. Lurah Gatot nekat mengikuti Sri Rejeki dari panggung di Sragen hingga rumahnya.
Ia nekat naik bis tidak ikut rombongan tayub dan ledek lain.
Di rumah janda beranak dua itu Gatot royal bagi2 duit buat Tini dan Uty kakak adik anak Sri Rejeki agar tidak ngglibet di rumah saja.
Gatot baru datang pagi ini karena takut kalau nginep ditangkep hansip nanti.
" Ya kalau nginep pasti ditangkep" kata Sri Rejeki yg di dalam kamar sudah tak pakai kutang saat berciuman dengan lurah Gatot.
Gatot sudah sangat kebelet membuka celana.
Sri Rejeki melirik burung Gatot tersenyum.
Gene muk sak mlinjo gedene.
Batin Sri Rejeki ngecengin.
Gatot begitu melihat milik Sri Rejeki yg imut tanpa rumput tentu langsung tidak tahan ingin menikmati.
Nafsu sih besar tapi lihat modal Lo cuma burung emprit.
Kata Sri dalam hati.
Tapi susuk pemikat dan rajah milik Sri Rejeki memang sangat mustajab.
Gatot sudah tergila- gila hingga rela menjual sepetak sawah untuk membahagiakan ledek Tayub itu.
" sakit mas.." bisik Srirejeki yg bersandiwara saat miliknya dinganu Gatot yg sesungguhnya tak terasa apapun karena burungnya cuma emprit.
Gatot saja sudah ngos2 an main baru lima menit hingga burungnya cepat loyo kayak kulit pisang rebus.
Mau pulang tengah malam, pak kades yg bawa motor matic masih dianter Sri Rejeki kayak anak SMP saja pakai cipokan.
Sri sempet minta ditinggalin buat beli buku anaknya.
" Ya sudah aku pulang dulu ya dik.
Itu dipakai dulu duitnya, ntar kalo habis telpon.
Besok Minggu aku datang lagi kok.
" kata pak Gatot.
Sri Rejeki masuk kamar menghitung uang pemberian Gatot 1,5:juta.
Bisa buat makan sebulan kalau Mbah Sonto tidak ngemis.
Kata wanita itu dalam hati.
Di rumah sebelah adalah milik Mbah Sonto yg bersiap mengajari joget para penari baru sambil colek2 susu.
Uty dan Tini itu senang kalau nonton Mbah Sonto mengajari penari tayub baru sambil mentil.
" Ayoh kamu pulang sana.
bocah kok seneng meliat barang.
" kata Mbah Sonto saat meruwat Kiki yg sudah dimandikan air kembang.
Kiki yg masih SMP itu punya body bagus dan berkulit kuning.
Tapi dengan Mbah Sonto yg sudah tua begitu nurut.
Tini yg masih SD klas 6 menarik nafas melihat kakeknya beraksi.
Kiki terpaksa pasrah karena ingin sekali menjadi penari terkenal seperti Bu Meriwis.
Dengan diruwat dan diberi susuk Mbah Sonto, Kiki jadi tegar dan lincah sekali menari diatas panggung hingga banyak yg ngefan.
Sayangnya ia harus merawat susuknya sebulan sekali dengan sentuhan Mbah Sonto.
Bahkan ia merasakan kenikmatan yg luar biasa dan ketagihan digenjot dukun tua itu.
***Tanggapan di Sangiran Mbah Sonto bersama Joko Gedek sebagai pengelola grup sudah berangkat bersama nayoga serta gamelan satu truk.
Sedang rombongan ledek tayub naik mobil elf besar yg muat 20 orang penari muda dan tua.
Joko Gedek akan membayar Sri Rejeki bintang utama lebih besar dari anggota lain.
" Mba hari apa sih ?" tanya Joko takut salah etungan saat tanggapan.
Joko trauma bila salah etungan hari dan pasaran bisa celaka.
" Setu Legi genah.
Wes tak etung Yo Lee... westo tenang ae.
" kata Mbah Sonto.
" Ya udah Mba ganggu" kata Joko yg lalu pamitan pergi.
Mbah Sonto sudah dikirim makanan oleh Bu Mitro yg anaknya dapet saweran banyak kemarin.
" Ini Mbah ada makanan ringan yg beli genduk Raisa kemarin Terimakasih ya Mbah sudah menolong anaku bisa jadi Putri penari tayub.
" kata Bu Mitro sambil meletakkan se baki snek ke meja Mbah Sonto.
Mbah Sonto langsung boleh ke samping ada Tini yg nunggu dari tadi.
" Ini makano nduk.. pileh sukaanmu.
Lemper opo lontong' kata Mbah Sonto sambil menyodorkan makanan kepada gadis remaja itu.
Tapi Tini malah beranjak naik ke jok sambil berbisik ke telinga Mbah Sonto .
" Pengin pegang lontong Mbah.
"" Yo gari nyekel nek njero sarung"" Besar amat lontongnya"" Sana kamu tutup pintunya dulu" kata Mbah Sonto menyuruh Tini untuk mengonci pintu takut ada tamu masuk kan malu.
Gadis itupun beranjak berdiri setelah yakin lontong yg dikepel sudah tegak.
" Makmu kemana ?"" Kan dijemput pak lurah dari pagi.
belum pulang.
Mbah ndelok manukmu dilit ae" kata Tini.
" Yowes kene nek sandingku gari ngrogoh Jero sarung.
Ndelok gawukmu.
" Tini dengan senang hati melepas celana dan duduk di samping Mbah Sonto sambil membiarkan barangnya diduleki jari dukun tua itu.
" Keriii Mbah.. hi hi hi.." tawa Tini yg cekikikan kegelian.
" Nek ngono uwes Yoo"" Ya terus ajaa..kan lama2 enak.
" kata Tuty yg masih kelas enam SD itu merasa ketagihan main dikter2an dengan Mbah Sonto.
" Hussh .
iseh cilik kowe/ masih kecil kamu.
" kata Mbah Sonto menyudahi permainannya.
" Udah sana pakai bajumu" Tini masih tergeletak diatas kursi sofa .
Mbah Sonto geleng kepala melihat tubuh mungil Tini yg mulai merekah dan bersih sejak suka mengintip ruwatan.
Tini yg setiap pulang sekolah cepat2 ke kamar Mbah Sonto untuk minta uang jajan atau makanan sajen sambil memainkan tongkat dukun tua itu saat tertidur.
Entah kenapa dua gadis kecil itu jadi suka mainin lemper yg lucu.
Lucunya kalau dipijit makin besar dan keras.
Dan kalau sudah mengeras, pemiliknya malah tertawa cekikikan.
" Kamu tuh ngopo to nduk"" Lucuuu lempermu Mbah" Mbah Sonto masabodo dengan dua anak Sri Rejeki yg suka mainin lontongnya dan keduanya lantas melepas baju dan tidur disamping dukun tua itu.
Sumber:Internet