. Serena membuka pintu kamar tidurnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Jantungnya berdegup semakin kencang, napasnya semakin memburu.
Begitu pintu kamarnya sudah terbuka, Serena langsung berhadapan dengan Erick Navarro, yang sedang berdiri sambil menatapinya dengan sebuah senyum di wajah gantengnya.
Erick tersenyum hangat, "Aku boleh masuk?" "Bo .. boleh," jawab Serena takut-takut.
Dengan langkah pelan, Erick memasuki kamar tidur Serena.
Laki-laki tampan yang badannya tinggi semampai itu lalu duduk di pinggir ranjang tempat tidur Serena.
Dengan sebuah senyum yang tak pernah luntur dari wajah tampannya, Erick menepuk space kosong di samping ranjang yang dia duduki.
"Come here," perintah Erick.
Dengan langkah yang sedikit gemetar, Serena mulai berjalan mendekati Erick, lalu duduk tepat di sampingnya.
Indera penciuman Erick langsung dipenuhi oleh aroma sabun lavender dan mawar yang begitu harum.
"Kamu sudah mandi?" tanya Erick yang kedua matanya seolah-olah tak pernah bisa lepas memandangi wajah cantik Serena.
Serena hanya mengangguk.
Kepalanya tertunduk, kedua mata indahnya menerawang sambil memperhatikan lantai marmer kamar tidurnya yang terlihat begitu licin dan bersih.
Serena masih enggan menatap wajah laki-laki tampan keturunan setengah Jerman yang sedang duduk tepat di sampingnya ini.
Dengan perlahan, Erick menangkupkan wajah Serena dengan kedua tangannya, membuat matanya dan mata indah Serena akhirnya bertemu.
Untuk sesaat, Erick dan Serena hanya saling tatap.
"Kamu cantik sekali, Serena .." bisik Erick dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.
Perlahan, kedua matanya mulai dipenuhi oleh kabut hasrat dan gairah.
Erick mengelus pipi Serena yang sedikit kemerah-merahan itu dengan ibu jarinya, "Bolehkah aku menyentuhmu?" Untuk sesaat, Serena Yatalana seolah-olah terbius oleh pesona seorang Erick Navarro.
Di bawah pencahayaan lampu kamar tidurnya yang agak temaram, Serena memperhatikan setiap detil wajah Erick dalam-dalam.
Kedua mata Erick terlihat begitu tegas.
Alis tebalnya terbentuk dengan begitu rapih dan nyaris sempurna.
Batang hidungnya begitu lurus dan tinggi semampai, khas ala hidung kaukasia.
Bibir Erick yang terlihat begitu halus itu berwarna kemerahan namun sedikit pucat.
Rahangnya yang terpahat tajam nan tirus itu terlihat begitu maskulin, ditambah dengan rambut tebalnya yang berwarna hitam agak kecoklatan.
Untuk sesaat, Serena hanya terdiam sambil terus memandangi wajah Erick.
Ya, harus Serena akui, Erick Navarro memang sempurna.
Erick, yang melihat Serena tak kunjung menjawab, akhirnya angkat bicara lagi.
"Jawab aku, Serena," kata Erick sambil menekankan setiap kata dalam ucapannya.
Serena hanya mengangguk perlahan.
'Andaikata aku berkata tidak pun, kamu akan tetap menyentuhku kan?' batin Serena.
Dengan begitu perlahan, Erick mulai menciumi bibir Serena.
Awalnya Serena masih merasa tertegun kala bibir Erick akhirnya menyentuh bibirnya.
Namun perlahan tapi pasti, Serena akhirnya menutup kedua matanya, mulai terbuai oleh ciuman bibir Erick yang terasa begitu lembut dan tidak memaksa.
Jari-jari tangan Erick yang kokoh dan terasa begitu lembut itu mulai bergerak turun, menyusuri kulit leher Serena yang terasa begitu halus, hingga akhirnya sampai pada kedua lengannya.
Dengan perlahan, Erick membaringkan tubuh Serena di atas ranjang tempat tidurnya.
Erick lalu bergerak, menindih tubuh Serena dan menghujani leher mulusnya dengan kecupan dan ciuman penuh kasih sayang.
Setelahnya Erick berhenti sejenak, memperhatikan wajah cantik Serena yang kini berada di bawah dekapan hangat tubuhnya.
Erick menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Serena lalu mencium bibirnya sekilas.
"Kamu membuat aku gila, Serena ..," bisik Erick dengan suara beratnya yang terdengar begitu penuh dengan gairah.
Sumber:Internet