. Seperti yang sudah dikatakan, Pras sudah menunggu Teni di tempat parkir, melihat wanita itu mendekat, Pras juga menyalakan motor tanpa basa basi, membonceng, dan pulang bersama.
"Apa itu tadi Pras?" Yuda berdiri di belakang sopir yang biasa menyetor di gudang Pras.
"Ya, dia dan bos Teni lebih dekat akhir-akhir ini.
Dulu Teni dekat denganmu, kan? Apa aku salah ingat?" Terkekeh sambil menepuk punggung Yuda.
Ikut terkekeh, "Kami hanya rekan kerja.
" "Oiya? Untung saja perbuatanmu di kamar mandi tidak ada yang mengetahuinya.
" "Maksudmu?" Meski kepergok, Yuda bersikap sebiasa mungkin, dengan begitu wibawanya sebagai mandor tak akan jatuh.
Tertawa, "Video beredar dengan cepat, meski tidak ada yang tahu siapa pria itu, sepertinya itu Pras.
" "Video?" Sopir truk itu mengambil ponsel dan memperlihatkannya ke Yuda, "Apa kau juga berpikir itu Pras?" Yuda memutarnya hingga tiga kali dan dia memilih menggeleng setelahnya, "Aku tidak tahu.
Aku pulang dulu, ya? Aku ada janji.
" Langsung pulang.
Dia harus segera ke rumah Nita.
Pras ... sampai di rumah Teni, mengekor di belakang Teni, membiarkan wanita itu membuka pintu, dan segera mendorongnya setelah terbuka.
Pras memagut bibir itu kasar.
"Hmmm ... Pras ...." Teni membiarkan Pras melakukannya.
"Apa aku boleh memintanya?" Pras mengusap pipi Teni.
Matanya sayu, pikiran pun kalut, seolah tak tahu harus melakukan apa selian begitu.
Teni tersenyum, "Ya, tetapi kamu berkeringat, kan? Kita mandi bersama, setelah itu terserah padamu.
" Teni mengunci pintu dan membimbing Pras ke kamar mandi.
Seolah memiliki bayi besar, Teni melepas pakaian itu, mengusap sejenak milik Pras yang mulai mengeras, dan menyalakan pancuran.
Pras menengadah, matanya memerah, apa yang meraba dada dan seluruh tubuh, seolah terabai begitu saja.
Dia di sini bersama Teni, tetapi pikirannya di tempat lain, akankah dia tahu harus mencari di mana tempat nyaman yang dirindukan? Teni berdiri dengan lutut, Pras menjadi pendiam sekarang, dan dia tak ingin itu berlangsung lama.
Mengulum apa yang hampir tidur dan tersenyum saat Pras menunduk melihatnya.
Pras tersenyum, menyibak rambut Teni yang basah dan menutupi wajah, membantu wanita asing itu mengulum lebih dalam miliknya.
"Apa ini cukup?" Teni mengangguk dengan mulut penuh.
Pras memegangi kepala Teni dengan dua tangan, lebih memperdalam miliknya, menarik, menekan, tak peduli Teni hampir muntah, dan saat Teni mendorongnya, Pras malah tertawa, "Kurasa aku sudah bersih.
" Menggendong Teni, melempar pelan wanita itu ke ranjang, biar basah dan menjadi kotor, Pras malah merayap untuk meremas payudara yang lebih besar dari milik Lana itu-ah! Kenapa dia memikirkan Lana lagi? Pras mengulum puting itu, menghisapnya kuat, dia ingin menghilangkan sejenak Lana dari benaknya.
"Ough ... Pras.
Sakit ... oughhhhh ...." Tak mau dengar.
Tangan kanan Pras melarap ke selangkangan Teni, menuntut agar paha itu dibuka, serta mengocok di antaranya.
Masih dingin, tetapi sudah basah, dan Pras tak menunggu lama untuk memasuki itu.
"Ough! Ahhh ... ahhh ... Pras.
Oughhhh!" Teni memejamkan mata, bibirnya tak bisa mengatup, sakit, meski tetap dinikmati, Teni tahu ada yang tidak beres dengan Pras.
"Apa aku menyakitimu?" Pras tetap memompa Teni dengan miliknya, membuka paha itu lebar, melihat ayunan kaki Teni yang semakin kencang.
"Ti ... dak, Pras.
Oughhh, ahh, ahhh, oughhh!" Saat Pras tiba-tiba melepas hal yang digemari, Teni membuka mata sambil menggigit bibir bawahnya sendiri, Pras membalik tubuhnya dengan kasar, membuatnya menungging, dan menampar bokong juga, "Akh! Prasss ...." Teni membuka sendiri bokongnya, mendamba Pras memasukinya lagi, bahkan tak sungkan menggoyang pinggul itu agar Pras tak terlalu lama.
Sumber:Internet