. Alyssa berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Kakinya masih terasa nyeri.
Namun tubuhnya sudah merasa lebih baik.
Dengan kaki yang terpincang-pincang Alyssa berhasil menuruni anak tangga.
Bibirnya pun langsung menghembuskan nafas lega begitu kakinya berhasil menuruni anak tangga yang mendadak terasa sangat tinggi.
"Loh, buk Alyssa.
Kenapa turun? Ibuk butuh sesuatu?" Surti langsung memberondong banyak pertanyaan begitu Alyssa tiba di ruang tengah.
"Gak mbak.
Saya cuman bosen seharian di kamar.
" Jawab Alyssa menghempaskan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah.
Namun bibirnya langsung meringis begitu rasa nyeri di kakinya terasa.
"Tapi tadi pak Arga sudah berpesan, buk, kalau Bu Alyssa tidak di ijinkan turun.
Dan jika butuh sesuatu.
Buk Alyssa bisa memanggil saya.
" "Gak papa, mbak.
Arga gak akan tau kalau saya turun.
Kan dia gak ada di sini.
" Balas Alyssa dengan santainya.
Mengingat Agra yang saat ini tengah pergi bekerja.
Tadi selesai membersihkan diri Arga yang sudah bersiap ingin beristirahat tiba-tiba mendapatkan telpon dari sekertarisnya.
Entah apa yang di katakan oleh sekertarisnya itu,namun setelah mendapat telepon.
Arga langsung buru-buru berganti baju dan pergi ke kantor.
Melupakan niat awalnya yang ingin beristirahat.
"Tapi bagaimana kalau nanti beliau menelpon, buk? Beliau bisa marah kalau sampai tau--""Ya mbak jangan kasih tau.
" Potong Alyssa cepat.
Merasa gemas pada artnya yang terlihat polos itu.
"Arga gak akan tau kalau mbak Surti gak bilang, kan?" Sambungnya sambil meraih remote, menghidupkan televisi di depannya.
"Tapi--""Saya itu bosen, mbak.
Seharian di kamar.
Gak ngapa-ngapain.
Saya pasti sembuhnya lama kalau di kamar terus.
""Oh jadi kalau kamu naik-turun tangga bisa cepat sembuh? Begitu?" Secepat kilat Alyssa menoleh ke sumber suara.
Kedua matanya membola besar begitu menemukan Arga yang kini berdiri dengan tubuh bersandar di dinding dengan tangan bersedekab.
Menatap Alyssa dengan tatapan mata datar.
Alyssa hanya mengukir senyum salah tingkah membalas ucapan sarkas Arga.
"Selain menyusahkan ternyata kamu juga pintar, ya, dalam hal berbohong?" Lanjutnya pedas.
Alyssa hanya menggeleng.
Menghela nafas panjang guna menahan diri untuk tidak membalas kata-kata Arga yang terdengar kian menyakitkan.
Jika tidak mengingat perlakuan baik Arga kemarin Alyssa pasti akan membalas kata-kata Arga.
Bahkan lebih tajam.
Tapi dia cukup tau diri untuk tidak bersikap menyebalkan.
Menggaruk pipinya salah tingkah.
Alyssa langsung memalingkan muka begitu merasa jika tatapan mata Arga lama-kelamaan terasa ingin mengulitinya hidup-hidup.
Padahal dia hanya diam sedari tadi.
Sama sekali tidak membalas kata-kata Arga.
Demi apa pun, Alyssa merasa pasokan oksigen di sekitarnya terasa hilang seiring langkah Arga terdengar mendekat.
"Kamu ... baru pulang?" Tanya Alyssa sedikit gugup begitu Arga dengan santainya duduk di sampingnya.
Menghempaskan tubuhnya dengan kepala mendongak ke atas.
Arga hanya bergumam menjawab pertanyaan Alyssa.
Kepalanya terasa berdenyut nyeri.
Efek semalaman dia tidak tidur- di tambah banyaknya masalah di perusahaan.
Melihat wajah Arga yang terlihat kusut ditambah moodnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Alyssa pun memilih membungkam bibirnya.
Memilih menikmati tayangan televisi ketimbang mengajak Arga berbicara.
Lebih tepatnya tidak mau memancing kekesalan Arga.
Sumber:Internet