. (Warning) Chapter ini mengandung adegan dewasa Pagi ini Serena bangun dari tidurnya dengan perasaan yang entah mengapa, terasa begitu bahagia.
Setelah melewati hari yang panjang dalam hidupnya dalam belenggu kekhawatiran dan kesedihan, karena terus memikirkan kesehatan ayahnya, pagi ini semua belenggu itu seketika langsung lenyap.
Hilang bagaikan ditelan Bumi.
Seolah-olah rasa khawatir dan sedih yang sempat menghinggapi diri Serena memang tak pernah ada.
Begitu bangun dari tidur lelapnya, Serena langsung merapihkan ranjang tempat tidurnya dengan perasaan berbunga-bunga.
Bahkan tanpa disadari, sebuah alunan lagu keluar dari bibir Serena saat dirinya sedang sibuk melipat selimut putih yang digunakannya untuk menghangatkan tubuhnya di tengah dinginnya malam.
Serena sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku sejenak, saat tiba-tiba ponsel jadulnya berbunyi.
Ada satu chat masuk.
Tentu saja dari Erick Navarro.
'Aku on the way ke rumah kamu,' kata Erick dalam chat singkatnya yang super singkat itu.
Serena memperhatikan angka-angka digital penunjuk jam yang terpampang di ponsel jadulnya sejenak.
Waktu menunjukkan baru pukul enam pagi, dan Erick sudah bergerak cepat dalam perjalanan menuju rumahnya.
Serena langsung tertegun, "Oh, astaga.
" Setelahnya, Serena langsung beranjak mengambil sisir yang tergeletak di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya, menyisir sebentar rambut panjangnya yang masih acak-acakan, lalu beranjak mengikat rambut panjangnya asal-asalan.
Serena baru saja selesai mengikat rambutnya dan meletakkan sisirnya kembali di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya, saat tiba-tiba kedua mata indahnya terpana akan sebuah foto kecil yang terbingkai rapih di dalam figura berwarna coklat.
Foto itu tergeletak di atas kursi di samping meja kayu kecilnya, persis di samping tumpukan baju yang baru saja selesai disetrika.
Ya, foto yang terbingkai rapih itu adalah foto Serena bersama dengan Pierre .. mantan tunangannya yang sudah lama pergi.
Dahi mulus Serena langsung mengkerut.
Padahal Serena ingat betul kalau sudah lama dirinya menyimpan foto itu di dalam laci meja kayu kecilnya.
Tapi entah mengapa, pagi ini Serena mendapati foto itu sudah tergeletak rapih di atas kursi.
Seolah-olah seseorang baru saja mengeluarkannya lalu meletakkannya di atas kursi dengan sengaja.
"Kenapa foto ini bisa ada di sini?" tanya Serena bingung.
Setelahnya, Serena hanya terdiam sejenak sambil menatapi wajah tampan Pierre yang terpotret indah dalam foto itu.
Masih teringat betul dalam benak Serena, kapan dan di mana foto itu diambil.
Ya, waktu itu, di sebuah pantai yang anginnya berhembus sepoi-sepoi.
Di tengah indahnya matahari terbenam yang cahayanya berwarna oranye kemerahan.
Sebuah hari yang indah, hari dimana Pierre memberikannya sebuah cincin emas sebagai tanda keseriusan cintanya.
Sebuah kenangan indah, yang sayangnya kini hanya menyisakan rasa perih dan pilu hati saja.
Serena tersenyum getir, "Mungkin aku cuman lupa menaruhnya kembali .." Setelahnya, Serena langsung meletakkan kembali foto berfigura itu di dalam laci meja kayu kecilnya.
Foto itu diletakkan Serena persis di samping sebuah kotak kecil berlapis beludru warna merah, tempat cincin emas yang diberikan Pierre padanya waktu itu.
Sudah lama sekali Serena 'mengubur' foto dan cincin emas itu di dalam sana.
Jangankan mau memakai kembali cincin emas itu, bahkan hati Serena masih terasa sakit setiap kali harus melihat wajah tampan Pierre, yang terpotret indah di dalam fotonya.
Tok .. Tok .. Tok .. Dengan langkah cepat, Serena berjalan keluar menuju pintu kamarnya begitu mendengar suara pintu kayu rumahnya diketuk.
Begitu membuka pintu kayu rumahnya, Serena langsung dihadiahkan sebuah senyum hangat dari seorang Erick Navarro.
Sumber:Internet