. Melempar senyum dengan pantas, tak menyangka Pras akan menyerahkan Lana semudah ini, Hendrik duduk menemui dua orang itu di ruang tamu dengan suasana hati yang lebih baik dari pada tadi.
"Selamat siang, Pak Hendrik.
" Pras akan menahan emosinya demi Lana, "Maksud kedatangan kami ke sini untuk meminta bantuan Anda.
" Hendrik ganti menatap Lana, "Bantuan apa itu?" "Kami dari rumah sakit tadi dan sepertinya Lana juga pernah membicarakan keinginannya pada Anda.
" Pras sengaja merangkul Lana, "Kami ke rumah sakit untuk menggugurkan anak itu sendiri, tetapi karena kami tidak punya kekuasaan, sepertinya sangat sulit untuk kami, dan karena itu pula kami ke sini.
" Hendrik menghela napas, tak mengira Pras begitu berani, meski tak mungkin perang di depan Lana, tetap saja dia tak bisa abai dengan ini.
"Ya, aku juga sudah memberitahu Lana berapa biaya untuk melakukan tindakan seperti itu, terlebih meski pun kita tinggal di kota, dokter yang mau melakukannya juga tidak tinggal di sini.
" Hendrik tersenyum, "Kita harus ke luar kota untuk melakukan itu.
Kalau kamu ikut, bagaimana dengan pekerjaanmu? Biayanya sudah mahal, kalau harus menanggungmu juga-" "Aku akan tetap di sini untuk bekerja.
" Pras tahu kalau Hendrik akan mengatakan itu sebagai syarat.
Hendrik tersenyum lebih lebar, "Ya, setelah Lana siap, kita akan berangkat hari itu juga.
" Pras menelan ludah, "Terima kasih atas bantuan Anda, Pak Hendrik.
Kami ... permisi untuk menyiapkan bekal dan segera mengantar Lana ke sini.
" Pras mengajak Lana pulang.
"Apa Mas tidak apa-apa?" tanya Lana di perjalanan pulang.
Pras terkekeh, "Tidak.
Pak Hendrik mengatakan hal yang benar.
Kalau aku ikut, kita mau makan apa? Aku tinggal di mana? Sedangkan pak Hendrik pasti menjamin keamananmu.
Jangan kawatir, kamu harus cepat sembuh, dan kita akan berkumpul kembali.
" Ya, itu memang Pras-nya yang dulu.
Lana tak ragu memeluk perut Pras dan menyandarkan kepala di punggung, "Maaf membuatmu repot seperti ini, Mas.
" Tak terasa pipinya basah kembali.
Pras mengusap tangan Lana, "Tugasku hanya membahagiakanmu, Lan.
Jangan membuatku merasa gagal.
Jangan menangis, melihatmu bersedih, aku ikut sakit.
" Lana mengangguk sambil menarik napas beberapa kali agar perasaannya semakin tenang.
Sesampainya di rumah, Lana mengemas beberapa barang yang harus dibawa dan menyiapkan makan malam.
Semua berlangsung begitu cepat, bahkan saat tidur pun dia dan Pras tak banyak bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing.
*** Aroma segar yang selalu dirindukan dan Pras membuka mata dengan senyum.
Meski ini kopi yang biasa diminumnya, seolah Lana begitu lama yang menyeduh, Pras bangun dan menyambut kopi itu lebih dulu.
"Sudah bangun, Mas?" Lana menyajikan kopi dan menyiapkan sarapan.
Pras tersenyum, "Kita berangkat bersama, ya?" Menyeruput kopi dan pergi ke kamar mandi.
Setelah bersiap, Pras bergabung lagi, "Kamu sarapan juga.
" Menyulurkan suapan ke Lana.
Dengan malu-malu, Lana menerima suapan itu, "Aku tidak tahu pulang kapan, Mas, tetapi pak Hendrik bilang bisa sampai tiga minggu.
" "Ya, asal kamu baik-baik di sana.
Jaga kesehatanmu, makan yang baik, dan pulang dengan selamat.
Aku akan sangat bersyukur.
" Pras melahap makanannya sendiri, "Minggu depan aku pulang, Yuda mau mengajak kekasihnya, dan sepertinya mereka juga akan segera menikah.
" "Aku senang mendengarnya, Mas.
" Lana membawa tas berisi perlengkapannya dan ke rumah Hendrik dengan diantar Pras.
Bahkan suaminya itu juga memeluk sebelum pergi ke pabrik.
Membuat hatinya miris.
Sumber:Internet