Gelap

Penggoda Dalam Rumah 4

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Penggoda Dalam Rumah 4

. Kata demi kata telah kurangkai sedemikian rupa agar tak menjadi salah paham antara aku dengan Arini.
Tapi sepertinya masih belum cukup memberi sinyal alarm kepada kepekaan wanita yang hatinya bak peri itu.
Gemas aku dibuatnya.
Aku di sini bertarung melawan jala jerat yang ditebar oleh ibu mertua, sedangkan Arini tak jua memahami apa yang sedang menjadi kegelisahanku.
"Dek, Mas nggak nyaman dengan penampilan ibu yang terlalu seronok seperti itu," protesku kemarin sore saat melihat ibu mertua yang hanya mengenakan siluet dan celana jeans pendek.
Arini mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sedang menyirami tanaman pot di depan rumah.
Dapat kudengar desah napas meski perlahan, sepertinya ia sedang menghalau perasaan yang mulai mengganggu pikiran.
Kulihat ada raut resah yang menggelayut di riak wajahnya.
Mungkinkah dia mulai mengerti dengan apa yang ada dalam hatiku? 'Tuhan, bantu Arini membuka mata bahwa ada yang salah dengan ibunya,' doaku dalam hati.
"Dek, coba tegur ibu untuk berpakaian lebih sopan.
Nggak enak juga kalau dilihat tetangga.
" Aku mencoba memanfaatkan situasi, mengomporinya dengan atas nama tetangga.
"Iya, Mas.
Nanti aku coba bicara dengan Ibu.
" Dengan nada lemah Arini menyahut.
Ya, hanya itu yang ia ucapkan.
Setelahnya aku tak tahu apa yang ia bicarakan dengan ibunya.
Yang aku tahu hanyalah mengenai apa yang kulihat beberapa hari ini, ada sedikit perubahan sikap dari mertuaku terhadap Arini.
"Arini! Mana uang untuk beli pakaian Ibu?" pinta ibu mertua sambil mengulurkan tangan ke arah Arini yang sedang sarapan.
Aku menghentikan suapan, tertegun melihat Arini yang dengan ringan mengambil beberapa lembar uang untuk ibunya, menyerahkan tanpa banyak suara.
Hubungan macam apa itu? Tak pernah kulihat mereka mesra layaknya ibu dan anak.
Arini sendiri merasa canggung saat berhadapan dengan ibunya, sedangkan Bu Hera jarang mengajak Arini mengobrol.
"Uang segini paling dapat dua baju.
" Ada nada mencibir dari ucapan wanita itu.
"Bu, itu bisa dapat empat gamis.
Sementara itu dulu cukup, nanti kalau Arini ada uang lagi ibu bisa beli lebih.
" Dengan lembut Arini mencoba bersabar meski ada hembus napas gusar yang ia coba tahan.
"Terus aku siapa yang antar ke mall?" tanya wanita itu seraya mengarahkan pandangan ke arahku, tentu saja membuat aku yang hendak menelan makanan tiba-tiba tersedak.
"Ibu nggak usah ke mall, beli gamisnya cukup ke toko muslimah dekat rumah.
Tinggal jalan sebentar keluar gang, nanti pas belokan ke kanan ada toko pakaian yang cukup besar.
" Jawaban Arini membuatku lega, segera kuraih gelas berisi air putih dan menenggaknya tuntas.
"Kamu ini, beliin baju Ibu kok yang murahan.
Ibu sudah biasa beli pakaian yang nyaman.
Kayak stelan ini aja harganya hampir satu juta, lho.
" Sembari memamerkan baju yang ia kenakan, wanita itu kembali mencibir istriku.
Geram rasanya, ingin kumaki jika tak ingat ia adalah ibu dari wanita yang kunikahi.
Selera makanku menguar, hanya menyisakan rasa ingin segera pergi dari hadapan wanita pengeret itu.
"Dek, Mas berangkat dulu, ya.
" Tanpa menunggu jawaban Arini, aku melangkah pergi meninggalkan mereka.
*** "Danu, dicariin emak kamu, tuh!" seru Martin yang baru saja kembali dari luar.
Aku mendongak, mengeryitkan dahi heran kenapa ibu tiba-tiba datang dari jauh dan tidak memberi kabar.
Baru saja hendak berdiri, mata ini membulat lebar melihat penampakan yang sungguh membuat setiap bola mata tercengang.

Sumber:Internet