. Alyssa tersenyum senang saat tau harum dari masakanya menguar ke udara.
Siang ini adalah hari di mana tunanganya, Bagas berulang tahun.
Dan ia berencana memberikannya kejutan.
Dari kemarin Bagas memang tidak ia hubungi.
Ia sengaja agar Bagas panik dan mencarinya.
Tapi nyatanya sampai sekarang pun Bagas tak kunjung datang mencarinya.
Yang ada malah ia yang merasa resah seorang diri.
Dan akhirnya ia berencana datang ke kos Bagas untuk memberinya surprise.
Karna hari ini hari Sabtu, dan kebetulan hari libur bekerja.
Alyssa ingin memasakkan makan spesial untuk Bagas.
Apalagi sudah lama ia tidak masakkan tunanganya itu.
Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia memasakkan Bagas.
Sambil bersenandung kecil Alyssa terus tersenyum kecil saat pikirannya melayang bagaimana ekspresi wajah bahagia Bagas memenuhi pikirannya.
Ia yakin pasti Bagas akan sangat senang dengan kejutanya.
Yah selama ia sibuk bekerja, apalagi ini hampir memasuki akhir tahun.
Membuat ia semakin sibuk dari biasanya.
Hingga interaksi antara ia dan Bagas semakin minim.
Memasukan seluruh masakanya ke dalam taperwer Alyssa lagi-lagi tersenyum saat melihat hasil karyanya sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Alyssa, Kamu mau pergi kemana?" Pertanyaan dari ruang tengah membuat langkah Alyssa terhenti.
Dia pun menoleh ke arah belakang.
Ibunya berdiri di depan pintu.
Mulai melangkah mendekat ke arahnya.
"Loh, Bu, Alyssa kira ibu masih di tempat bude?" Bukanya menjawab pertanyaan ibunya, Alyssa malah melontarkan pertanyaan balik.
Membuat ibunya bedecak memandang sebal ke arah Alyssa.
"Ditanya malah balik nanya.
" Alyssa menyengir lebar mendengar sindiran ibunya.
"Alyssa ingin pergi sebentar, Bu.
Ngantar sesuatu ke kos Bagas.
" Ucap Alyssa mengangkat tinggi bekal di tanganya, menunjukannya kepada ibunya.
"Udah janjian?" Selidik ibu Alyssa dijawab gelengan oleh Alyssa.
"Ya udah, tapi inget pulangnya jangan malam-malam, ya?" Pesan ibu Alyssa dijawab dengan anggukan kepala Alyssa.
"Ya udah Alyssa pergi dulu ya, Bu?" "Iya, hati-hati di jalan.
" Alyssa mengangkat kedua jempol tangannya menjawab ucapan ibunya.
Membawa motor metic hasil pinjaman dari ayahnya Alyssa terus bersenandung kecil seiring perjalanan ke arah kos Bagas.
Bahkan senyumnya tidak luntur di balik helm begitu tempat tujuannya semakin dekat.
Apa aku parkir motornya di depan rumah ibu kos Bagas aja kali ya, Biar Bagas gak denger suara motor aku.
Batin Alyssa.
Setelah memarkir motornya di depan rumah ibu kos Alyssa menitipkan motornya begitu melihat ibu kos Bagas sedang duduk santai di depan rumahnya.
Dan berbincang sebentar sebagai bentuk sopan santunnya.
Karna dulu Alyssa sering di ajak Bagas mampir ke kosnya, membuat ibu kos Bagas mengenal Alyssa.
Bahkan kadang Alyssa sering berbincang jika Bagas sedang sibuk di kosnya mengerjakan tugas kantornya.
Melangkah pelan ke arah kos Bagas, Alyssa mengernyit kening saat suasana kos begitu sunyi.
Padahal biasanya jika weekend seperti ini, Bagas sering nongkrong di depan kos mengajak tetangganya untuk berbincang atau kadang bermain game.
Keningnya semakin mengernyit saat motor metic Bagas ada di depan kos tapi pintu kos tertutup rapat.
Padahal Bagas tidak pernah menutup pintu jika motor metic kesayangannya sedang berada di luar.
Mempercepat langkahnya, tangan Alyssa bersiap mengetuk pintu begitu ia berdiri di depan pintu kos tunanganya.
Tapi tanganya terhenti saat suara tak asing terdengar membekukan seluruh tubuhnya.
"Aku gak mau tau, Bagas, kamu harus bertanggung jawab!""Iya, sayang.
Aku akan bertanggung jawab, tapi kasih aku waktu.
""Waktu? Ini udah setahun, Bagas.
Dan kamu bahkan gak bisa jelasin apa pun keperempuan itu.
Dan sekarang aku udah hamil, kamu masih minta waktu? Jangan gila kamu.
""Iya, sayang, aku tau tapi aku janji bakal kasih tau dia secepatnya.
Tapi gak bisa sekarang.
Kamu tahu sendiri, kan, gimana komunikasi kami?" "Aku gak mau tau, Bagas.
Akhir bulan ini kamu harus nikahi aku! Aku gak mau keluargaku malu kalau sampai tau aku hamil di luar nikah dengan kamu.
"Bagai petir di siang bolang, tubuh Alyssa terasa mati rasa begitu pendengarannya menangkap suara perbincangan yang membuat ia membeku.
Menelan ludah susah payah.
Tangan Alyssa bergetar hebat begitu tanganya memegang gagang pintu bersiap membuka pintu kos di depannya.
Berusaha menyakinkan diri jika pendengarannya pasti bermasalah.
Dia yakin jika apa yang barusan dia dengar salah.
CeklekBrukkk!Membekap mulutnya, mata Alyssa semakin membesar begitu melihat dua orang yang ia kenal dekat sedang saling memeluk dengan pandangan menatap ke arah satu sama lain.
Mereka terlihat hampir berciuman.
Tapi dengan cepat kesadaran mengambil alih, tanpa membuang waktu Alyssa memilih berbalik dan berlari menjauh mengabaikan panggilan dan teriakan Bagas menyuruhnya berhenti.
"Alyssa, tunggu!" Teriak Bagas berusaha mengejar langkah kaki Alyssa.
"Lepas!" Tepis Alyssa.
Menjauhkan tangan Bagas yang menarik lengannya.
Menghentikan langkah kaki Alyssa.
"Alyssa, tunggu! Kita perlu bicara, Alyssa!" "Menjauh dariku, Bagas! Jangan menyentuhku!" Teriak Alyssa.
Mendorong dada Bagas yang berusaha memeluknya dari belakang.
"Ok aku lepaskan.
Tapi tolong, dengarkan aku sebentar.
" Ucap Bagas mengalah.
Menjauhkan tangannya dari Alyssa.
Mengangkat tinggi-tinggi tanganya tanda dia menyerah.
"Alyssa.
"Dengan kasar Alyssa mengusap pipinya yang berlinang air mata.
"Katakan!" Ucap Alyssa tanpa menoleh ke arah Bagas.
Kedua matanya pun terlihat menghindar.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita.
"PLAKTanpa ragu Alyssa langsung melayangkan tamparan kuat ke wajah Bagas.
Membuat Bagas meringis.
"Kamu benar-benar brengsek, Bagas.
" Teriak Alyssa.
Tidak peduli jika saat ini mereka menjadi bahan tontonan hampir semua orang di sekitar kos Bagas.
Karena yang terpenting adalah Alyssa bisa meluapkan semua amarahnya.
"Alyssa.
""Jangan pernah sebut namaku dengan mulut menjijikanmu itu, Bagas!" Geram Alyssa.
"Alyssa, cukup!" Teriakan dari belakang tubuh Bagas membuat perhatian Alyssa terpecah.
"Kamu gak seharusnya menyalahkan Bagas, Alyssa.
Dia gak bersalah di sini.
""Ya, tentu saja.
Karena yang bersalah adalah kamu kan, Ayu?" Tunjuk Alyssa pada wanita di belakang tubuh Bagas.
Yang kini melangkah ke arahnya.
Ayu, sepupu yang dulu pernah beberapa kali bertemu dengannya.
Bercanda bahkan menginap di rumahnya.
Tidak percaya bisa melakukan hal senekat ini.
Menjadi selingkuhan Bagas, hingga hamil? Mengerikan.
"Jaga ucapan mu, Alyssa.
Yang harusnya patut di salahkan itu adalah kamu.
Jika saja kamu lebih memperhatikan Bagas.
Lebih peka dengan kondisinya.
Dia tidak akan pernah selingkuh denganku.
""Menjijikan.
" Ucap Alyssa menatap ke arah Bagas.
Setelahnya dia pun berbalik.
Melangkah menjauh, mengabaikan panggilan Bagas yang memintanya untuk berhenti.
Sumber:Internet