. Dengan hati-hati Arga menurunkan Alyssa di atas ranjang.
Mendudukkannya dengan punggung bersandar di kepala ranjang.
Sedang Alyssa menghela nafas lega begitu sudah turun dari gendongan Arga.
Demi apapun.
Alyssa bahkan tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya karna terlalu gugup berada dalam gendongan Arga.
Apakah dia seberlebihhan itu? Dan jawabannya 'ya' Alyssa tidak tau sejak kapan efek dekat dengan Arga bisa sedasyat itu.
Hingga dia bisa bersikap seberlebihhan itu.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Arga melangkah mundur.
Yang dibalas Alyssa dengan gelengan kepala.
Lamunan singkatnya buyar seketika begitu mendengar suara Arga.
"Arga, apa yang kamu lakukan?" Pekik Alyssa begitu dengan santainya Arga menunduk melepas sepatu heels yang Alyssa gunakan.
"Sssttt.
" Arga memberi isyarat untuk diam.
"Lepas, Arga! Aku bisa melepaskannya sendiri.
" Protes Alyssa yang berusaha menjauhkan kakinya.
Malu karna kaki Alyssa terlihat sedikit kotor.
Arga seolah tuli.
Dia tetap melepaskan kedua sepatu heels Alyssa.
Dengan santainya membawa dua sepasang sepatu heels Alyssa masuk ke dalam walk in closed.
Mengabaikan protessan juga wajah kesal Alyssa.
Tidak lama dia kembali membawa baju ganti Alyssa.
Dan hampir membuat kedua mata Alyssa jatuh dari tempatnya.
Jangan bilang dia juga mau melepaskan bajuku?Refleks Alyssa langsung menyilangkan kedua tanganya di dada begitu Arga berdiri di depannya.
"Jangan macam-macam ya, kamu!" Tegur Alyssa penuh peringatan dengan wajah melotot galak ke arah Arga.
Namun yang Arga temukan bukan wajah mengerikan Alyssa, tapi wajah istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Kenapa, bukankah kita sudah menikah?" Sebelah alis Arga terangkat.
Ada nada geli yang terucap di bibirnya.
Hingga Alyssa semakin melotot galak ke arahnya.
"Saya juga sudah melihat seluruh tubuh kamu, kan?" Ada penekanan di ujung kalimat.
Dan berhasil membuat Alyssa seperti kebakaran jenggot.
"Yak!""Dan kamu juga sudah melihat tubuh saya?" Cepat-cepat Agra menambahkan.
Meski Arga mengatakannya dengan wajah datar, namun Alyssa merasa wajahnya terasa memanas.
Hingga dia pun semakin memeluk tubuhnya erat.
Berjaga-jaga ketika nanti Arga memaksanya untuk membuka baju.
"Jangan mendekat.
" Teriak Alyssa begitu Arga melangkah lebih dekat.
Tubuh mereka kini berjarak hanya tinggal satu langkah.
"Memangnya kamu tidak gerah?" Tanya Arga menunjuk pakaian Alyssa dengan dagunya.
Saat ini Alyssa memakai rok span selutut.
Sangat ketat.
Juga blus katun coklat yang di tutup dengan jaket formal senada dengan roknya.
Kalau boleh jujur, Alyssa sangat merasa gerah.
Tapi berganti baju di depan Arga? No.
Alyssa lebih baik bertahan dengan pakaiannya dari pada harus melepaskan seluruh bajunya.
Tapi Alyssa juga masih sanggup berjalan ke kamar mandi jika hanya sekedar berganti baju.
"Aku masih bisa berjalan ke kamar mandi.
" Ketus Alyssa menurunkan kakinya dari atas ranjang.
"Dan aku gak semanja itu untuk berganti baju di dalam kamar ini.
Terutama di depan kamu.
" Lanjutnya dengan nada menyindir.
Dengan cueknya Arga hanya mengangkat bahu.
Meletakkan baju ganti Alyssa tepat di samping perempuan itu.
Sama sekali tidak berniat untuk membantu.
Dan tanpa mengatakan apapun Arga langsung berbalik.
Pergi meninggalkan Alyssa sendiri yang kini menatap punggung Arga sebal.
*****Tok Tok Tok"Permisi, buk.
"Alyssa hampir mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
Namun terhenti begitu mendengar suara teguran dari arah pintu.
"Saya disuruh pak Arga untuk mengantar makanan untuk bu Alyssa,.
" Alyssa melirik nampan yang dibawa Surti.
Lalu mengangguk menyuruhnya meletakkannya di atas meja nakas.
"Terima kasih, mbak.
" Balas Alyssa sebelum asisten Arga keluar dari kamar Alyssa.
Surti hanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.
Lalu pamit undur diri setelah sebelumnya bertanya pada Alyssa dia membutuhkan sesuatu lagi atau tidak.
Dan dibalas Alyssa dengan gelengan kepala.
*****Alyssa tidak tau seberapa lama dia tertidur.
Namun dia terbangun dengan tubuh yang terasa remuk bukan main.
Tubuhnya terasa kaku, sulit untuk di gerakkan.
Matanya pun terasa sangat lengket.
Namun rasa dingin di keningnya membuat dia merasa ingin segera membuka mata.
Pelan-pelan Alyssa menghalau sinar terang di kamarnya.
Dan pemandangan matahari yang sudah tinggi dari jendela kamar membuat Alyssa langsung terduduk.
Wajahnya meringis begitu dia duduk secara tiba-tiba.
Dan sesuatu langsung terjatuh di pangkuannya begitu dia duduk.
"Kamu sudah bangun?" Alyssa menoleh, menemukan wajah kusut Arga juga lingkaran hitam di sekitar matanya.
"Ak---u kenapa?" Tanya Alyssa menyentuh handuk di pangkuannya yang tadi sempat terjatuh di pangkuannya.
"Kamu semalaman demam.
" Jawab Arga meraih handuk di pangkuan Alyssa.
Meletakkannya di atas baskom.
"Sudah mendingan.
" Lanjut Arga begitu menyentuh kening Alyssa.
Mengecek suhu tubuhnya.
"Jadi semalaman kamu gak tidur?" Alyssa berharap Arga akan menggeleng, atau setidaknya dia mengelak tuduhan Alyssa.
Namun-"Kamu semalaman menggigil.
Tapi suhu tubuh mu terasa panas.
Kalau saya tinggal tidur, dan terjadi sesuatu dengan kamu.
Bisa-bisa saya di bunuh ayah.
" Ketus Arga.
Meski Arga hanya beralibi untuk menutupi gengsinya karna telah membantu Alyssa.
Entah mengapa Alyssa merasa hatinya menghangat.
Rasa marahnya kemarin terasa menguar entah kemana, dan kini di gantikan dengan rasa tak nyaman.
Alyssa tidak menyangka jika Arga akan bersikap seperti itu.
Menjaganya semalaman? Tidak tidur karna Alyssa sakit?Kenapa itu terdengar seperti seorang suami yang peduli pada istrinya?"Lebih baik kamu sarapan! Setelah itu kamu bisa meminum obat demam.
Agar kamu bisa kembali istirahat lagi.
" Perintah Arga terdengar otoriter.
"Tapi bukankah kita hari ini harus ke rumah nenek?""Kita bisa pergi ke sana kapan saja.
Sekarang kamu sakit.
Kita tidak mungkin ke sana dalam keadaan seperti ini.
""Tapi aku baik-baik saja.
" "Ya, kamu baik.
Tapi saya tidak.
" Sambung Arga memotong ucapan Alyssa.
"Saya tidak tidur semalaman.
Dan saya tidak punya tenaga untuk meladeni drama lagi.
""Hah?"Arga bangun dari duduknya.
Melangkah menuju kamar mandi.
"Lebih baik kamu makan! Baru istirahat.
Saya sudah menyuruh mbak Surti untuk membuatkan mu bubur.
" Ucapan Arga tenggelam di dalam kamar mandi begitu tubuhnya masuk ke kamar mandi.
Tidak lama terdengar suara pintu ditutup dan Alyssa hanya bisa menghela nafas panjang.
Mendadak tanganya merambat ke dada.
Menyentuh dadanya yang masih merasakan gelenjar hangat begitu mendengar ucapan Arga.
Ternyata Arga tidak seburuk yang dia pikirkan.
Diam-diam Alyssa merasa tak enak hati padanya.
Sumber:Internet