Gelap

Nenekku Pahlawanku 21 21

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Nenekku Pahlawanku 21 21

. ***Yang membuatku semakin menyukai perangai Nenek adalah saat ia menempatkan diri di tengah-tengah pertikaian.
Tidak membenarkan perbutanku, juga tidak menyalahkan tindakanku.
Nenek membantu Adam.
Mengkondisikan pemuda tambun itu.
Ia didudukkan di atas potongan kayu dengan wajah bersimbah darah.
Wajar, darah mengucur dari mulut dan hidungnya.
Sepetinya upper cut-ku terlalu keras.
Atau ... Adam saja yang terlalu lemah?Di tengah-tengah Nenek yang sedang memberikan obat tetes pada luka robek di dagu dan area wajah, dari arah yang sama saat Adam datang, muncullah seseorang yang kukenal.
Suami Bu Rini, yang tak lain adalah Pak Kusno.
Melihat anaknya yang terluka, Pak Kusno sedikit berlari dengan wajah panik menghampiri Adam.
Lalu, ia bertanya entah kepada siapa, "Kenapa ini?" tentu saja pertanyaan yang tak perlu dijawab.
Sudah jelas di depan mata kalau anaknya terluka dan berdarah, pastinya pelaku utama adalah orang yang duduk bertopang pipi sambil rokokan.
Siapa lagi kalau bukan aku.
"Ngapunten, Pak No.
Aku yang menghajar anak sampeyan.
" Aku buka suara tanpa sedikit pun menurunkan intimidasi lewat tatapan mata.
Pak Kusno menoleh.
Menatapku ngeri, lalu dengan wajah marah campur segan, ia bertanya, "Kenapa Mas Kobe melakukan ini?""Hanya salah paham aja, Pak.
Nih, aku juga dibogem sama Adam.
" Aku menjawab santai, sambil menunjuk hidungku yang kusumpal dua kapas guna menekan darah yang tak berhenti mengucur.
"Salah paham gimana, ya, Mas Kobe? Apa anak Bapak melakukan hal yang kurang pantas sampai harus sampeyan hajar sampai hancur seperti ini?""Aku nggak mau menjelaskan apa dan bagaimana.
Kalau Pak No menuntut jawaban, lebih baik tanyakan saja langsung sama Adam ..." aku menghisap rokokku dalam, lantas menambahkan, "itu pun kalau Adam mau mengaku.
"Adam yang setengah sadar, sudah jelas mendengar ucapanku.
Ia hanya menggeleng-geleng tidak jelas.
Wajahnya pucat seperti orang yang sedang dikejar pitbull.
Di sisi lain, Nenek yang sudah selesai mengobati Adam segera membereskan kotak P3K.
Meletakkannya di dekat rantang yang dibawakan oleh Adam, lalu mulai bergabung ke dalam obrolan.
"Biasa anak muda, No.
Pentilku ini lho jadi rebutan sama mereka.
" Dengan santainya, Nenek berujar tanpa berusaha menjaga harkat martabat dirinya sebagai soerang wanita sekaligus orang tua yang disegani.
Wanita penuh kejujuran, yang kejujurannya membuat semua orang keringat dingin.
Bangsat!Aku sampai tersedak ludah dan asap rokok sekaligus.
Tak jauh berbeda dengan Adam yang keselek air minum.
Gelasnya juga bisa masuk ke tenggorokan andai Pak Kusno tidak segera menepuk-nepuk tengkuk leher Adam.
Bajingan.
Momen tegang yang melibatkan darah dan permusuhan seketika runtuh hanya dengan rangkaian kata membentuk kalimat yang diucapkan oleh Nenek.
Betapa menyebalkan dan menjengkelkannya wanita bertetek jumbo ini.
Pantas saja Kakek sampai stroke.
Mungkin saja sakitnya itu disebabkan oleh tingkah polah Nenek yang suka di luar nalar.
Sungguh, aku sampai cengo dibuatnya.
"Maksud njenengan pripun, Bu Zia? Ngapunten nggih sak durunge, kulo mboten paham.
Sak estu.
" (Maksud Anda bagaimana, Bu Zia? Mohon maaf ya sebelumnya, saya tidak paham.
Sungguh.
) Pak Kusno yang juga ikut oleng, bertanya dengan bahasa Jawa halus.
Tentu saja.
Lah wong beliau ini sedang berhadapan dengan atasan sekaligus orang yang berjasa membantu keluarganya.
"Ojok macak kentir kowe, No.
Hm talah, bapak anak podo ae.
" (Jangan berlagak gila kamu, No.
Hm talah, bapak anak sama saja.
)"Sama gimana, Nek?" kali ini aku yang bertanya.

Sumber:Internet