. " Kalau terjadi apa2 jangan nyalahin aku ya.." kata pak Jagal sebagai sesepuh desa yg biasa dimintai pertimbangan jika akan mengadakan pertunjukan atau tanggapan untuk suatu acara.
" Ruwatan itu sakral dengan adat dan budaya leluhur, bukan hiburan tujuh belasan atau mantu.
Jadi ya harus diruwat beneran.
Kalau tanggapan itu wayang kulit, bukan tayuban atau dangdutan.
" kata pak Jagal lagi.
Yang sudah2 kalau salah nanggap lakon wayang saja di desa itu bisa kena pageblug.
Tiap hari sejak tanggapan itu ada warga yg sore sakit, paginya meninggal sampai tujuh hari tujuh malam tragedi itu .
melanda desa Warudoyong.
Karena itu sebagai sesepuh yg mengerti petungan adat jowo Mbah Jagal minta dihargai.
Itu peringatan keras dari seorang spiritual.
Kades dan warga desa Warudoyong adalah orang sekolahan jadi tidak lagi mengikuti aturan kolot seperti Mbah Jagal.
Apalagi pak kades yg pernah dengar nama Sri Rejeki yg kondang itu.
Ia ingin sekali menyaksikan goyang pinggulnya gadis panggung yg terkenal sangat cantik dan bisa dikeloni itu.
Umbul2 atau bendera kain warna warni yg dipasang sepanjang bambu sudah dipasangi di jalan protokol menuju kantor desa Warudoyong.
Kantor kelurahan sudah dipasangi janur dan umbul2.
Sedang di gedung serba guna digunakan untuk berkumpul para rombongan tayub yg datang.
Pak Kades Dalimin sudah datang di gedung serba guna untuk melihat rombongan yg datang.
Satu buah truk pengangkut gamelan serta Yogo sudah darang kemaren sore.
Siang itu yg langsung bisa ditonton kuda lumping atau jaran dor yg sudah dikerubungi anak kecil seneng melihat penarinya dicambuk dan kesurupan makan beling dan gabah kering.
Mbah Gudel yg ngurusin ilmu para penari jaran dor.
Anak2 kecil paling suka melihat atraksi seperti itu.
Mbah Sonto datang bersama rombongan ledek/ penari tayub satu mobil yg langsung masuk ke dalam gedung serba guna tapi bagian belakang yg disekat dengan kain warna hitam.
Para penari lama naik satu mobil elf yg besar itu.
Sedang penari untul bawang naik motor sendiri.
Pak kades yg duduk di pintu utama clingukan tidak melihat rombongan penari itu masuk ke gedung utama serba guna.
" Itu mereka sudah datang pak" kata Kiwil menunjuk mobil elf yg parkir di sebelah kantor desa.
" Lha rombongan penarinya kemana ? " tanya pak lurah.
" Sudah masuk semua kok.
"Pak kades pengin melihat seperti apa sih para penari yg cantik2 itu, ia penasaran sekali.
Pak kades ingin masuk melihat mereka, tapi ditolak oleh tim dari rombongan karena sedang diruwat Mbah Sonto.
" Jaman gini masih pakai ruwatan buat apa sih ? " kata pak kades dalam hati.
Mbah Sonto hanya membaca mantra sedikit sambil mengusap tubuh para penari satu persatu sebelum mengenakan pakaian tari.
Termasuk Raisa yg anggora baru mesti lebih lama Mbah Sonto mengurus gadis itu kayak bayi saja.
Nanti malam Mbah Sonto kebagian ngeloni Raisa yg pada saat joget nanti dipasangi topeng tua.
Agar tidak ada penonton yg tertarik dan nyawer.
Malam nanti Raisa yg penari baru SMA itu adalah milik Mbah Sonto.
Saat gamelan centei dan kendang sudah berkumandang mengawali lagu dolanan, para penari yg ditunggu penonton sudah mulai naik panggung.
Ada 12 penari yg malam itu tampak seperti remaja tujuh belas tahun.
Pak kades yg duduk di deretan depan sudah mencari cari penari yg bernama Sri rejeki.
Semua penari tampak masih remaja karena disulap oleh Mbah Sonto.
Ada satu penari yg tidak bisa masuk ke dalam panggung adalah Kiki yg gemetaran saat kakinya melangkah ke panggung yg sudah dipasangi rajah Mbah Sonto.
Kiki akhirnya tidak jadi naik panggung dan istirahat di dalam kamar bersama Mbah Sonto.
" Kenapa nduk ? Gak bisa nari ya ?" seloroh Mbah Sonto sambil tertawa minum kopi.
Kiki cemberut tidak menjawab.
Padahal ingin sekali ia ikut, tadi sudah ada penonton yg melihatnya terus dan bertanya kenapa tidak ikut nari.
" Kalau mau ikut, harus mau Mbah ruwat.
Gimana ?" tanya Mbah Sonto.
" Iya Mba disini bisa nggak ?" tanya Kiki kemudian.
" Yowes, pintune dikunci dari dalem ya.
" kata Mbah Sonto.
Kiki menurut berdiri dan mengunci pintu kamar kusus itu.
" Wes gek klambine diuculi Kabeh trus mlumah no amben Kono.
/ ya sudah kamu buka baju dan tiduran di kasur itu.
" kata Mbah Sonto sambil meneguk kopi.
Kiki yg masih remaja bau kencur itu tidak pernah mau membuka baju didepan bapaknya, apalagi didepan lelaki lain yg lebih tua seperti Mbah Sonto..Dengan berat hati akhirnya Kiki menuruti kemauan Mbah Sonto .
Ia memejamkan mata saat Mbah Sonto mengolesi betisnya hingga pahanya dengan minyak serimpi dan ia dengar mantra yg dibacakan Mbah Sonto.
Entah kenapa tiba2 ia jadi senang saat tubuhnya diraba sambil disembur air kembang oleh mulut Mbah Sonto.
Sedang dadanya berdegub kencang bila tangan Mbah Sonto meraba sambil membaca mantra yg tak dimengerti Kiki.
Gadis itu bangkit dengan wajah bersinar dan tubuh segar setelah Mbah Sonto usai meruwat.
Mbah Sonto tersenyum memandangi tubuh Kiki yg telah diruwatnya tampak sangat bersinar dan sangat menarik.
" Nah sekarang kamu boleh ikut naik panggung.
" kata Mbah Sonto usai meruwat dan menyunat Kiki.
Kiki tampak bergairah dan masih ingat rasa nikmat yg diberikan Mbah Sonto malam itu.
Kiki akhirnya kembali keluar dan naik ke atas panggung ikut menari mengiringi tembang lagu yg didengar.
Kiki jadi bersemangat menari sambil pamer bakatnya menari jaipong.
Kiki malam itu jadi sangat bersemangat dan penuh gairah menari diatas panggung bak penari pemuda gagah langsung naik panggung berjoget dan menyawer Raisa.
Raisa jadi sangat bergairah ketika itu.
Sehebat itukah pengaruh ruwatan Mbah Sonto ?" Duaaaarrrr !!!"Namun tiba 2 terdengar petir menyambar disertai hujan gerimis yg deras mengguyur panggung.
Kilatan petir yg disusul suara menggelegar itu telah memakan korban pak kades.
" Stop !! Stop !!" teriak Kiwil yg langsung menolong pak Kades yg sekarat karena tubuhnya gosong disambar petir.
Penonton bubar dan para perangkat berteduh di gedung serba guna.
Gamelan kembali berkumandang ketika hujan sebentar saja sudah surut dan berhenti.
Mbah Sonto tetap tanggap bila hujan itu bukan salahnya yg menjadi pawang hujan, tapi karena ada persyaratan bagi penyelenggara acara yg tak dipenuhi.
Sesepuh desa itu Mbah Jagal sudah wanti2 kalau menanggap tayub bisa terjadi musibah.
Sri Rejeki malam itu tidak ada yg nyawer.
Bahkan penonton merasa tidak nyaman karena mendung tampak menggantung di langit yg gelap disertai hujan yg walaupun gerimis tak henti2.
Kiki malam itu tidur bersama Mbah Sonto setelah capai menari dan turun makan.
Rasanya ngantuk dan dingin minta dikeloni Mbah Sonto yg sudah siap dengan kehangatan tangannya membelai setiap lekuk tubuh indah remaja itu.
Kiki yg kelelahan joget tak lagi bisa membuka mata selain mendesah saat miliknya digenjot Mbah Sonto sepanjang malam.
Sumber:Internet