. Suara kicauan burung yang terdengar bak nyanyian indah di pagi hari membangunkan Serena dari tidur lelapnya.
Serena mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, lalu beralih meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah semalaman tertidur pulas.
Begitu terbangun dari tidur lelapnya, Serena langsung membuka selimut putih tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
Serena langsung menghela napas lega begitu tahu dirinya masih berpakaian lengkap.
Ya, itu artinya hanya satu.
Erick benar-benar tidak jadi menyentuhnya kemarin malam.
"Selamat ..," ucap Serena lega.
Dengan sigap, Serena langsung bangkit dari atas ranjang empuknya lalu berjalan santai menuju sebuah kaca besar yang terletak di belakang meja rias di dalam kamar tidurnya.
Serena menyisir rambut tebal nan halusnya perlahan, sambil terus memperhatikan pantulan dirinya yang tercermin melalui sebuah kaca besar di hadapannya.
Kedua mata indah Serena langsung terpana begitu melihat beberapa tanda kebiruan yang menghiasi leher mulusnya.
"Eh?" kata Serena bingung.
Dengan perlahan, Serena membuka kancing piyama tidurnya satu per satu.
Begitu sudah terbuka setengah sampai ke bagian payudaranya, kedua mata Serena tambah membulat.
Beberapa tanda kebiruan menghiasi mulai dari leher hingga turun ke bagian payudaranya.
Sebuah kissmark.
Hasil cumbuan panas bibir Erick semalam.
Blush.
Pipi Serena langsung merona padam begitu dirinya teringat kembali betapa panas dan menggairahkannya cumbuan bibir Erick tadi malam.
Masih teringat jelas dalam benak Serena, betapa lembutnya sapuan bibir Erick di atas tubuhnya.
Betapa memabukannya remasan tangan itu di atas kedua payudaranya.
Betapa menggairahkannya tatapan kedua mata seorang Erick Navarro.
Dengan cekatan, Serena langsung mengancing kembali piyama tidurnya dengan rapih lalu beralih merapihkan ranjang tempat tidurnya sejenak.
Tak lama setelahnya, Serena langsung beranjak keluar dari kamar tidurnya.
Perutnya mulai keroncongan, sudah berteriak minta makan.
Deg.
Serena langsung tertegun begitu pintu kamar tidurnya sudah terbuka.
Ya, Serena baru ingat kalau dirinya sama sekali tidak mengunci pintu kamar tidurnya tadi malam.
Erick bisa saja diam-diam memasuki kamar tidurnya.
Lalu dalam gelap dan temaramnya lampu kamar tidurnya, Erick mulai mencumbu sekujur tubuhnya.
Menindih tubuh mungilnya.
Bercinta dengannya saat dirinya sedang lelap tertidur .. Tapi Erick tidak melakukan itu semua.
Seketika, Serena langsung menggelengkan kepalanya.
Tidak, Serena tidak boleh memikirkan Erick barang sepersekian detik pun.
Begitu keluar dari kamar tidurnya, Serena mendapati wangi harum masakan dan bunyi berisik orang yang sedang sibuk masak dari arah dapur di rumah Erick.
Begitu sampai di dapur, Serena mendapati Erick sedang asik berkutat dengan wajan penggorengan dan spatula di tangan kanannya.
Erick langsung menoleh dan tersenyum begitu mendengar suara langkah kaki Serena, "Morning (pagi).
" Serena membalas senyum Erick, "Pagi.
" Serena berjalan perlahan mendekati Erick, "Kamu lagi masak apa?" "Telur mata sapi sama roti panggang.
Kamu mau?" jawab Erick.
Bukannya menjawab, Serena malah jadi gagal fokus pada tubuh laki-laki tampan yang badannya tinggi semampai di hadapannya ini.
Bagaimana tidak? Erick Navarro masih topless.
Otot-otot tubuhnya yang terbentuk nyaris sempurna dan sangat minim lemak itu terlihat sedikit mengkilap di bawah pantulan lampu yang menerangi dapur rumahnya.
Rambut hitam kecoklatannya yang begitu tebal itu masih sedikit acak-acakan.
Hanya sebuah boxer hitam yang menggantung asal di pinggang Erick, menutupi daerah kejantanannya yang terlihat begitu menonjol dari balik celana boxer nya.
Sumber:Internet