Gelap

Nenekku Pahlawanku 21 28

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Nenekku Pahlawanku 21 28

. ***Brum! Brum! Brum!Aku membelah jalan dengan perasaan ringan.
Bagiku, melakukan kebaikan kecil seperti barusan bukan semata-mata ingin minta balasan.
Pun tidak selamanya otakku hanya soal selangkangan.
Menurutku, mengembalikan senyuman cerah di wajah orang yang kubantu sudah cukup membuat kesehatan mental serta moodku di zona bagus.
Selain daripada itu, sedikit banyak aku mengetahui jikalau membangun rumah tangga, sekaligus menghidup istri dan anak itu cukup kompleks.
Termasuk pilar penting adalah ekonomi.
Percuma saja hanya modal cinta dan kontol kalau si kepala keluarga tak memberi nafkah yang cukup.
Terlebih biaya hidup zaman sekarang semakin mahal.
Total belanjaan dengan nominal 8 juta dua wanita di warung tadi sudah cukup menjelaskan kalau hidup itu sejatinya butuh uang.
Memang sih uang bukan segalanya.
Tapi segalanya butuh uang.
Mungkin kalau dunia ini masih menerapkan barter, barulah uang tak banyak bicara.
Sekarang, motor RX King yang kutunggangi telah tiba di pelataran rumah Kakek.
Tak banyak yang berubah.
Ya iyalah.
Baru berapa jam aku meninggalkan rumah, masa iya rumah ini tiba-tiba berubah jadi istana.
Bajingan.
Brum! Brum! Brum!Aku turun dari motor.
Mematikan mesin.
"Umi! Ini ditaruh mana?" setengah teriak, aku bertanya sambil menenteng dua sak karung berisikan masing-masing jagung dan kelapa berukuran besar.
"Taruh ndek teras ngarep ae, Be.
Mengko aku seng ngurus.
" (Letakkan di teras depan saja, Be.
Nanti aku yang ngurus.
) Nenek menyahut dari arah ruang tamu sambil menghembuskan asap rokok kretek.
"Habis gini aku disuruh apalagi, Umi?" aku bertanya lagi sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku seka keringatku yang menetes di pelipis.
Baru kusadari kulitku yang semula putih kini gosong terpapar sinar ultraviolet.
Tepat saat aku berdiri di depan Nenek yang duduk di ruang tamu sambil bersila, aku terperanjat saat mendapati wanita tua super binal itu hanya menggenakan kutang putih khas orang desa.
Sedang bawahan sang Nenek hanya menggenakan kain jarik sebatas pusar.
Harusnya aku sudah biasa melihat pemandangan ini setelah beberapa hari tinggal di Desa Gentengan.
Akan tetapi, namanya juga shock culture, aku masih terheran-heran.
Sebab, tak hanya Nenek yang suka berpakaian terbuka mengundang birahi anak muda sepertiku, melainkan wanita-wanita desa yang aku temui di toko kelontong sebelumnya, pun di sepanjang jalan pulang juga sama.
Bagaimana bisa orang-orang di desa ini, terutama para lelaki, menahan godaan terindah yang tak pernah ditemui di sudut kota mana pun?Apa wanita di desa ini saking bebasnya berpakaian, sampai menghiraukan ada aku yang mengalami fase keingintahuan lebih akan seluk beluk tubuh wanita?Terlebih aku sudah merasakan dengan kesadaran penuh dua wanita yang telah aku gauli, pun aku puaskan.
Semakin heran, tatkala aku duduk berseberangan dengan Nenek, di mana tanpa sungkan ia meloloskan kutang hingga menyembulkan dua payudara yang sebesar gaban.
Walau dua bulatan itu mengendur, tak menyurutkan mata dan nafsuku memandang penuh gairah.
Aku pandangi terus menerus, hingga tanpa sadar batang kejantananku mengeras tanpa bisa ditahan.
Kurang ajar ini si Palu Gatot.
Sudah ngecrot tiga kali, masih saja menuntut jatah.
Tidak ada puas-puasnya ia menebar benih.
Mana tak ada rasa terima kasihnya kepadaku.
Yang mana, lututku lemas sampai gemetar dibuat jalan.
Perhatian sedikitlah soal staminaku yang sudah terkuras habis bersama Bu Rini.
Bajingan.

Sumber:Internet