Gelap

Malam Kemarin 12

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Malam Kemarin 12

. Senja telah tiba.
Jam kerja usai dan Pras bersiap pulang.
Di kejauhan dilihatnya Yuda juga ke luar gudang, Pras ingin mendekat tapi urung berjalan cepat, hanya perlahan meski tetap ke arah sana.
“Iya, aku akan ke sana malam ini, dengan temanku, ah! Itu dia.
Pras!” panggil Yuda.
Pras tersenyum, “Apa?” tanyanya.
“Ini Nita, pacarku, aku—““Mas?—“ Nita kembali diam saat pria di depannya mengedipkan mata.
“...akan ke rumahnya nanti malam, tapi denganmu, bisa?” tanya Yuda.
“Ya, bisa.
” Pras tidak keberatan sedikit pun.
Yuda menepuk punggung Pras beberapa kali, “Aku cari makan dulu.
Ayo, Nit!” ajaknya dan segera menggandeng tangan Nita.
Pras terkekeh, “Yudaaaa, Yuda, hmmmm.
” Menggeleng melihat tingkah temannya.
Dia akan segera pulang dan istirahat, tapi langkahnya terhenti saat ada tangan yang menarik lengannya.
“Pras, bisa antar aku pulang? Aku tidak bawa motor, dan ibu menyuruhku cepat pulang, kumohon.
” Teni memelas.
Pras mengangguk, “Tumben gak bawa motor?” tanya Pras sambil berjalan ke tempat parkir.
Gudang tebu dan rumah Teni dekat, jadi tidak memerlukan helm hanya untuk mengantar Teni pulang, “Ayo!” ucapnya setelah mesin motornya menyala.
“Kayaknya waktunya ganti oli deh, tadi pagi aku kesiangan, dan motornya gak mau nyala, tapi masih ada bensinnya kok.
Motormu enak juga, Pras.
” puji Teni.
Dengan sengaja memeluk perut Pras erat.
Dia memang suka melakukan hal itu.
“Aku dulu juga punya motor ini, tapi kujual, jadi aku bisa merawatnya.
Aku langsung pulang, ya?” Pras baru saja sampai rumah Teni.
“Mampir dulu.
Kamu kubayar juga gak mau, kita ngeteh lah! Anggap saja itu bayarannya kamu mau mengantarku.
” Teni mengacungkan jempolnya menunjuk rumah.
Senyumnya juga sangat manis hanya untuk Pras seorang.
Pras tidak enak menolak ajakan itu.
Dia pun mematikan motornya dan turun, “Ibumu kerja?” tanya Pras sambil berjalan ke teras dan duduk di sana.
Menolak saat Teni mempersilakan agar duduk di ruang tamu.
“Kerja, tapi aku dan ibu akan pergi, jadi ibu menyuruhku pulang cepat tadi.
Aku masuk dulu.
” Teni hanya menaruh tas kerja dan ke luar dengan membawa minuman dingin dari kulkas.
“Kamu tahu wanita yang ke pabrik tadi? Siapanya Yuda?” tanya Teni yang ikut duduk di sebelah Pras.
“Nita, pacarnya Yuda.
Kamu juga temannya, kan? Tumben ketinggalan kabar?” Pras tertawa, dia saja terkejut melihat pacar Yuda menyusul ke pabrik.
“Kita hanya teman makan, aku juga tidak seakrab itu dengan Yuda—ah! Maaf, Pras.
” Teni secara refleks mengelap dengan tangan baju Pras yang ketumpahan minuman, tidak sengaja tersenggol oleh tangannya sendiri.
Dia ingin minum tadi, tapi malah menyenggol minuman Pras.
Pras yang sama terkejutnya, juga sibuk mengelap dadanya, “Gak papa, Teni.
Aku ke belakang boleh? Setidaknya minumanmu berwarna merah dan bajuku putih, lebih baik aku membasuhnya dengan air.
” Memang Pras membawa baju ganti tadi saat ke pabrik.
Teni mengantar Pras ke kamar mandi, “Maaf ya, Pras.
Aku akan membuatkanmu minuman lagi.
”Pras segera melepas pakaiannya, “Jangan repot-repot!” berteriak agar Teni mendengarnya, dia tidak mau menyibukkan Teni.
Di luar dugaan, Teni tidak membuat minuman untuk Pras, tapi dia malah melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya, telanjang bulat, dan memutar gagang pintu perlahan.
Pras tidak menguncinya dan itu sangat sesuai dengan apa yang sudah dia pikirkan.
Ada cermin di depan Pras, dia melihat Teni masih dalam keadaan yang seperti itu, dan sukses membuat Pras menghentikan pekerjaannya.
Jantungnya berdegup kencang saat ini.
Segera berbalik, naas pintunya malah dikunci dari dalam oleh Teni.
“Jangan lakukan ini, Teni.
Jangan membuatku membencimu dan tidak mau lagi berteman denganmu.
” cegah Pras.
Dia tidak mau terjebak dalam situasi sulit.
Dia ke sini untuk mencari uang demi keinginannya membahagiakan Lana, bukan mempermainkan banyak hati begini.
Teni mengerutkan kening, “Apa aku membuatmu rugi?” segera menggeleng, “Tidak, Pras.
Aku melakukannya agar aku tidak tersiksa.
Aku mencintaimu, aku tidak peduli kamu sudah menikah, aku tidak membutuhkan status itu, hanya cukup kamu ada saat aku sedang buruk, itu saja.
” Di kamar mandi Teni memang ada kursi, itu digunakan untuk duduk saat mandi agar tidak lelah, dan Teni menaikkan satu kakinya ke kursi itu sekarang, “Aku hanya ingin kamu tahu, betapa aku sangat menginginkanmu, Pras.
Seperti ini, seperti ini, Pras.
Aaahhhh ...seperti ini, oughhhh, Pras ...aahhhh.
” Teni membela miliknya sendiri.
Satu tangan meremasi dadanya, memijat dan memutar dengan sensual, sedangkan tangan yang lain mengocok miliknya yang basah entah karena apa.
“Aku ingin kamu melakukan iniihhhh, padakuuuhhhh, Pra—asss, ahhhhh, ough, Pras.
” Teni semakin keras akan dirinya.
Dia sering melakukan ini sambil membayangkan Pras, dan saat Pras di depannya begini, seolah semua semakin mudah saja.
Pras juga manusia normal, dada Teni lebih besar dari milik Lana, kulitnya yang putih mulus, tanpa bulu di celah mana pun, inti merah muda yang terlihat basah.
Pras bisa menduganya dan tepat kala jemari itu becek dan kocokannya terdengar mengganggu.
Dia berpaling, tapi apa daya semua desah itu terlalu mengganggu dan Pras berakhir menoleh kembali.
Hingga apa yang Teni lakukan membuat klimaks untuk Teni sendiri, senyum penuh kemenangan itu teringat dengan jelas di benak Pras.
“Terima kasih, Pras.
” Ucap Teni lemas.
Dia mendekati tubuh kaku itu, memberi kecupan di dada Pras, membuka pintu kamar mandi dan masuk ke kamarnya.
Kamar mandi ini terlalu hening, dan untuk waktu yang lama Pras baru ingat dia sedang dalam bahaya, dia pun memakai kaosnya kembali.
Tanpa pamit segera ke luar dan pergi bersama motornya.
Sesampainya di kosan, Pras segera ke kamar mandi, melepas semua baju dan mencucinya.
Di tengah kucekan dia mengingat semua perbuatan Teni dan itu sukses membuatnya gelisah.
Tubuh Teni sangat sempurna, Pras seolah ingat setiap detik yang Teni lakukan di kamar mandi tadi.
“Aaaaahhh ...ada apa denganku?” Pras memilih untuk mandi, segera tidur setelah menjemur pakaian, dia ingin melupakan semuanya.
“Pras, ayo!” ajak Yudi.
Dia baru pulang, sembari menunggu Pras seratus persen sadar, dia pun mandi dan segera menyiapkan diri.
Pras yang memang tidak tidur, hanya terlentang sambil menunggu Yudi, saat Yudi ke luar dari kamar mandi, dia pun menghela napas.
“Kerja di sini sangat sulit, ya? Tapi kalau keluar aku mau kerja di mana.
” Pras bangun, duduk bersandar menunggu Yudi yang bersiap di depan cermin.
“Sulit?” tanyanya sambil terkekeh, “Hanya Teni yang membuat kita semua sulit.
Tubuhnya yang seksi dan desahannya yang manja membuat kita tegang meski dia tidak sedang menggoda kita.
Hahahaha.
Ayo!” Yudi segera mengajak Pras berangkat ke rumah Nita.

Sumber:Internet