. Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua (4) "Ya Allah, kenapa ada manusia sejahat ibu mertuaku? Dia yang memberiku pil KB, lalu dia pula yang selalu bertanya kenapa aku tidak hamil-hamil?" *** "Ada apa, Ma?" Ibunda Erlang menelisik tajam sepanjang matanya memandang.
Tak ada sesiapa, padahal jelas tadi ia melihat seseorang di balik tembok ini.
"Nggak ada apa-apa, yaudah Mama mau ke belakang dulu lihat anak-anak.
" "Aku ikut, Ma.
" Keduanya menghilang, dengan perasaan deg-degan Dian keluar dari tempat persembunyiannya.
Ia menarik napas panjang.
Jadi mereka mau memaksaku ke dokter kandungan.
Ini semua karena Mas Erlang, harusnya tak serumit ini ... Dengan bergegas ia kembali ke dalam kamar.
Menanti jam berlalu, terasa amat menyesakkan.
Diani tak dapat duduk tenang.
Ia hendak menelpon suami bertanya dimana dan mengapa Meira ikut bersamanya.
Tapi sebuah pesan masuk, membuat niat wanita itu tertunda.
[Dian, ini aku Khalida.
Apa kabar? Maaf ya kemarin pestamu aku nggak bisa pulang, soalnya lagi ujian akhir.
Alhamdulillah, kemarin udah di wisuda, sekarang aku udah balik lagi ke rumah.
Rencana mau buka praktik di kampung ini.
Kamu sibuk? Aku pengen ketemuan?] Khalida adalah sahabat terdekat Dian.
Semenjak kecil mereka sudah bermain bersama.
Dan akhirnya keputusan orang tua Ida yang ingin sang anak menjadi bidanlah membuat mereka terpisah.
Ida melanjutkan kuliah di Akademi Kebidanan, sedang Dian meneruskan pendidikan di pesantren salafiah.
Dua tahun nyantri, Dian dilamar oleh Erlang.
Iapun memutuskan menyudahi pendidikan dan sepenuhnya menjadi seorang istri.
[Aku, sebenarnya nggak sibuk.
Tapi kurang sehat.
] [Kamu sakit apa, Dian? Aku 'kan bidan, bisalah kuperiksa.
Siapa tahu kamu hamil.
Nanti pakai jasaku untuk menolong persakinanmu, ya.
] Dian menghela napas, jangankan persalinan, hamilpun tidak.
Sejenak wanita itu mulai berpikir, ingin konsultasi lebih pribadi dengan sahabatnya itu.
Sebab kemarin saat beberapa kali ke dokter kandungan, ia merasa ketakutan hingga apapun yang ingin ia tanyakan seolah hilang begitu saja.
Apalagi setelah dokter menyatakan kandungannya bermasalah, ia semakin stress dan tak bergairah.
[Kita ketemuan hari ini ya, di Ayam Goreng Kemanggi.
] [Oke sip.
Aku ijin suami dulu ya.
] Begitu menutup telpon, Dian segera menelpon suaminya.
Aneh, beberapa kali memencet selalu diluar jangkauan.
Pikiran sang wanita semakin tidak tenang.
Kemana kamu pergi, Mas? Nggak pernah kamu nonaktifkan ponsel pagi-pagi? Ya Allah, lindungilah suamiku.
Ketakutannya semakin menjadi, jika mengingat sang suami tadi semobil dengan wanita lain.
Meski tak punya hubungan apapun, tapi tetap saja tak bisa dibiarkan.
Tidak mungkin perempuan dan lelaki bukan mahrom di suatu tempat bersama jika tidak bersama yang ketiga, yaitu syaitan.
Diani ingin menangis.
Marah dan kecewa kenapa Erlang tak mengabari jika dia membawa Maira bersamanya.
Tapi bagainana cara ia meluapkan semua rasa itu.
Tak mau menyerah, Dian mencoba mengetik sebuah pesan, [Mas, kamu kemana? Dian daritadi nelpon berkali-kali, tapi ponsel diluar jangkauan.
Mbak Maira numpang di mobil Mas juga ya? Beliau mau kemana? Perasaan Dian nggak enak, Mas.
Jika Mas sudah membaca pesan ini, tolong segera hubungi.
Oya, Dian sekalian mau ijin ketemu Khalida sebentar.
Sekaligus mau nanya-nanya tentang keadaan rahim.
Soalnya dia sudah jadi bidan sekarang.
Siapa tahu bisa memberi jawaban atas ketidakhamilan ini ya, Mas.
]
Sumber:Internet