. Iwan termenung.
Pernikahannya dengan Fitri bukanlah keinginannya, melainkan keinginan orang tuanya.
Ia tidak punya perasaan apa-apa pada Fitri, dan mungkin sebaliknya dengan wanita itu.
Mungkin saja ada pria lain yang hatinya hancur karena Fitri terpaksa harus menikahinya, sebagaimana hati Iwan yang yang hancur karena dipaksa untuk melepas mantan kekasihnya dulu.
Entah kenapa masih ada perjodohan paksa di zaman modern seperti ini.
"Kamu mungkin ga cinta sama aku... Tapi kamu masih punya kewajiban atas aku Mas," ucap Fitri sembari memijit pundak suaminya dengan manja.
Iwan tahu apa maksudnya.
Ia paham 'kode' yang diberikan Fitri.
kalau tidak ada rasa, bagaimana ia mau memberikan isi celananya untuk Fitri? Fitri pun duduk di samping Iwan dan mendekap wajah pria itu di dadanya yang kenyal dan empuk.
Iwan bisa merasakan istrinya itu tidak memakai bra di balik bajunya.
"Kita udah 2 bulan nikah.
Seenggaknya kita coba jalanin dulu... Ya?"Suara Fitri begitu dekat dengan telinganya, menghembuskan desiran hangat yang membuat tubuh Iwan mulai merinding.
Pelan-pelan ia merasakan ada sesuatu yang mulai bangkit, tetapi Iwan masih bersikeras pada Selama dirinya tidak mencintai Fitri, ia tidak mau melakukannya.
Untuk menghalau pikiran-pikiran cabul itu, Iwan terus membayangkan lose streak yang dialaminya tadi.
Tapi Fitri sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Ia telah melewati 2x datang bulan, menahan lendirnya yang terus saja merembes keluar di puncak masa suburnya.
Tapi Iwan... jangankan menggagahinya, mencium bibirnya pun tidak mau.
Pada akhirnya ia sendiri yang harus mengambil inisiatif.
Dengan gerakan erotis yang pernah dipelajarinya dari video-video dewasa, Fitri pun melucuti seluruh pakaiannya di hadapan Iwan.
Iwan hanya bisa melotot dan menahan ludah, disuguhi pemandangan Fitri yang bertelanjang bulat di hadapannya, di ruang tamu rumah mereka.
"Kenapa Mas? Kok diem aja?" Goda Fitri sambil menyentuh tonjolan di celana Iwan.
"Mau kan?""Aku... Aku ga bisa Fit...""Tapi Mas daritadi liatin 'ini' terus.
Kenapa? Lebih seksi mantanmu ya?" Fitri semakin menggoda Iwan dengan meremas-remas buah dadanya hingga membuat kedua mata Iwan melotot.
Fitri pun menghentakkan kakinya di samping kepala Iwan, mempertontonkan celah daging yang ditumbuhi rambut-rambut yang dicukur rapi.
Nafasnya sedikit tercekat ketika aroma liang kewanitaan Fitri terendus oleh Baunya begitu asing dan khas.
"Jilat Ma Aku tau kok Mas mau... Mas kan masih normal.
"Dengan bibir gemetar, Iwan bisa merasakan lidahnya menjulur sendiri tanpa bisa dikontrol, menyentuh gundukan daging berwarna kecoklatan yang basah karena berlumuran lendir bening.
Satu sentuhan kecil saja langsung membuat Fitri mengerang dengan penuh nafsu.
"Mmmhhh Ma Iya, giDan Fitri pun semakin menempelkan tubuhnya pada Iwan, membekap mulut suaminya itu dengan liang kewanitaannya.
Ia mulai bergerak dan menggesekkannya pada wajah Iwan hingga berlumuran lendir bening yang kental dan panas.
"Ouuuh Jilatin terus Mas... Ngghhh"Mmmbbgghh MbbbhhhhhhLama-lama, Iwan mulai tenggelam dalam hasratnya dan lupa bahwa ia bertekad untuk tidak menyentuh Fitri sebelum benar-benar mencintainya.
Ini juga pertama kalinya ia melakukan servis oral, karena dalam hubungan yang sebelumnya, Iwan selalu berusaha menjaga kehormatan mantan kekasihnya itu.
Setelah pegal dalam posisi itu, Fitri memerintahkan Iwan untuk rebahan di sofa.
"Mas, tiduran," perintah Fitri sambil menarik selangkangannya dari wajah Iwan.
Sumber:Internet