. Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua (3) "Maksudnya, kali aja Erlang mau menambah penghuni di rumah ini.
Daripada bertiga aja, udah setahun lo," ucap Juli menjawab pertanyaan Dian.
"In Syaa Allah, Mbak doakan aja.
Sembilan bulan lagi, sudah ada penghuni lain di rumah ini.
" Erlang berucap seraya mengelus perut Dian.
Sungguh perlakuan ini membuat sang istri merasa bahagia.
Dari sekian banyak hasutan, ternyata ada yang benar-benar ingin melindungi.
"Udah, udah.
Jangan pada berdebat.
Ayo masuk semua.
" Ibunda Erlang mengajak semua anak-anaknya masuk, tangan wanita paruh baya tersebut terus menggandeng Maira.
Pemandangan itu benar-benar membuka kedua mata Dian.
Ternyata selama ini kebaikan ibu mertua tak sejalan dengan hatinya.
Dian mulai membaca, jika wanita itu menginginkan wanita lain sebagai menantunya.
Mereka duduk di ruang tamu, berbincang dan tertawa.
Hanya Dian yang terdiam.
Meski tak suka, ia terpaksa harus ikut sebab tak ingin dibilang menantu sombong.
Hingga sampai pada pembicaraan itu.
"Dian ini sudah setahun nggak hamil-hamil lo, Mai.
Padahal Mama udah kasih obat subur semenjak pertama dia menikah.
Eh, sama dia kok nggak bereaksi ya?" "Mana bisa subur, Ma.
Kalau dari lahir emang rahimnya nggak subur.
Lihat aja dia dibesarkan dari keluarga pas-pasan, pasti makanannya nggak bergizi.
Baru dapat makanan bergizi juga setahunan ini, mana mau langsung subur sih, Ma.
" "Mbak jaga bicara, Dian ini istri aku.
" "Maaf Erlang, Mbak 'kan cuma memberi jawaban atas pertanyaan Mama.
" "Mama bertanya sama Maira, kenapa Mbak yang jawab.
" Erlang terus melindungi Dian dan itu membuat dua kakaknya tampak semakin cemburu.
"Sudah, sudah, jangan berdebat.
Mai kamu ada kenalan nggak orang kampung yang pintar urut? Dulu pas Mama muda, Mama sempat diurut, katanya biar rahimnya bagus dan cepat hamil.
Tapi tukang urutnya udah meninggal.
" "Oh, di Malang ada sih.
Aku dengar Mama sempat ngomong waktu Kakakku nggak hamil-hamil juga.
Kalau Mbak Dian mau, biar tak suruh diantar kemari aja sama Dipo, supir pribadi Mama.
" Pandangan Dian segera teralihkan pada suaminya.
Lelaki itu berusaha menenangkan dengan menggenggam jemari istrinya.
"Mama dengar, Dian udah satu bulan telat, hasilnya gimana udah ditest belum?" "Nggak usah ditest Ma, paling juga sama.
Satu garis," seloroh Juli tak berperasaan.
"Mbak salah, Dian udah hamil kok.
Makanya tadi Erlang nggak iyain waktu Maira mau bawa tukang urut.
Takut salah urut malah keguguran.
" Semua tersentak, terutama sang ibu.
Dian pun sama terhenyak, bagaimana bisa suaminya berbohong? "Kamu serius Erlang?" "Serius, Ma.
Dian udah hamil, dan sebentar lagi Mama akan segera mendapat seorang cucu," ucapnya lagi sembari mengusap punggunh tangan sang istri yang tiba-tiba bergetar.
"Jadi mulai sekarang, jangan lagi ada yang mengatakan kalau Dian tidak bisa memberi keturunan, buktinya sekarang dia hamil.
Dan Mama, sudah saatnya Mama menyiapkan segala kebutuhan untuk menyambut cucu tercinta, kamar, pakaian, ayunan, segalanya lah.
" Tak ada raut bahagia pada wajah Ibunda Erlang, beliau hanya menunjukkan wajah tak percaya.
"Yaudah, semuanya, kami pamit.
Erlang mau antar Dian ke kamar dulu.
Soalnya tadi pagi Dian bilang agak pusing, mungkin pengaruh kehamilan.
Untuk semua, selamat bersenang-senang.
"
Sumber:Internet