Gelap

Nenekku Pahlawanku 21 19

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Nenekku Pahlawanku 21 19

. ***Senandung merdu burung-burung di alam bebas bagai terompet sangkakala.
Seolah merobek gendang telinga.
Memaksa kesadaranku pulih.
Baru beberapa persen nyawaku terkumpul, serangan selanjutnya datang dari arah dapur.
Serangan yang tak bisa kuabaikan.
Adalah harum wangi seseorang yang tengah memasak di dapur belakang rumah.
Satu-satunya nama yang pastinya beliaulah pelakunya.
Beliau bukan sembarang beliau.
Kuda tua nan binal yang semalam menunggang liar di atas tubuhku.
Nenek.
Harusnya aku memanggil sayang.
Wanita tua kelewat genit itu sama sekali tak pantas menyandang nama sebagus itu, andai ada orang yang benar-benar waras menormalisakan persetubuhan sedarah yang berlindung dibalik kata 'suka sama suka'.
Bajingan.
Entah aku harus ikut menghujat diriku sendiri atau tidak, yang jelas aku paling benci pepatah tersebut.
Pasalnya, kalau sekadar suka sama suka, tuh mbak-mbak sales rokok juga suka.
Maksudnya, suka jika kita membeli dagangannya.
Terus, bagaiamana? Ya suruh ngisi formulir, lah.
Nama, nomor telepon, dan status.
Kalau Dewa Hujan memberi lampu hijau dengan kode gerimis rintik-rintik disertai bau wangi bunga kasturi, sikat saja ajak ke hotel.
Tapi, kalau misal si mbaknya lagi haid, bagaimana? Kan masih ada lubang satunya.
Seperti kata pepatah, 'tidak ada rotan, silit pun jadi'.
"Bangsat! Yang bener itu, tidak ada rotan, akar pun jadi!" si Palu Gatot ikut nimbrung diriku yang sedang berbicara sendiri.
"Ck! Puncak komedinya ada di situ.
Kamu itu ganggu aja.
Udah bagus kamu mingkem dari semalam, eh, pagi-pagi bukannya mengucap terima kasih sudah dikasih jatah malah menghujat diriku.
Sedih kata aku teh.
""Nggak usah sok gaul kalau ngomong, Kapten.
Aku ngambek nggak ngaceng, mampus kamu.
""Mau ngaceng kek, tidur kek, salto kek, terserah kamu.
Aku masih punya tangan, mulut, dan lidah.
Emang elu siapa sok penting?""Yeee! Ngelunjak si cucu cabul.
Woi, saos tiram, dengerin aku, ya.
Mentang-mentang ganteng, jangan dikira bisa menaklukkan wanita kalau nggak ada aku.
Aduh ... kasihan dah.
""Menyimak sambil ancang-ancang nyoblos paslon nomor empat.
""Gubluk! Paslonnya cuma tiga, bluk.
""Yang keempat ada.
Kamu sih cuma punya mulut tapi nggak punya mata.
Jadi picek.
""Asu! Terus siapa yang kamu maksud, Kapten Celeng?""Ada, deh.
Bentar lagi keluar ke permukaan.
Tunggu aja tanggal mainnya.
Bener nggak, Mas Bara dan Mas Berto?"Di isekai, dua batangan yang sedang sibuk makan kucur, tiba-tiba tersedot ke dalam blackhole.
Lubang hitam yang membawanya masuk ke dimensi lain.
Sialnya, dua lelaki gembel itu malah terlempar ke Desa Gentengan.
Sialnya lagi, pendaratan mereka kurang mulus.
Alhasil, wajah mereka lebih dulu mencium lantai kamar.
Terjengkang.
"SOPO SENG EDO TENSEI AKU MERENE, NDENG, GENDENG?!" (SIAPA YANG EDO TENSEI AKU KE SINI, LA, GILA?!) teriakan garang Mas Bara menjadi bunyi kedua yang merusak pendengaranku.
Harusnya aku lakban mulutnya.
Bajingan.
"Iki nandi, ho? Suroboyo jelas gak adem ngene iki.
Iki pasti ndek Hawai.
" (Ini di mana, ho? Surabaya jelas tidak dingin seperti ini.
Ini pasti di Hawai.
) Mas Berto nyeletuk, sambil menggigil kedinginan.
Wajahnya pucat seperti mayat.
Kalau disandingkan dengan mumi, jelas si mumi akan kembali ke peti.
Kalah saing.
"Nggih, nggih.
Ngapunten sanget menawi wonten lepat, kulo nyuwun atusan papat.
" (Iya, iya.
Mohon maaf bila ada salah, saya minta ratusan empat.
) Aku berkata sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, lalu tanganku menengadah.

Sumber:Internet