. Iwan baru bangun pukul 9 siang, itu pun juga dibangunkan oleh Fitri.
Untungnya saat itu hari Minggu, dan ia pun tidak ada agenda lain hari itu.
Melihat Fitri yang sudah berpakaian lengkap dengan hijabnya, Iwan pikir semua yang terjadi malam itu hanyalah mimpi, sampai akhirnya ia menyadari bahwa dirinya masih dalam kondisi telanjang bulat.
Walau begitu, ia masih belum percaya sepenuhnya kalau semalam ia dipaksa menjilati kemaluan Fitri, padahal ia masih tidak punya rasa apa pun padanya.
Tapi yang membuatnya semakin kaget adalah benda logam yang kini terpasang pada batangnya; benda tersebut tak lain adalah adalah p chastity, dan benda itu memenjarakan batangnya dalam kondisi loyo dengan ukurannya yang kecil dan sesak.
Fitri telah menggemboknya supaya Iwan tak bisa mencopot benda asing tersebut.
"Fi- Fitri? Ini apa?!"Fitri menatap Iwan dengan dingin.
"Mas lupa, kemarin aku suruh apa? Mulai sekarang panggil aku nyonya.
""Kamu serius?"Tiba-tiba Fitri menarik chastity itu, yang tentunya juga membuat batang Iwan tertarik.
"Kamu kira aku becanda?""ADUH! AH! SAKIT!" Iwan meringis.
"I- iya nyo... nyonya...""Bagus..."Iwan tertunduk, tidak sanggup membalas tatapan Fitri.
"Ta kenapa?"Fitri duduk di samping Iwan, sama seperti posisi mereka semalam saat Fitri berusaha merangsangnya.
Tangannya bermain-main di buah zakar Iwan, yang tentu saja juga membuat tubuh suaminya itu bereaksi.
"Ini hukuman buat suami yang ga mau melayani istrinya," ucap Fitri dengan setengah berbisik, menggelitik telinga Iwan dengan godaan yang langsung membuat batinnya kembali bergetar.
"Sekarang kamu rasain gimana rasanya di posisi aku selama 2 bulan, hampir 3 bulan ini...""Tapi Fi Nyonya... Aku... Aku ga berusaha nyentuh nyonya... Aku ga pernah maksa nyonya melayani aku.
Kena"Kamu itu udah jadi suami aku.
Kamu punya tanggung jawab memuaskan aku.
Soal cinta atau nggak, itu bukan urusan kamu lagi.
""Tapi nyonya....""Apa? Kamu mau tau perasaan aku? Itu ga penting juga.
Aku sebagai istri kamu tetep punya tugas melayani kamu, tugas kamu juga sama.
Tapi selama ini kamu selalu ngehindarin aku, padahal aku selalu kasih kode.
"Air mata mulai membasahi pipi Iwan.
"Aku... aku minta maaf...."Fitri pun merangkul Iwan dalam dekapan dadanya.
Dengan lembut ia mengelus rambut suaminya itu dan mengusap air matanya.
"Lupain soal mantan kamu.
Sekarang kamu punya aku.
Iya, aku tau kita dijodo Tapi mau gimana lagi? Aku juga ga pernah mikir buat minta cerai, walau mungkin kamu maunya gitu.
Tapi aku juga mikirin perasaan almarhum ayah kamu.
Kamu mikirin perasaan ibu aku?"".....""Waktu dijodohin sama kamu, aku juga udah putusin buat mulai bangun perasaan kita dari 0.
Aku udah berusaha ngobrol sama kamu, udah berusaha caritau hobi kamu, udah sering kirim kabar walau kita lagi sibuk kerja.
Selama ini kamu nyuci baju sendiri, masak sendiri, gara-gara kamu tau dari awal aku ga ada perasaan apa-apa sama kamu.
Kamu ga mau ngeberatin aku.
Tapi aku yang berat sendiri.
Aku udah lakuin semuanya buat kamu walau kamu ga pernah minta; aku bikinin sarapan, aku cuciin baju kamu, biar kamu mau buka hati kamu buat aku... Tapi kamu masih aja diemin aku.
Kamu kira aku tukang laundry, mbak warteg, ART, cukup dikasih uang sama 'makasih' doang?""Maaf... Aku minta maaf.... Maaf...." Tangisan Iwan pun semakin menjadi oleh rasa bersalah yang menghujani hatinya.
"Tapi kalo kamu masih mau kerjain semuanya sendiri, mau masak sendiri, mau nyuci sendiri, yaudah.
Tapi aku tetep butuh kamu... Aku bu lidah kamu.... batang kamu.... semuanya.
"
Sumber:Internet