Gelap

Nafsu Sang Ceo 3

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Nafsu Sang Ceo 3

. Sambil menyenderkan kepalanya di kaca jendela mobil yang sedikit berembun, Serena memperhatikan jalanan yang ada di hadapannya dengan tatapan nyaris kosong.
Raganya memang ada di sini, sedang duduk di kursi penumpang di dalam mobil yang sedang dikendarai Erick, tapi jiwanya sedang berkelana entah ke mana.
Erick, yang sedaritadi masih fokus menyetir mobil jaguar nya, sesekali curi-curi pandang memandang wajah cantik Serena.
Raut wajah Serena nampak sangat kacau.
Serena nampak begitu sedih dan putus asa, seolah-olah esok adalah hari terakhirnya bisa menghirup udara di dunia.
"Kamu mau dengar lagu? Atau dengar radio mungkin?" tanya Erick yang mulai merasa tak betah lama-lama berdiam diri seperti ini.
Serena tak merespon, hanya menggelengkan kepalanya.
Hening.
Setelah itu, keduanya benar-benar tak saling bicara.
Hanya suara berisik kendaraan bermotor dan suara klakson yang memekakan telinga yang mengisi kekosongan di tengah-tengah mobil yang sedang dinaiki Erick dan Serena.
Hampir satu jam kemudian, Erick dan Serena akhirnya sampai di tempat tujuan.
Ya, kediaman pribadi milik seorang Erick Navarro.
Sebuah rumah megah nan luas bergaya modern minimalis berlantai dua, ditambah dengan garasi, kolam renang pribadi, serta sebuah taman yang dihiasi banyak bunga anggrek dan pohon pinus.
"Kita sudah sampai," kata Erick selepas mematikan dan memarkir mobil jaguar hitamnya.
Serena lagi-lagi sama sekali tak merespon.
Begitu menoleh, Erick mendapati Serena sedang kesulitan membuka seat belt nya.
Dahi mulus Serena nampak berkerut.
Serena Yatalana memang jarang naik turun mobil.
Hampir tak pernah malah.
Tapi sepanjang naik mobil, entah mengapa Serena merasa sepertinya mobil ini yang paling sulit dibuka seat belt nya.
Melihat Serena yang masih kesulitan membuka seat belt nya, Erick langsung tersenyum geli, "Sini aku bantu.
" Dengan perlahan, Erick mendekati Serena lalu membantu Serena melepaskan seat belt nya.
Begitu seat belt nya sudah terbuka, untuk sejenak, Erick dan Serena hanya saling menatap.
Jarak di antara keduanya begitu dekat.
Sangkin dekatnya, sampai-sampai Erick dan Serena bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
Deg, deg.
Seketika, jantung Erick Navarro berdegup lebih kencang.
Oh bahkan jika dilihat dari dekat seperti ini, Serena terlihat semakin cantik.
"Ada apa, Erick?" tanya Serena bingung.
Seketika, Erick langsung tersadar dari lamunannya.
Erick langsung bergerak menjauh, lalu membuka pintu mobilnya.
"Let's go," kata Erick yang sudah semakin salah tingkah.
Serena langsung melongo begitu menginjakkan kakinya di dalam rumah Erick.
Sungguh, sepanjang sejarah hidupnya, belum pernah Serena masuk ke dalam rumah seluas dan semegah ini.
"Ini .. benar-benar rumah kamu?" tanya Serena sambil menyentuh sebuah guci kristal kecil yang terletak di atas meja kayu jati besar di hadapannya dengan tatapan takjub.
Erick tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja.
Masa rumah tetangga?" Tak lama setelahnya, seorang laki-laki berusia sekitar 50-an awal menghampiri Erick dan Serena.
Laki-laki itu menatap Serena sejenak dari ujung kaki sampai ujung rambutnya dengan tatapan sedikit bingung, sebelum akhirnya beralih menatap Erick dan tersenyum hangat.
"Selamat malam, Tuan Erick," sapa laki-laki itu.
"Selamat malam, Satya.
Kamu sudah siapkan koki untuk memasak makan malamnya kan?" tanya Erick.
'Ck, orang kaya.
Mau makan malam pun tinggal minta dibuatkan,' batin Serena.
Satya mengangguk, "Sudah, Tuan.
"
Sumber:Internet