. Gema takbir berkumandang, di penghujung ramadhan semua mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Meski di tengah pandemi, namun tak menghalangi umat Islam untuk menyambut kemenangan hari nan fitri.
Arini yang tengah sibuk dengan persiapan untuk esok hari, tampak ceria.
Tak ada kesedihan bergelayut di riak wajahnya.
Pasalnya, siang tadi ia mendapat kabar dari Niko bahwa Bu Hera telah melewati masa kritis.
Aku yang mendengar berita itu tak tahu harus kecewa atau senang.
Di sisi lain hati ini masih menyimpan kebencian, namun ketika melihat Arini tersenyum bahagia, tak dapat aku pungkiri bahwa kebahagian wanitaku adalah di atas segalanya.
"Mas, besok kita ke rumah sakit, ya.
Aku mau bawain sambal goreng ati untuk Ibu.
" "Memangnya Ibu sudah boleh makan makanan selain menu dari rumah sakit, Dek?" "Nggak apa, Mas.
Buat icip aja.
Ketupat aku hanya buat 20 biji.
Besok siang Ayah juga mau ke sini.
Kita bisa makan bareng.
" Senyum Arini terus saja mengembang.
"Tapi Ibu nggak pulang ke sini, kan?" tanyaku khawatir.
Arini hanya tersenyum, senyum yang tak mampu kuartikan.
Dasar, wanita! Penuh misteri dan hati susah dimengerti.
****Bangunan berlantai lima dengan cat putih itu mengingatkanku pada saat ruh terpisah dari raga.
Selama 21 hari aku mengelana tanpa bisa kembali.
Tapi sayangnya takdirku selama jadi arwah penasaran tak dipertemukan dengan hantu cantik seperti di film.
Bulu kudukku meremang, aku bergidik saat melewati ruang di mana dulu aku terbaring lemah dengan alat bantu.
Teringat saat detik-detik nyawa akan kembali ke raga, sangat menegangkan.
Kusapu wajah dengan kasar, hembusan napas begitu berat keluar perlahan dari mulut.
Kutepis bayangan bibir berisi yang hampir saja melumat kembali bibirku kala itu.
Beruntung, Tuhan masih berkenan menyelamatkanku dengan mengembalikan roh ke raga seketika itu.
Kuraba bibirku ... ah, masih selamat dari serbuan nenek semlohai itu.
Bulu kuduk kian meremang kala teringat kuluman pertama.
Kudekap tubuh dengan kedua tangan, mencoba untuk menetralisir rasa yang teramat menganggu pikiran.
"Mas, kok malah berdiri di situ?" tanya Arini membuyarkan lamunan.
"Nggak apa-apa, Dek.
Mas hanya ingat detik-detik menjelang sadar.
" "Hmm ... bisa aku mengerti, Mas," ucap Arini datar sembari ikut memandang ke dalam ruangan melalui celah kaca pintu.
Kutatap wajah wanitaku.
Bagaimana ia bisa mengerti? Bukankah aku tidak pernah cerita tentang hal itu? "Aku tahu pasti Mas ketakutan saat malaikat pencabut nyawa datang menghampiri, pasti malaikat mengejar ruh Mas Danu hingga kecapaian, akhirnya kasihan dan mengembalikannya ke raga.
" Oh ... My God.
Kenapa Arini jadi sok tahu begitu? Mending kalau dikejar malaikat, bisa pasrah kalau memang sudah waktunya.
Lha, ini? Lebih mengerikan dari malaikat, dikejar bibir seksi nenek semlohai.
Aku hanya terdiam, memilih membisu tak menjelaskan apapun.
Jika Arini tahu aku terbangun karena ciuman maut ibunya yang hampir mendarat di bibirku, bisa-bisa dia potong habis nanti.
"Ya sudah, Mas.
Sekarang kita ke ruangan Ibu.
Kata Niko, Ibu sudah nggak di ICU lagi.
Nah, itu dia ruangannya.
" Telunjuk Arini mengarah pada sebuah ruangan VIP, jemarinya segera menarik lenganku.
Sungguh ia tak memberiku pilihan untuk menolak, menghindar dari wanita itu.
"Assalamualaikum ...." Arini mengucap salam ketika pintu telah terbuka, dengan serempak mereka menjawab salam yang dihaturkan oleh wanitaku.
Sumber:Internet