Gelap

Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua 1

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua 1

. Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua "Minum ini setiap malam, jangan pernah berhenti.
Jika lupa, kamu harus mendoble obatnya di malam berikutnya.
" Diani mengambil sebungkus plastik kecil obat yang diserahkan ibu mertua di malam pertama pernikahannya.
Ia melihat isi di dalam plastik tersebut.
Ada tiga puluh butir obat kecil berbentuk bulat.
Kapsulnya mengkilat dengan dua warna.
"Ini obat apa, Bu?" "Itu obat kesuburan.
Dengar Dian, Ibu cuma punya satu anak lelaki yaitu Erlang.
Umur Ibu pun sudah cukup tua.
Ibu pengen segera menimang cucu, jadi obat ini kamu minum dengan teratur supaya kamu bisa segera hamil.
" Diani tersenyum setelah mengetahui apa yang diberikan ibu mertuanya itu.
Ia berjanji akan melakukan segala usaha untuk bisa segera hamil.
Malam yang dinanti tiba, Diani dengan segenap hati melayani suaminya, Erlangga.
Lelaki tampan, mapan lagi penyayang.
Tidak ada satu wanitapun yang bisa menolak pesona Erlang.
Tapi, lelaki dengan sebuah lesung di pipi kanan hanya menjatuhkan satu pilihan yaitu, Diani Dwiputri Yanti.
Seorang gadis biasa yang bahkan tidak lulus sarjana.
Tapi cintanya yang begitu kuat mampu mengalahkan kasta bahkan segala embel-embel yang melekat pada keturunan mereka.
Erlangga bahkan tidak mendengar ibundanya yang terus menerus meminta agar memilih wanita yang sepadan.
Erlang telah jatuh hati, dan tidak ada yang bisa mematahkan niatnya sekalipun ibunda tercinta.
* "Mas yakin habis ini kamu pasti hamil," ucap suaminya sesaat setelah penyatuan mereka terjadi.
Diani tersenyum bahagia.
Rumah tangga impiannya kini sudah ia raih.
Suaminya yang begitu mencintai pun ibu mertua yang tadinya dia pikir akan selalu menindas.
Nyatanya amat bersikap baik.
Dian terus bersyukur atas apa yang dia dapatkan itu.
Hari demi hari berlalu, perjuangan Diani untuk hamil ternyata tak mudah.
Sekian banyak testpack terus dibeli sang suami untuk mengecek kehamilannya.
Bulan pun terus berganti, pertanyaan kapan hamil itu terus terdengung.
Ibu mertua setiap bulan menuntut jawaban.
Bahkan kata-kata itu mulai terendus dari sanak keluarga pihak suaminya.
Diani mandul.
Ia tak bisa memberi keturunan pada keluarga Adiwijaya.
Wanita itu merasa begitu tertekan, seolah di sini ketidakhamilan yang terjadi adalah ulahnya seorang diri.
Padahal bukankah hamil itu anugerah.
Dan bahkan bukan saja wanita yang bertanggung jawab.
Lelaki pun punya tanggung jawab yang sama.
Tapi kenapa hanya dia yang disalahkan? Hari ini tepat satu tahun pernikahan, tapi Diani belum jua diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengandung seorang bayi.
Anniversary yang diharapkan Dian seindah hari pengantinnya, justru menjadi momok menakutkan saat ibu mertua terus menuntut agar ia bisa segera hamil.
"Obat yang Mama kasih itu ada kamu minum secara teratur nggak sih?" Pertanyaan ibu mertua pagi itu membuat jantung Dian berdegup kencang.
Erlang di samping menguatkan, jemarinya terus menggenggam jemari sang istri.
"Sudahlah, Bu.
Hamil itu anugerah.
Jika Dian belum juga hamil, itu artinya Allah memang belum berkehendak.
Jika Mama tidak sabar, biar nanti saya bawa dia ke klinik spesialis kandungan untuk mengecek kesuburan.
" "Bagus, Mama juga ikut.
Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu.
" Seperti kata sang suami, mereka bertiga akhirnya mengunjungi sebuah klinik dokter kandungan ternama di kota itu.
Dada Dian kembali berdegup tak karuan, rasa cemas dan takut menghampiri bersamaan.
Bagaimana jika dokter mengatakan bahwa dia tak subur? Padahal obat kesuburan yang diberikan mertua, tak pernah sekalipun lupa ia minum.
Diani menengadah dua tangan, membuat sang suami menoleh dan bertanya.
"Kamu kenapa?" "Dian takut, Mas.
Takut dokter mengatakan hal tidak baik akan rahim ini.
" "Kamu jangan takut, Mas selalu akan mendukungmu.
Jika dokter bilang kamu tak subur, jangan khawatir, kita akan melakukan terapi kesuburan.
" Perkataan Erlang barusan membuat Dian sedikit merasa tenang.
Tapi tetap was-was, karena pikiran suaminya tentu tak sama dengan ibu mertua.
Mereka masuk ke ruang pemeriksaan bersamaan.
Dokter meminta Diani naik ke atas ranjang untuk dilakukan pemeriksan USG.
"Bagaimana keadaan rahim menantu saya, Dok?" tanya ibu mertua Diani.
"Apa selama ini Ibu Dian ada menggunakan kontrasepsi?" Diani terhenyak, dia tak pernah meminum apapun selain obat kesuburan yang diberikan ibu mertunya.
"Tidak ada Dok, tapi saya minum obat kesuburan.
" "Bisa saya lihat obatnya?" "Tidak saya bawa, Dok.
" "Dari mana Ibu mendapatkan obat tersebut?" Dua mata Dian menatap ibu mertua, membuat wanita paruh baya itu terlihat gugup.
"Saya yang memberinya, Dok.
" "Ibu tahu apa-apa saja kandungan obat tersebut?" Ibunda Erlang tampak semakin gugup.
"Isinya vitamin, Dok.
" "Darimana Ibu mendapatkannya?" "Dari bidan di kampung.
" Dokter kandung tersebut menganggukkan kepalanya.
"Berarti benar, selama ini Ibu dan suami tidak melakukan hal-hal yang bisa menghambat terjadinya proses kehamilan?" "Benar, Dok.
" "Jadi begini, secara keseluruhan rahim Ibu Dian baik-baik saja.
Tidak menunjukkan adanya masalah yang dapat mempengaruhi terhambatnya proses pembuahan.
Tapi kita belum memastikan keseimbangan hormon dan juga proses ovulasi.
Jadi saya sarankan agar Ibu Dian kembali kemari untuk kita lakukan proses pemeriksaan selanjutnya.
" "Begitu ya, Dok.
" "Benar, dan alangkah baiknya jika pengujian kesuburan ini tidak dilakukan hanya pada satu pasangan saja.
Saya sarankan Bapak juga melakukan pemeriksaan kesuburan.
Supaya bisa mendapat diagnosa tepat demi penanganan yang terbaik.
" Semua yang hadir mengiyakan anjuran dokter tersebut.
Setidaknya kali ini Dian bisa menarik napas lega, sebab dokter kandungan itu menyatakan bahwa rahimnya tidak bermasalah.
Beberapa hari berlalu, ibunda Erlang kembali menanyakan pada anaknya tentang keseriusan tes kesuburan yang diajukan dokter kandungan tempo hari.
Sejujurnya, Erlang sedang tidak punya banyak waktu, tapi melihat ibunya yang begitu memaksa akhirnya ia dan Dian kembali ke dokter.
Rangkaian pemeriksaan dilakukan selama beberapa waktu.
Dian dan Erlang menjalani sembari terus memanjatkan doa.
Tiba hari dimana dokter akan memberitahu hasil pemeriksaan secara keseluruhan.
Erlang sudah selesai diberitahu hasil pemeriksaan.
Wajahnya tampak lega dan bahagia sebab tahu diri tak mengapa dan sangat subur.
Tibalah bagi Dian mendengarkan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan padanya.
"Ibu Dian, setelah melewati serangkaian pemeriksaan, kami mendapati adanya gangguan pada proses ovulasi di rahim Ibu.
Selain itu, kami juga mendapati penebalan pada dinding rahim terutama pada waktu-waktu seharusnya terjadi ovulasi.
Ini sangat mirip seperti kerja dari pada alat kontrasepsi, Bu.
Apakah benar selama ini Ibu tidak memakai salah satu alat kontrasepsi?" Erlang dan Diani saling berpandangan.
"Benar, Dok.
Saya tidak pernah memakai kontrasepsi apapun.
" "Kalau begitu, kita coba terapi hormonal sementara waktu.
Semoga selesai ini akan ada kabar gembira untuk Ibu dan suami.
" Diani memgangguk lemah, sedang di sisi suami menggenggam jemari.
Ternyata benar aku yang bermasalah? Bagaimana jika Mama tahu? Aku takut Mama bakalan marah .... *** Bersambung Yuk mampir di channel yo.
Sumber:Internet