Gelap

Nenekku Pahlawanku 21 8

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Nenekku Pahlawanku 21 8

. ***Aku mendongak.
Menatap Nenek tak percaya.
Tanpa aku sadari, kontolku sudah mengeras.
Shit.
Aku ... apakah aku benar-benar nafsu dengan Nenekku sendiri?Sementara itu, Nenek menangkup kedua pipiku.
Cup!Nenek yang pertama memulai.
Begitu agresif tanpa tedeng aling-aling.
Bibir kami sudah saling melumat.
Aku memejamkan mata.
Pun dengan Nenek.
Aku membiarkan perasaan kami mengalir.
Menyatu.
Ciuman ini ... aku bisa merasakan kemelut suasana hati Nenek: marah, rindu, benci.
Rasa-rasanya perasaan itu tidak ditujukan kepadaku.
Aku membuka mata.
Mendorong pelan kedua pundak Nenek, lalu bertanya, "Nenek jangan bercanda, ya?"Tanpa menghiraukan ucapanku, Nenek menggandengku menuju masuk ke dalam rumah.
Mengunci pintu.
Di kursi paling panjang yang ada di ruang tamu, Nenek naik ke atas pangkuanku.
Wajahnya buas penuh nafsu birahi.
Nenek mengalungkan kedua tangan di leherku, kemudian kembali nyosor pada bibirku.
Tak kusangka, sambil berciuman, dada Nenek bergetar hebat.
Ia malah menangis tersendat-sendat sambil menggumamkan nama Kakek.
Menyumpah serapah.
Sejurus, kedua tanganku kugunakan untuk membelai rambut panjang serta punggungnya, tangisan Nenek kian kencang.
Pilu.
Seakan besarnya rasa kesedihan ia pikuk sendiri.
Lambat laun, seiring getaran tubuh Nenek kembali normal, tangisnya juga berangsur reda.
Pun bibirnya mulai terlepas.
Aku tetap membelainya untuk beberapa lama.
Sampai di mana, Nenek sendiri yang mulai bergerak.
Ia sedikit menegakkan badan.
Menatapku sayu.
Dan tanpa mengucapkan sepatah kata, Nenek melumat bibirku.
Menghisap.
Menggigit kecil.
Kemudian, lidah Nenek menyeruak memaksa menerobos bibirku.
Aku tanpa banyak drama mengikuti keinginan Nenek.
Membiarkan Nenek melakukan apa yang ia mau.
Sebab, biasanya wanita lebih suka aksi daripada retorika belaka.
Karena love language dengan skin touch lebih mudah untuk dipahami.
Tak berbeda jika pasangan main kita beda usia.
Dua kali, atau mungkin tiga kali.
18 tahun melawan 55 tahun.
Bagaimana aku mengatakannya? Ini terlalu gila, bajingan.
Suara hisapan serta kecupan dari bibir Nenek membangkitkan gairahku.
Mau tak mau, aku harus meladeninya.
Kugunakan sedikit pengalamanku menamatkan video porno yang berjumlah 100 scene di dalam ponsel.
Aku mengikuti insting kelelakianku.
Kami saling mengadu teknik ciuman dan belitan lidah.
Sesekali menelusuri rongga mulut.
Tak lagi kupedulikan bau mulut Nenek yang rasa tembakau rokok dan kopi.
Bagiku, kalau sudah nafsu yang berkuasa, mau bau nitrogen pun dijabani.
Bajingan.
"Hmm ... mmm .... hmmm ..." Nenek menyudahi ciuman.
Ia mengambil nafas barang sejenak sambil memandangku.
Sayu sekali.
Yang kemudian, ia berucap, "Kamu sudah pernah main wanita, Le?""Nenek bercanda.
Apa aku terlihat seperti seorang cucu yang kelakuannya kayak binatang?" aku balik bertanya.
Sengaja aku mengajaknya ngobrol untuk membangkitkan feel agar lebih lepas jika nantinya terjadi aksi coblos-mencoblos.
Sekadar menyatukan vibes menjelang pelepasan statusku sebagai perjaka di usiaku yang dua bulan lagi 19 tahun.
"Hahaha.
Cucu gendeng.
Yo wes, nanti Nenek ajarin.
Tapi dasar-dasarnya kamu tahu harus ngapain, kan?" Nenek tertawa renyah, seraya membelai rahangku.
"Nonton bokep sedikit membantuku, Nek.
Aku akan mencoba sebisaku.
Tapi Nenek jangan terlalu berharap, lho, ya.
""Pinter.
Ini baru cucu Nenek.
Dan Nenek yakin insting kejantananmu bisa bicara lebih.
""Mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan.
""Nenek pikir, semua Nenek di dunia ini punya hasrat untuk ngenthu sama cucunya sendiri.
"Aku memijat pelipisku yang berdenyut.
"Aku rasa, cuma Nenek yang punya pikiran bejat seperti itu.
"
Sumber:Internet