Gelap

Mendadak Menikah 14

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Mendadak Menikah 14

. "Jadi--" Arga sengaja menjeda ucapannya.
Menatap Alyssa yang kini terlihat salah tingkah di tempatnya.
"Bisa katakan apa yang kamu cari, Alyssa?" Lanjutnya lagi.
Dari nada suaranya terdengar begitu serius.
Juga dari tatapan matanya, Alyssa melihat jika Agra menatapnya menunggu.
Menelan ludah gugup, Alyssa semakin salah tingkah di tempatnya.
"Itu ... Aku--"Kedua alis Arga terangkat tinggi.
Menunggu Alyssa untuk melanjutkan kata-katanya.
Mendesah lelah.
Akhirnya Alyssa kembali duduk di ranjang samping Arga.
Namun wajahnya sama sekali tidak berani menatap ke arah Arga.
"Iya, aku mencari tas dan sepatuku.
" Cicit Alyssa.
Pada akhirnya Alyssa pun mengakuinya.
Meski wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
Hingga membuat Arga hanya mengangguk sekilas.
Tidak ada respon lebih.
"Saya meletakkanya di walk in closed.
Di dalam lemari kamu.
" Entah mengapa jawaban santai Arga, membuat Alyssa ingin menenggelamkan dirinya di dasaran laut.
Dia merasa sangat malu luar biasa.
Bahkan lebih memalukan dari pada dia hanya memakai kimono di depan Arga.
"Maaf, aku tadi--""Tidak masalah.
" Potong Arga cepat.
Berbaring dengan menghadap langit-langit kamarnya.
Agra pun melirik ke arah Alyssa dari ekor matanya.
"Tidak perlu sungkan untuk itu.
Bukankah ini kamarmu juga?" Meski setengah hati, Alyssa tetap mengangguk.
Meyakinkan diri jika apa yang dia lakukan tadi bukan masalah besar.
Tapi, bukankah malam ini adalah malam pertama mereka tidur di kamar yang sama selama menikah? Lalu kenapa Alyssa malah meninggalkan kesan yang buruk? Ck,Setelah mengatakan itu Arga pun menutup matanya rapat-rapat.
Mengabaikan Alyssa yang wajahnya nampak di tekuk masam.
Alyssa yang melihat itu pun semakin mendesah lelah.
Pernikahan seperti apa yang ia harapkan?Jangankan untuk bermesraan, mengobrol pun Arga terlihat tidak tertarik padanya.
Haruskah dia menyesal untuk pernikahan ini? Atau dia harus bersyukur karna sikap Arga yang cenderung tidak peduli? Ck,Padahal awalnya dia ingin mengenal lebih.
Walau dia belum siap melakukan itu.
Tapi setidaknya mereka bisa saling mengenal, kan? Membicarakan apapun rencana ke depannya? Tapi sepertinya semua itu hanya angan-angan Alyssa.
Karena nyatanya dia sendiri yang pelan-pelan mulai berharap di pernikahan ini.
****"Selamat pagi," Sapa Alyssa begitu melihat Arga baru bergabung dengannya di meja makan.
Namun pria itu nampak fokus pada ponsel di tanganya.
Sekilas, Arga hanya mengangguk tanpa menatap ke arah Alyssa yang kini berdiri di sampingnya.
Lalu duduk nyaman di kursinya.
Tangannya masih asik dengan ponsel.
"Roti atau nasi goreng?" Pertanyaan Alyssa di sampingnya membuat fokus Arga terhenti.
Dia pun mendongak.
Menatap Alyssa yang kini memamerkan senyumnya terlihat menunggu jawaban dari Arga.
"Nasi.
" Jawab Arga menunjuk nasi goreng dengan dagunya.
Mengangguk mengerti, Alyssa meraih piring Arga.
Lalu mengisinya dengan apa yang Arga mau.
"Telor atau ayam?" Sekali lagi Alyssa bertanya.
Dan kini fokus Arga benar-benar teralihkan.
Hingga dia pun meletakkan ponselnya di samping tanganya.
"Ayam.
" Setelah mengisi piring Arga dengan semua yang di inginkan Arga juga menuangkan air ke gelas miliknya.
Alyssa pun duduk di kursi samping Arga.
Mulai sibuk dengan rotinya.
Dan apa yang Alyssa lakukan pagi ini membuat Arga sedikit terkesima.
Meski hanya menyiapkan sarapan untuk Arga namun dia yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
Membuatnya merasa aneh.
Beginikah rasanya memiliki istri? Diperhatikan dan utamakan? Diam-diam Arga melirik ke arah Alyssa yang sibuk dengan kegiatannya.
Hingga sudut bibirnya pun mulai tertarik sedikit ke atas.
Mereka makan dalam diam, tidak ada obrolan yang keluar dari bibir mereka.
Hanya suara dentingan sendok yang terdengar memenuhi meja makan.
"Aku sudah selesai.
" Seru Alyssa tiba-tiba.
Bangkit dari duduknya.
Dan meraih tas tanganya, bersiap pergi.
"Aku ... pergi dulu.
" Lanjutnya tanpa menoleh ke arah Arga.
Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Arga, Alyssa pun langsung berbalik pergi melangkah sedikit tergesa-gesa ke arah pintu keluar.
Karna dia sudah hampir terlambat.
Beruntung, dia menggunakan sepeda motor.
Hingga dia tidak perlu lagi menunggu ojol atau bis yang biasa dia gunakan.
Motor itu pun dia beli dari hasil uang sumbangan pernikahannya, yang hanya dia tambah sedikit dari tabungannya selama ini.
Memakai helm, Alyssa sudah bersiap menjalankan motornya sebelum suara Arga menghentikannya.
"Alyssa," "Kenapa?" Tanya Alyssa yang melihat Arga berjalan ke arahnya.
"Kamu kerja pakai motor?" Tanya Arga terdengar tidak percaya, menatap Alyssa dari atas hingga bawah.
Pagi ini Alyssa menggunakan rok span hitam pendek.
Juga kemeja coklat muda berkerah.
Ada jaket yang menutupi tubuhnya tidak lupa sepatu heels tinggi yang dia gunakan.
"Iya.
Kenapa?" "Dengan pakaian seperti ini?" Tanya Arga lagi.
"Iya, memangnya kenapa, sih?" Arga hanya menggeleng.
Tidak mengatakan apapun, namun wajahnya terlihat tidak puas dengan ucapan Alyssa.
"Arga udah, ya, aku udah telat ni.
" Arga sudah akan membuka mulut tapi Alyssa sudah lebih dulu berlalu di depannya.
Hingga mau tidak mau dia pun mendengus kesal.
Dan menggeleng pelan.
Memilih melangkah ke arah mobilnya yang terparkir rapi di garasi.
***Pukul lima sore Alyssa selesai dengan pekerjaannya.
Dan dia langsung bergegas pulang.
Awalnya semua baik-baik saja.
Tidak ada yang aneh dengan sepeda motornya.
Alyssa masih nampak nyaman mengendarai sepeda motornya.
Meski dia belum begitu mahir, namun dia nampak bisa menjaga keseimbangan tubuh.
Hingga ketika dia tiba di persimpangan, berniat berbelok.
Alyssa tidak lagi bisa menjaga keseimbangannya ketika ada sebuah mobil bak yang menyenggol stangnya.
Membuat dia oleng dan jatuh tersungkur di atas tanah.
Cukup kencang, hingga mampu membuat Alyssa hampir terseret karna sepeda motornya yang terbawa mobil.
Alyssa hampir menangis ketika rasa kram dari kakinya yang terluka, di tambah rasa perih karna telapak tangannya yang bergesekan dengan aspal.
Membiarkan beberapa orang yang meminggirkan sepeda motornya.
Alyssa pun di bantu beberapa orang untuk duduk di pinggir jalan.
Masih dengan wajah yang masih terlihat syok.
Kaget karna untuk pertama kalinya dia mengendarai sepeda motor harus berakhir tragis.
"Mbak, gak papa?" Alyssa mengangguk.
"Iya, pak, cuman luka kecil.
" Tunjuknya pada lutut dan kakinya yang terdapat goresan kecil.
Jujur kakinya sakit sekali, hanya saja dia merasa malu jika harus mengatakannya.
"Rumahnya jauh gak, mbak? Mau di antar atau minta jemput?" Tawaran dari pria lain yang berdiri di depannya membuat Alyssa bingung.
Siapa yang harus dia hubungi? Ayahnya tidak mungkin.
Tapi selain ayahnya, dia harus meminta tolong pada siapa? Arga? Itu lebih tidak mungkin.
Mana mau pria itu menolongnya.
Berbicara saja seperlunya.
Apalagi dimintai menjemput dirinya sekarang? Mustahil.
Akhirnya setelah bergulat dengan perasaannya.
Alyssa pun menyerah.
Memilih mencari ponselnya di dalam tas.
"Saya minta jemput aja, pak.
Maaf merepotkan, terima kasih karna sudah membantu saya.
" Setelah mengatakan kata-kata itu, pria-pria yang mengelilinginya pun bubar.
Meninggalkan Alyssa yang kini bangun tertatih-tatih untuk berjalan ke arah warung di pinggir jalan.
Duduk di sana menunggu seseorang menjemputnya.
Mengabaikan tubuhnya yang terasa remuk.

Sumber:Internet