. Ratna mengerutkan kening dan menjawab pertanyaan Lana, "Ari.
" Tepat dengan bel rumah berbunyi, tetapi tak dihiraukan oleh Lana, dia malah menggigil saat ini.
Nama itu begitu memicu dan dia takut membayangkan apa yang akan terjadi.
"Lana?" Hendrik membantu Lana duduk, "Ada apa?" Lana menggeleng, "Ma-maaf.
Permisi.
" Berdiri dan pergi.
Hendrik yang tak ada hal tak wajar, menyusul Lana, bahkan menarik tangan itu agar empunya berhenti sejenak, "Ada apa?" Lana menggeleng, matanya berkaca-kaca, dia takut jikalau Ari yang datang adalah Ari yang sama di malam itu.
"Pria itu namanya Ari?" Lana menggeleng semakin kencang dan dia sudah menitikkan air mata saat ini.
Refleks Hendrik memeluk Lana, "Kita akan melihatnya bersama-sama, setelah kamu membenarkan dia Ari yang sama, aku akan membuatnya menyesal sudah berani datang ke sini.
Jangan takut.
Ada aku di sini.
" "Aku takut, Hen.
Bagaimana kalau itu dia? Aku takut sekali.
" "Dia tidak akan berani melakukan apa pun padamu, dia akan gemetar, dia akan berlutut dan meminta maaf padamu.
Itu janjiku, Lan.
" Hendrik mengecup puncak kepala Lana, "Istirahatlah di kamar.
Aku tak akan membiarkannya mengganggumu lagi.
" Mengurai pelukan itu dan mengusap lengan Lana.
Mengangguk dan berbalik untuk ke kamar.
Lana seolah takut harus bersembunyi di mana kalau tidak di sana.
"Maaf, Pak Hendrik," Dina tersenyum setelah Hendrik menoleh padanya, "ada tamu.
" "Siapa?" "Orang pabrik katanya.
" Hendrik menghela napas dan keluar untuk menemui tamunya.
Ternyata itu Teni, Hendrik jadi ingin tertawa, "Ada apa, Ten? Tidak biasa kamu ke sini?" Teni tersenyum, "Maaf kalau mengganggu Bapak, saya hanya ... memikirkan tawaran Bapak waktu itu, apa masih berlaku?" Hendrik mengerutkan kening, "Ini di luar dugaan.
Apa dia mulai melupakanmu?" Teni tersenyum kecut, "Aku tidak punya banyak waktu, Pak.
Aku tidak ingin bermain-main.
" Hendrik terkekeh, "Kau bisa pulang sekarang.
Biarkan aku mengurus sisanya.
" Teni berdiri, membungkuk hormat, dan langsung pergi begitu saja.
Entah, dia tak peduli dengan cinta, tetapi kenapa jauh dari Pras begitu menyiksa? Sesampainya di pabrik, Teni lebih dulu mampir ke gudang tiga, sekedar melempar senyum, dan kembali ke kantor.
Pras malah heran, "Dia tidak menyapaku dulu? Apa ada masalah?" "Ayo!" Teriakan itu seketika membuat Pras menoleh, "Ya, ya.
" Tertawa karena sopir yang harus dicatat muatannya, malah ditinggal melamun.
Di jam istirahat, Pras ke kantor setelah memastikan Yuda dan hampir semua pegawai beli makanan, dia duduk di depan meja kerja Teni.
"Kamu tidak istirahat?" Teni masih sibuk dengan komputer di depannya.
Pras meletakkan botol minuman di meja kerja Teni, "Kau datang hanya untuk tersenyum? Apa ada masalah? Bukankah aku membayar hutang dengan baik selama ini?" Teni mengerutkan kening, "Hutang?" Dia langsung mencari nama Pras, "Ya, tidak ada masalah dengan hutangmu.
Kau mau mengajukan pinjaman lagi? Berapa?" "Jangan mengalihkan pembicaraan, Ten.
Kenapa kamu datang ke gudang tiga tadi?" Pras rasa Teni memang tidak beres.
Teni terkekeh, "Aku ini mandor, Pras.
Aku akan sering datang ke gudang satu sampai sembilan tanpa ingin mengatakan apa pun untuk memastikan kalian bekerja dengan baik.
Hanya itu saja.
"
Sumber:Internet