. "Mana obat yang diberikan dokter?" Ibu mertua langsung memeriksa bungkusan yang dibawa pulang menantunya.
Saat itu Dian yang tampak kelelahan langsung saja menyerahkan tanpa berpikir akan hal-hal aneh.
Ia kemudian berjalan menuju dapur dan mengambilkan segelas air untuk suaminya.
Begitu kembali ke ruang tengah ia sudah tidak lagi mendapati ibu mertuanya di ruang itu.
"Ini Mas, air putihnya.
" "Makasih, Sayang.
" "Mama mana, Mas?" "Kayaknya ke kamar.
" "Obat Dian tadi ada sama Mama.
" "Coba kamu minta, mungkin Mama lupa balikin.
" Dengan perasaan khawatir Dian segera ke kamar ibu mertuanya.
Obat itu adalah salah satu caranya agar bisa hamil, dia teramat takut jika obat tersebut hilang.
Belum lagi harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya, Dian merasa sangat bertanggung jawab pada obat tersebut.
Ia mengetuk kamar tidur ibu mertua yang terkunci.
"Ma ...." "Sebentar Dian.
" Tak lama pintu kamar langsung terbuka.
Terlihat ibu mertuanya baru saja mengelap tangan.
"Maaf ya, Mama tadi buru-buru ke kamar mandi.
Ini obatmu.
Itu minum yang teratur, jangan ada yang tersisa.
" Dian melihat kembali isi di dalam plastik.
Semua masih lengkap.
"Obat subur dari Mama, gimana?" "Udah kamu berhentikan dulu aja.
Mudah-mudahan dengan minum obat ini, kamu bisa langsung hamil.
Ingat Dian, Mama pengen cepat punya cucu.
Jika kamu tidak juga bisa memberikan apa yang Mama inginkan dalam waktu dekat ini, akan ada konsekuensi yang kamu dapat.
" Diani tertunduk dan mengangguk.
Ia tahu apa maksud konsekuensi yang dibicarakan sang mama.
Tapi sungguh, Dian takkan bisa menerima jika dirinya dimadu dengan wanita lain.
Dirinya yakin, pasti bisa hamil.
Bukankah ini baru setahun, bahkan ada yang lebih lama menanti buah hati.
Dengan kesabaran disertai usaha pasti Allah akan memberi jawaban.
Tapi bagaimana dengan kondisinya? Ibu mertua terlihat tak sabaran.
Bagaimana jika setelah mengkonsumsi obat ini, dirinya masih tak kunjung hamil.
Ya Allah ... Diani merahup wajah penuh harap.
* Malam menjelang, iapun bermaksud hendak meneguk obat pemberian dokter.
Tangannya cekatan membuka plastik berisi obat, tapi sangat terhenyak saat melihat sebuah plastik putih kecil berisi obat berwarna putih dan berbentuk bulat.
Seingat Dian dokter memang ada memberikan obat berwarna putih tapi bentuknya sedikit lebih besar.
Dia hilangkan tanya dalam benak dan tetap mengkonsumsi obat tersebut.
Dengan niat besar, semoga selepas meminumnya, kehamilan adalah keajaiban pertama yang ia dapatkan.
Tak berapa lama, sang suami memasuki kamar.
"Lagi ngapain, Sayang?" "Baru aja selesai minum obat, Mas.
" Erlang berjalan mendekat, lalu dia mengecup kening sang istri.
"Terus semangat.
Pasti bisa.
" Diani mengangguk.
Jemari sang suami mengusap pipi.
"Bagaimana kalau malam ini kita langsung mencoba?" Diani tersenyum menyambut sentuhan sang suami.
Sumber:Internet