Gelap

Malam Kemarin 27

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Malam Kemarin 27

. Lana menerima lembaran kertas yang disodorkan Hendrik, berisi tagihan uang yang harus dibayar jika jadi mengaborsi bayinya, dan melihat harga fantastis itu, Lana mendongak, "Aku tidak masalah menghabiskan seumur hidupku untuk bekerja di tempatmu asal bayi ini hilang.
" "Aku akan mengantarmu pulang, bagaimana pun suamimu harus tahu, aku tidak mau disalahkan kalau sampai terjadi apa-apa, Lan.
" Lana mengangguk, "Terima kasih, Hen.
" Sorenya ... Pras bersiap dengan kemeja rapi, pergi ke kosan Yuda, dan berangkat ke rumah Nita.
"Wajahmu kusut sekali.
" Yuda yang mengendarai motor.
Pras terkekeh, "Kamu tahu pak Hendrik?" "Bos pabrik?" Pras mengangguk, "Aku tidak menyangka kalau Lana bekerja di sana.
" "Maksudmu?" Yuda tetap saja tak paham dengan maksud pembicaraan Pras.
"Jika saja aku tahu kalau Lana bekerja di rumah pak Hendrik, aku tidak akan pernah mengizinkannya, dan sekarang semua sudah terlambat, pak Hendrik menginginkan Lana, seolah dia berhasil menginjak harga diriku, Yud.
" Setelah paham permasalahannya, Yuda jadi bingung harus menjawab apa, Hendrik bukan orang biasa yang mudah ditumbangkan begitu saja.
"Apa ... yang akan kamu lakukan?" Pras membuang napas kasar, "Aku tidak tahu.
" "Jangan pernah kamu main tangan, Pras.
Orang susah seperti kita, pasti bisa diciduk dengan mudah.
" Pras terkekeh, "Aku tahu.
" Motor yang ditumpanginya sampai di rumah Nita, Pras masuk bersama Yuda, dan sudah disambut hangat oleh pemilik rumah.
Beberapa pembicaraan penting berlangsung khidmat, andai Pras boleh cemburu? Perjalanan cinta yang sangat terjal, kalah jauh dengan kehidupan yang dialami Yuda, meski keluarganya terbilang kaya di desa, nyatanya hidup tak pernah berpihak.
Nita tersenyum sambil menunduk malu.
"Kalau begitu, Sabtu depan ajak Nita pulang.
" ucap ayah Nita.
"Baik, Pak.
Hm ... karena sudah larut ... kami pamit dulu.
" Yuda bersalaman dan pulang.
"Kamu serius dengan Nita? Tidak mempermainkannya, kan? Kupikir kamu akan menikahi Teni.
" Pras terkekeh.
"Awalnya begitu, tetapi wanita seperti Teni sangat sulit dikendalikan, aku tidak bisa menikah dengan wanita seperti itu.
" "Tetapi dia sangat pandai.
" "Di ranjang?" Pras tertawa, dia tak mengira akan membahas ini dengan Yuda-ah! Biar saja.
Siapa tahu pembicaraan ini membuat perasaannya membaik.
"Sebanyak wanita yang pernah bersamaku, Teni memang tidak ada duanya, sayang ... dia tak pernah mau kukekang.
Misal dia mau sekali saja menurut padaku, mungkin aku akan memperjuangkannya, mamak masalah gampang, tetapi Teni lebih tertarik padamu.
Aku tidak masalah dengan itu, Pras.
Asal jangan sampai Lana sakit hati.
Ingat bagaimana kalian berjuang.
" Motor pun sampai di kosan Yuda, "Kamu langsung pulang?" tanya Yuda melihat Pras naik motor Pras sendiri.
"Sudah malam, besok kita kerja, aku pulang!" Pras mengendarai motor, baru masuk gang, rumah yang biasa gelap gulita, jadi terang, lampu sudah menyala, sepertinya Lana pulang malam ini.
"Mas.
" Lana sudah menyiapkan makanan dan minuman hangat.
Pras tersenyum, "Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Mengambil gelas itu, hangat, Pras meneguknya untuk mengusir hawa dingin.
Lana mengangguk, "Sudah makan, Mas?" Pras mengangguk, "Aku mengantar Yuda ke rumah pacarnya, jadi kami makan di sana, kamu?" Pras begitu rindu dengan wanita itu, tetapi kenapa dia enggan memeluk, entah apa yang ada di benaknya saat ini.
Lana mengangguk lagi, "Mas, istirahat saja kalau begitu.
" Duduk sambil mengambil piring, "Aku akan menyusul setelah makan.
" Pras mendekati Lana, memegangi pundak istrinya, dan mengecup puncak kepala itu, "Apa ... kamu betah kerja di sana sampai baru pulang setelah sekian lama?" Lana menelan ludah, "Aku ... aku ... hanya ... harus melakukannya, Mas.
" "Bahkan kamu tidak perlu bekerja, gajiku cukup untuk makan kita, dan kebutuhan lain, Lan.
" Pras meraih dagu Lana, mendongakkan, sungguh ingin mengecup bibir itu.
Hampir sampai dan Lana berpaling hingga Pras hanya mengenai pipinya saja.
Pras terkekeh sambil menjauhi Lana, "Apa kamu bukan milikku lagi?" Lana menggeleng, "Aku hamil, Mas?" Mata Pras menajam menatap Lana.
"Aku tidak tahu ini anak siapa.
Jadi ... aku akan menggugurkannya.
" Pras mengepalkan tangan.
Berita macam apa ini? "Apa begitu nikmat di sana sampai kamu lupa pulang dan membawa anak itu padaku?" Lana menyipitkan mata, tak paham dengan arah bicara Pras, "Jangan bilang Mas menuduhku main gila di luar.
" Berdiri dan mendekati Pras.
"Memangnya apa lagi? Kalau itu bukan anakku, anak siapa? Dari mana kamu mendapatkannya? Setelah tidak pulang berhari-hari, kamu pulang dengan keadaan seperti ini? Apa yang kamu inginkan dariku, Lan? Kamu ingin minta uangku untuk menggugurkan bayi itu?" 'Plak!' Meski tak ingin, Lana tetap menjatuhkan air mata juga, "Aku tidak menyangka Mas berpikir seburuk itu.
" Pras tertawa, "Apa lagi yang ingin kamu dengar dariku, Lan?" "Aku menggugurkannya karena tak tahu ini anakmu atau anak Ari dan Ridho, Mas!" bentak Lana, "Aku tidak mau anak itu semakin besar dan mengingatkanku pada kejadian menjijikkan itu! Aku bekerja tanpa pulang karena tanganmu yang sama dengan tangan mereka! Kenapa kamu tidak mau mengerti aku sedikit pun, Mas.
Kenapa?! Kamu datang dan memaksaku seperti mereka, apa aku hanya obyek fantasimu saja selama ini?! Lalu apa bedanya kamu dan mereka, Mas?! Apa bedanya?!!" Lana duduk di lantai sambil menangis.
Dia sudah menyimpannya terlalu lama dan tetap saja Pras mengutarakan pikiran buruk itu.
Hal yang begitu dia takutkan, nyatanya tetap mampu menggoyahkan kepercayaan Pras padanya, mengasingkannya juga.
Tangan Pras gemetaran mendengar Lana, "Aku ... aku yang akan membawamu ke rumah sakit.
" Langsung pergi ke kamar meninggalkan Lana sendiri.
Dia tak kuat, kenapa baru sekarang Lana bilang dirinya ini sama bejatnya dengan Ari dan Ridho? *** Pras bangun pagi seperti biasa.
Lana masih tidur di depan TV, dia mandi dan membuat kopi untuknya sendiri, melihat mata Lana bengkak, dia tahu wanitanya begitu terluka semalam.
Lana menggeliat mencium aroma kopi, menyadari Pras duduk sambil memandanginya, dia langsung duduk dan menunduk.
"Aku akan izin hari ini, kita ke rumah sakit, ya?" Setelah Lana mengangguk, Pras berangkat ke rumah Yuda, mengatakan apa tujuannya, dan pulang kembali.
Di rumah Lana sudah siap dengan pakaian rapi dan Pras langsung mengantar istrinya ke rumah sakit.
"Maaf, Pak, Bu, rumah sakit tidak bisa mengambil tindakan seperti itu, meski mungkin janin itu hasil dari hal yang tidak diinginkan, tetap tidak diizinkan kami melakukannya.
Kami tahu Bapak dan Ibu punya dana yang cukup untuk melakukan aborsi, tetapi rumah sakit tetap tidak bisa melakukannya karena itu tindakan ilegal, Pak, Bu.
" Seperti hilang arah, bahkan sepanjang perjalanan Pras dan Lana hanya diam, tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Kita ke rumah pak Hendrik saja, Mas.
" "Maksudmu?" Pras hampir mendidih mendengar Lana menyebut nama itu dengan lancarnya.
"Kemarin saat di rumah sakit, pak Hendrik bilang bisa membantu, tetapi biayanya memang mahal, aku hanya perlu bekerja sampai uang itu lunas.
Bukankah itu tidak terlalu berat, Mas?" Pras menghela napas panjang dan dalam.
Namun, seolah memang ini yang terbaik, Pras pun menyanggupi Lana ke rumah Hendrik, dengan akses terlalu mudah karena Lana bekerja di rumah ini, Pras semakin gelisah menunggu Hendrik ke luar untuk menemuinya dan Lana.
 
Sumber:Internet