. Obat Kesuburan Dari Ibu Mertua (5) "Oya, Mas.
Obat kesuburan Dian 'kan sudah habis.
Kita ke dokter lagi yuk, Mas.
Dian serius pengen banget hamil.
Biar Mama benar-benar sayang dan nggak kecewa saat tahu omongan Mas kemarin cuma dusta.
" *** Dian terdiam, melihat wanita terhormat di , amarah dan kecewa semakin mengusik dada.
Haruskah ia melabrak wanita itu saat ini juga? Tidak, itu bukan sifatnya.
Ia hormati wanita tersebut sebagai seorang mertua.
Meski ulahnya sungguh tak berperikemanusiaan.
Lagi pula, apa gunanya dia membongkar semua di hadapan ibu dan iparnya.
Yang ada malah ia akan didepak dengan sekali tendangan.
Apalagi bukti sudah tidak ada, semua obat pemberian ibu mertua sudah habis.
Dian harus memikirkan cara yang lebih elegant untuk membuat mertuanya sadar dan menyesal.
Baiklah, demi hasil yang baik.
Aku harus berpura-pura tak tahu kebenaran.
"Astaghfirullah, Mama bicara apa.
Dian keluar nemui teman, Ma.
Namanya Khalida.
" "Khalida, Khalid kali," seloroh Silvia.
Dian menarik napas.
Selama ini dia memang diam, karena berprasangka jika sang ibu mertua benar-benar menyayanginya.
Jika wanita itupun sama dengan kedua anaknya yang menaruh kebencian, maka tidak ada alasan lagi dirinya harus tunduk.
Dari kecil dibesarkan oleh ayah, Dian memang tak pernah marah.
Tapi dia ingat semasa kecil, pernah sekali menjatuhkan teman bermainnya ke dalam selokan.
Pernah sekali membuat teman SMP yang mengibulinya banjir air mata karena katak yang sengaja dimasukkan dalam tas gadis tersebut.
Dia hanya hormat, dan karena sikap itulah semua orang di rumah ini menganggapnya lemah dan bisa ditindas semena-mena.
Tapi setelah tahu semua tak ada di pihaknya, dia tidak lagi akan diam begitu saja.
Permainan kalian akan kuakhiri.
Akan ada hadiah terindah untukmu, Mama.
"Mbak Silvi bisa nggak bedakan ucapan Dian tadi.
K-h-a-l-i-d-a.
Bukan Khalid.
Mbak mungkin nggak lulus SD, ya? Tapi kenapa bisa jadi sarjana?" Wajah Silvia mendadak merah karena merasa dihina.
"Kau menghinaku?" Tangan Silvia tampak bermain hendak menampar Dian, tapi wanita muda itu segera menggeser tubuhnya.
"Mbak mau apa? Mau mau main tangan? Seorang wanita terpelajar seperti Mbak, Dian pikir sangat bisa mengontrol emosi.
" "Banyak ngomong, kau! Dasar perempuan kampung!" "Sudah, cukup! Cukup! Dengar Dian, kamu sudah buat pelanggaran di rumah ini.
Mama akan laporkan sikapmu keluar rumah tanpa ijin pada Erlang.
" "Jangan salahkan kami jika karena kesalahan itu kamu dikeluarkan dari rumah ini.
Apalagi, sekarang Erlang 'kan sudah punya Maira, wanita sempurna yang bisa memberi keluarga ini keturunan.
" Hati Dian perih, dadanya bergemuruh hebat.
Tapi dia tetap diam.
"Maaf Ma, Dian permisi ke kamar.
Dian mau istirahat.
" Tak mau lagi mendengar ocehan ibu mertua dan iparnya itu, Diani berlari ke kamar.
Di atas ranjang, air matanya tumpah tak tertahankan.
Segala yang terjadi mulai dari semenjak ia menginjakkan kakinya pertama kali di rumah ini, hingga saat dimana ia tahu siapa penyebab ketidakhamilannya.
Semua berputar kembali dalam benak.
"Teganya engkau, Ma.
Selama ini betapa baiknya perlakuanmu.
Yang kutahu kau tak seperti anak-anak perempuanmu yang selalu mencemoohku sebab tak kunjung hamil.
Ternyata lebih dari itu, perempuan yang kukira berhati malaikat tak lebih baik dari--"
Sumber:Internet