Gelap
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Malam Kemarin 8

. Mamak Yuda tersenyum sedari tadi, Lana yang semringah membuatnya ikut lega juga, "Kamu endak cepat menikah saja, Lana? Punya anak, terus cari kontrakan di kota, kan kalau sudah menikah, punya surat, endak bingung lagi kalau mau ikut Pras ke kota.
"Lana tersenyum juga, tak kalah lebar jika dibanding dengan senyuman mamak Yuda, "Aku juga inginnya begitu, Mamak.
Mas Pras masih mengumpulkan biaya, katanya ke KUA itu lumayan mahal.
"Mamak Yuda mengangguk, "Tujuan yang baik, pasti akan cepat terkabul, kamu dan Pras harus yakin tentang itu.
""Mak, ada tamu.
"Mamak Yuda menoleh, berdiri dan ke luar untuk menemui tamunya, "Loh! Nak Ari, mau beli ceriping lagi? Kemarin sudah habis?"Ari dan seorang temannya pun sama-sama tersenyum, "Sudah, mau ambil lagi tapi endak banyak, lima puluh, ada?""Ada, ada, ada, biar disiapkan dulu.
" Mamak Yuda yang belum sempat duduk, segera kembali, mendekat ke Lana yang saat ini sibuk mengemas ceriping, "Siapkan lima puluh bungkus, pemuda yang kemarin ke sini, hari ini beli lagi.
""Pemuda?" perasaan Lana langsung tak enak, pikirannya teringat ke Ari saja.
Tebakan itu nyatanya benar, saat Lana membawa ceriping ke teras, ditaruh di meja depan sambil dihitung, Ari mendekatinya.
Lana hanya mengangguk, segera masuk kembali karena tak ingin Ari menyapanya.
"Aku membawakan ini untukmu.
" Ari menyodorkan kotak cukup besar untuk Lana, itu adalah kotak yang sengaja disiapkan untuk Lana dari semalam, "Ini dari mamak Pras, katanya semarah apa mamak denganmu dan juga Pras, kalian tetap anaknya.
" Ari mengangguk, meyakinkan agar Lana mau menerimanya.
Setelah berjibaku dengan semua kegelisahan, antara dirinya dan harga diri Pras, Lana menerima hadiah yang dia pun tak tahu apa isinya itu.
"Sampaikan salamku untuk Pras.
" Ari berbalik, segera masuk, dan membayar ceriping itu.
Tak terlalu banyak bicara, Ari juga segera mengajak temannya untuk pulang, membawa ceriping itu bersamanya.
"Katamu kita mau menjalankan rencana, kok malah beli ceriping?" tanya teman Ari yang tidak paham dengan rencana temannya, ditambah dengan membawa sekarung ceriping, motor butut yang jalannya tak bisa cepat, membuat punggungnya encok saja.
"Jangan berisik, kan bosnya aku, to?" Ari terus menarik gas, membawanya ke pasar.
Tak ada lagi pertanyaan, hanya napas kasar yang menerpa punggungnya.
Setibanya di pasar, ceriping itu segera diobral dengan harga sama dengan pengambilan tadi, setelah semua habis, baru pulang ke rumah temannya.
Ari merebahkan diri di kasur di depan TV, melepas penat dan lelah setelah menjual ceriping tadi.
"Aku kok bingung sama rencana kamu, Ari.
Ini pekerjaan apa? Aku kawatir bayarankuโ€”"Ari segera membekap mulut temannya, membuat mulut itu menguncup dan terjepit oleh tangannya, "Kamu lihat perempuan tadi? Perempuan yang kuberi kotak besar berisi mi dan minyak tadi?" setelah temannya mengangguk, "Hafalkan wajahnya, itu adalah umpan terbaik kalau kamu mau banyak uang.
Hahahahaha.
" Ari terbahak-bahak.

Sumber:Internet