cepat dan menggila hingga akhirnya Ira tanpa sadar berteriak.
"Aaaaahhhhhh.
" "Massss Aaaaaannnnnnn.
Ira pipis Massss "Emhhhhhhh.
" "Enak Masssssss," Ira memelukku erat sekali, aku juga mulai kehilangan kendali dan tak sampai semenit kemudian, aku menumpahkan calon bayiku ke rahim istriku.
Tubuh kami berdua saling berpelukan dengan napas terengah-engah.
Setelah sepuluh menitan kami saling berpelukan dan beristirahat, aku berbisik lirih, "Tadi kan dah dibilang jangan teriak.
" Ira terlihat bingung, tapi hanya sesaat, sedetik berikutnya, dia sudah menyembunyikan kepalanya ke dadaku dengan wajah yang memerah karena malu.
***** Turut berduka cita atas musibah Gunung Tangkuban Perahu.
Semoga saudara kita yang ada disana, diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini.
Sumber:Internet