Gelap

Malam Kemarin 30

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Malam Kemarin 30

. Hendrik menikmati kopi di taman samping.
Meski gelap karena tak ada lampu di dekatnya, dia tetap duduk nyaman, berkelana sendiri dengan angan, berselimut sepi sendirian.
Dyah, duduk di samping Hendrik setelah menemukan pria itu, "Kupikir seseorang bisa berubah seiring bertambahnya usia, ternyata kamu tetap sama sejak dulu.
" Dyah menoleh bersamaan dengan Hendrik, tersenyum karena wajah datar itu menunjukkan betapa tepat tebakannya, "Bagaimana dengannya?" Hendrik terkekeh, "Aku tidak tahu.
" Mengambil rokok yang dari tadi diam di samping kopi dan menyulutnya.
"Setelah kematian istrimu, baru kali ini aku melihatmu tersenyum, begitu lepas dan tulus, tetapi menyimpan kepedihan di dalamnya.
" Hendrik terkekeh kembali sambil mengembus asap, "Bagaimana denganmu?" Meski dulu dia dan Dyah pernah saling menuntut, tetap saja terasa asing saat dekat begini, "Kita sudah tidak muda lagi, kan? Kau menungguku?" Dyah tertawa, "Aku akan menikah bulan depan, jangan kawatir, dia sedang dinas ke luar kota.
Dia juga dokter sepertiku, menjadi ahli bedah cukup sulit, baik dia ataupun aku, sering mengikuti pelatihan di luar kota, dan kita naik level setelah kembali ke rumah sakit asal.
" "W.
O.
W! Aku senang mendengarnya.
" Hendrik menghargai hubungan Dyah, "Jangan membohongiku demi apa pun.
" "Tidak, aku akan mengenalkannya.
Sebelum kamu dan Lana pulang, sepertinya dia sudah kembali, kalian akan jadi teman juga, kan?" Dyah mengambil rokok Hendrik, ikut menyulutnya juga, itu aktivitas yang dihindari meski sulit.
"Lana mencintai suaminya," Hendrik memang bercerita banyak hal ke Dyah, dia melakukannya agar Dyah mau mengabor si anak Lana, "sepertinya aku tidak memiliki tempat di sana.
" "Kamu menyerah?" sela Dyah.
Hendrik menggeleng, "Aku tidak tahu.
Dia baik dan gigih bekerja, lembut dan anggun, meski begitu dia juga tangguh, dia terlalu menarik.
" Terkekeh, "Tetapi uangku tidak cukup untuk menarik perhatiannya.
Dia tidak membutuhkan itu.
Dia ... membutuhkan cinta.
" Dyah menghela napas, "Kalau dia jodohmu, dia akan datang, kalau bukan, dia akan pergi, meski sakit, itu tidak akan lama.
" Dyah berdiri, menekan rokok yang hanya diisap sekali ke asbak sampai patah dan mati, baru masuk meninggalkan Hendrik duduk sendiri seperti tadi.
Yuda ... baru saja mengantar Nita belanja oleh-oleh untuk mamaknya dan dia sengaja mengajak Nita ke kontrakan Pras.
"Mampir sebentar, ya? Gak kemalaman, kan?" Nita tersenyum sambil menggeleng, "Ini rumah siapa, Mas?" "Temanku.
" Yuda mengetuk pintu.
Kontrakan itu gelap, seolah tak ada kehidupan di sana, dan suara Pras juga tak terdengar.
"Ayo!" Sengaja mengajak Nita lewat rumah Teni.
Melihat sepeda Pras di sana, Yuda mengajak Nita pulang, "Aku langsung pulang, ya?" Hanya menurunkan Nita dan langsung pamit bahkan ke ayah Nita juga.
*** Yuda berjalan sambil membaca laporan yang dibuatnya kemarin, "Aku bekerja cukup keras, apa gajiku bisa naik beberapa ratus?" Terkekeh mengingat dia tak pernah mengambil lembur.
"Hei! Aku mampir ke kosan tadi.
" Pras langsung merangkul Yuda.
Yuda meremas laporannya dan menonjok Pras begitu saja, "Berengsek! Dasar kau berengsek! Aaahhh!!" Yuda melakukannya beberapa kali, setelah sadar Pras tak membalas pukulannya, dia pergi meninggalkan Pras yang masih terlentang di tanah.
Teni yang ikut melihat adegan tadi, berlari untuk membantu Pras bersama dengan karyawan lain, "Kamu tidak apa-apa?" Pras mendorong Teni dan pergi ke gudang tiga, semua ini karena Teni, tetapi Yuda akan menikahi Nita, kan? Kenapa Yuda memukulnya di depan banyak orang seperti tadi?
Sumber:Internet