Gelap

Mendadak Menikah 16

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Mendadak Menikah 16

. Alyssa tidak pernah membenci orang sedalam ini.
Dan kali ini, dia sangat-sangat membenci Arga.
Ia membencinya hingga rasanya sampai ke tulang dan mendarah daging.
Meremukkan hatinya hingga tak berbentuk.
Ada banyak hal yang tidak pernah bisa di jelaskan lewat kata-kata.
Itulah yang Alyssa rasakan.
Dan demi apapun, Alyssa ingin menolak ketika Arga menuntunnya duduk di sofa.
Namun bibirnya seolah berkhianat.
Hanya bungkam ketika Arga mendudukkannya di sofa, tepat di samping pria itu dengan tubuh yang kian menempel.
Tangan pria itu pun tidak tinggal diam.
Mengusap punggung Alyssa lembut, teratur.
Hingga pelan-pelan perasaan Alyssa mulai terasa lebih baik.
Alyssa ingin berteriak, memaki dirinya yang malah bersikap berlebihan.
Seharusnya dia menyingkirkan tangan Arga.
Memaki pria itu yang malah bersikap santai ketika mendapati dirinya yang sudah sangat terluka.
Tapi apa? Alyssa malah semakin erat memegang sejumput kemeja Arga yang berada di perutnya.
Sedang kemeja bagian dadanya sudah basah oleh air mata Alyssa.
Isakkannya pun sudah tidak lagi terdengar.
Namun wajahnya masih terbenam di dada bidang Arga.
Enggan untuk sekedar menjauh.
Demi apapun, Alyssa tidak bisa mengangkat wajahnya.
Dia sangat malu karna kehilangan kendali.
Berakhir menangis di depan Arga.
"Sudah merasa lebih baik?" Alyssa mengangguk kaku.
Dan seharusnya tidak Alyssa lakukan.
Dia mengutuk kepalanya yang malah mengangguk.
Seharusnya--Uhh, kenapa di kepala Alyssa harus ada kata seharusnya, seharusnya, dan seharusnya?"Bisa kita bicara sebentar?" Lagi, suara Arga kembali terdengar.
Namun tetap sama seperti awal.
Lembut mendayu-dayu layaknya Arga yang berusaha membujuk Alyssa yang tengah merajuk.
Eh!"Alyssa?"Gak, aku sama sekali gak mau bicara sama kamu Arga! Aku gak mau denger apapun dari kamu.
Aku benci sama kamu.
Teriak hati kecil Alyssa.
Namun, karna otaknya terasa ngeblank.
Alyssa sulit untuk mengatakannya.
Meneriaki Arga seperti hati kecil Alyssa inginkan.
"Ok, diam saya anggap setuju.
" Tanpa disuruh kepala Alyssa langsung terangkat.
Mendongak.
Menatap Arga yang kini juga tengah menatap ke arahnya.
Tidak ada senyum di bibirnya.
Namun, tatapannya lebih hangat dari sebelumnya.
Dan Alyssa merasa jika tatapan Arga seolah menghipnotis dirinya.
Hingga dia sulit untuk mengalihkan pandangannya.
Sebelah tangan Arga terulur, mengusap sisa air mata di pipi Alyssa.
"Saya minta maaf.
" Suara Arga terdengar berbisik.
Namun tangannya di pipi Alyssa berubah menjadi usapan lembur.
Hingga Alyssa hanya bisa mematung dengan kedua mata terkunci pada tatapan Arga.
Seolah waktu pun berhenti detik itu juga.
"Maaf karna sudah menyakiti hati kamu.
" Dengan kuat Alyssa menggigit ujung bibirnya.
Mendengar suara Arga yang lembut.
Dengan tatapan lurus ke arahnya.
Kembali membuat Alyssa berkaca-kaca.
Menarik nafas dalam, Arga mengukir senyum tipis di bibirnya.
Sangat tipis hingga Alyssa merasa jantungnya berdetak sangat cepat.
Sampai Alyssa takut jika Arga akan mendengar detak jantungnya.
"Kamu mau maafin saya, kan?" Tidak.
"Ya.
" Lihat bibir Alyssa dan hatinya mulai bertolak belakangkan.
Dan semua itu hanya karna senyuman dan kata maaf dari Arga.
Dan jelas jantung sialannya yang juga ikut berkhianat.
"Kalau begitu bisa kita obati luka kaki kamu sekarang?" Tanpa menunggu jawaban dari Alyssa.
Arga langsung menunduk.
Berlutut di depan Alyssa.
Mengabaikan wajah kaget Alyssa.
Melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karna drama murahan Alyssa.
Hingga beberapa menit, detik.
Arga masih sibuk dengan kegiatannya.
Dan Alyssa pun tidak membuka suara.
Dia diam memperhatikan Arga yang nampak begitu serius.
Bisa Alyssa lihat jika Arga membersihkan lukanya dengan sangat hati-hati.
Bahkan beberapa kali Alyssa meringis, Arga pun akan menghentikan gerakan tanganya.
Lalu meniup luka Alyssa pelan.
Hingga beberapa kali Alyssa harus menahan nafas ketika Arga mendongak, menatap ke arahnya dengan wajah serius.
Setiap kali Arga menatap ke arahnya Alyssa hanya membuang muka.
Menatap ke arah lain asalkan bukan wajah Arga.
Yang mendadak terasa mengganggunya.
"Ok, selesai.
" Ucap Arga setelah selesai dengan perbannya.
Bisa Alyssa lihat jika perkerjaan Arga dalam membalut luka Alyssa sangatlah rapi.
"Bagaimana, sudah merasa lebih baik?" Alyssa mengangguk beberapa kali dengan wajah kaku.
Namun bibirnya masih tertutup rapat.
Belum membuka suara sama sekali.
Sampai uluran tangan Arga di depannya membuat kening mengernyit bingung.
"Ayo, saya antar ke atas.
Biar kamu bisa istirahat di kamar.
""Aku masih bisa jalan sendiri.
" Akhirnya, Alyssa bisa mengeluarkan suaranya.
"Menaiki tangga?" Sebelah alis Arga terangkat tinggi.
Melirik tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.
Alyssa berubah ragu.
Namun sebisa mungkin dia menutupinya dari Arga.
Dia tidak ingin terlihat bertambah menyedihkan di depan Arga.
"Ya, tidak masalah hanya naik tangga.
" Balas Alyssa kaku.
"Ok.
" Dengan santainya Arga pun hanya mengangguk mengerti.
Hingga tanpa sadar Alyssa pun mendengus.
Apa yang dia harapkan, Arga akan memaksanya untuk membantu.
Atau Arga yang akan menggendongnya karna merasa khawatir.
Alyssa ingin terbahak begitu otaknya mulai melantur ke mana-mana.
Dengan sedikit susah payah Alyssa pun bangun dari duduknya.
Melangkah tertatih-tatih ke arah tangga.
Ok, satu anak tangga berhasil Alyssa naik-ki.
Tangga kedua.
Alyssa butuh menarik nafas dalam sebelum mengangkat kakinya.
Dan ... berhasil.
Di tangga ke tiga.
Mendadak kaki Alyssa terasa nyeri.
Berdenyut hingga Alyssa harus menggigit ujung lidahnya agar tidak meringis.
Menatap anak tangga yang masih panjang.
Alyssa merasa ingin berteriak detik ini juga.
Menyesal karna telah menikah dengan pria yang ternyata memiliki rumah yang sangat besar.
Tapi bukan hanya itu masalah.
Mereka tidak saling mencintai, itulah pokok permasalahannya.
"Berubah pikiran?" Alyssa menjangkit kaget.
Entah bagaimana bisa Arga tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Dari ekor matanya, Alyssa bisa melihat jika wajah Arga nampak mengejeknya.
Seolah mengatakan 'kamu benar-benar menyusahkan' dan Alyssa benci ketika tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri.
Menghembuskan nafas, Alyssa memilih meneruskan langkah kakinya.
Menaiki anak tangga.
Hingga tiba di anak tangga keempat.
Alyssa hampir menangis karna kakinya terasa kaku.
Apa separah itu jatuhnya? Kenapa tubuh Alyssa lemah sekali?Namun rasa nyerinya tak bertahan lama ketika tiba-tiba tubuhnya melayang.
Pekikan dari bibir Alyssa pun langsung terdengar begitu kakinya tak lagi menginjak tangga.
"Arga, turunkan aku!" Pekik Alyssa penuh protes.
"Diam, Alyssa! Atau kita akan sama-sama terjatuh.
" Tegur Arga mengabaikan tatapan tajam Alyssa.
Dengan santainya dia terus berjalan menaiki anak tangga.
"Aku masih bisa berjalan sendiri.
""Ya, nanti jika kaki kamu sudah terasa lebih baik.
Kamu akan jalan sendiri.
Sekarang diamlah! Kita bisa jatuh jika kamu terus bergerak seperti ini.
" "Aku tidak peduli.
Turun kan aku!" Alyssa terus bergerak-gerak di dalam gendongan Arga.
"Diam.
Atau saya akan menciummu?" Ancam Arga terdengar tidak main-main.
Dan mampu membuat Alyssa langsung diam.
"Good girl.
Saya suka gadis penurut.
"           
Sumber:Internet