Gelap

Penggoda Dalam Rumah 6

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Penggoda Dalam Rumah 6

. #Penggoda_Dalam_Rumah#Cuplikan_Part_45By Ammi Poo "Kenapa, Mas? Kok bibirnya manyun gitu?" tanya Arini ketika aku menghempas tubuh ke peraduan dengan kasar.
"Tuh! Ayah dan Ayah tirimu kompakan mojokin aku!" "Mojokin gimana?" "Katanya aku nggak peka, Dek.
Sekarang Mas tanya, apa kamu butuh pembantu untuk menyelesaikan semua pekerjaan?" Arini mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum.
Sejenak tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh si kembar yang tengah terlelap dalam buai mimpi.
Sejurus kemudian, Arini membenahi hijab berwarna hijau army yang menutup kepala hingga melampaui dada.
Hari ini kulihat wajah lelah itu lagi.
Hembusan napas berat mampu kudengar meski perlahan.
"Kamu kelihatan capek banget, Dek?" "Iya, Mas.
Semalam Putri rewel.
" "Kok, kamu nggak bangunin aku untuk gantian?" "Nggak tega lihat Mas Danu juga dah capek seharian kerja.
" Kuminta Arini duduk di sebelahku, kemudian kurengkuh tubuhnya.
"Maafkan Mas, karena belum bisa membuatmu bahagia sepenuhnya.
Besok kita cari asisten rumah tangga, ya?" Arini menoleh dan menatapku keheranan.
"Aku memang lelah dengan semua kerjaan, Mas.
Tapi ...." Ada keraguan dalam ucapan Arini.
Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Jelas, gurat wajah manis itu begitu sayu karena lelah.
Tapi sepertinya ia tahan dan tak ingin membicarakannya.
"Tapi apa, Dek? Kita ini sudah dikasih rejeki lebih dari cukup.
Jadi, kalau butuh pembantu sudah pasti bisa bayar.
Kita ambil aja dua sekaligus, yang satu untuk bantu jagain Si Kembar, dan yang satu bantu beresin rumah.
" "Iya, Mas.
Aku tahu kita sudah mampu.
Tapi ... aku belum siap ada orang lain masuk rumah kita lagi.
Jujur, aku trauma dengan kejadian sebelumnya.
" "Maksud kamu?" "Mas, bukannya aku nggak percaya dengan keteguhan hati Mas Danu, bukan juga meragukan kesetiaan Mas, tapi ... jujur, aku takut kejadian sebelumnya akan terulang lagi.
" "Ya ampun, Dek.
Kamu ini sampai segitunya.
Mas janji, semua akan baik-baik saja.
Cinta Mas hanya untuk kamu seorang.
" Kembali kupeluk tubuhnya, kecupan hangat kudaratkan bertubi-tubi ke pipi yang mulai chubby itu.
**** Aku masih berbelit handuk ketika suara bel pintu berbunyi.
Kudengar langkah Arini di luar kamar sedang tergesa menuju pintu depan.
Tak berselang lama, Arini kembali dan membuka pintu kamar.
Ia langsung menyuruhku segera memakai baju dan menemui ayah mertua.
Sebentar ... ayah mertua yang mana, ya? Yang tua apa yang muda? "Dek, yang datang ayah siapa?" tanyaku sebelum ia menghilang kembali di balik pintu.
Kulihat justru Arini menepok jidat.
Padahal, kan, aku sekedar tanya.
Apanya yang salah? "Mas Danu sehat? Apa perlu periksa ke dokter? Mungkin ada masalah dengan isi kepala Mas Danu.
" "Lho ... gimana, sih? Mas ini tanya, Dek.
" "Iya, pertanyaanmu nggak mutu.
Sudah jelas kalau aku panggil 'Ayah' itu artinya Ayah Rahman.
Kenapa masih tanya?" Sedikit kukernyitkan dahi, "Oh, iya, ya ... Mas lupa, Dek.
Kan, kalau ke ayah muda panggilnya 'Bang Bobby'.
Ah, kenapa bisa jadi lupa, ya?" "Sudah, buruan jangan pakai lama.
Ayah sudah nungguin!" "Iya, iya.
" Segera kuambil baju dari lemari, kemudian menyisir rambut.
Kulirik pintu, sudah tak ada lagi wanitaku.
Sudah pasti dia ke dapur untuk menyiapkan minuman.
Segera langkah kuayun menuju 'Big Boss' yang selama ini memberiku banyak jalan menuju sukses.
Siapa lagi kalau bukan ayah mertua yang siap mewariskan seluruh hartanya untuk istri dan anak-anakku.
Kujabat tangan lelaki penuh kharisma itu.
Di sisi lain ada gadis muda yang cukup manis dengan dandanan yang sangat sederhana.
Jika ditilik, usianya sekitar dua puluh tahunan.
Sejenak kuperhatikan gadis itu.
Wah, jangan-jangan dia mau jadi ibu mertua tiri, nih.
Bahaya, bisa-bisa menguasai harta Pak Rahman.
Netraku berpindah ke Pak Rahman yang masih menyeruput kopi buatan Arini.
"Gila, nih, aki-aki.
Masa mau nikahin gadis muda begini?" gerutuku dalam hati, ya jelas dalam hati lah ... mana berani aku ungkapin lewat bibir.
Yang ada bisa-bisa aku dipecat jadi menantu.
"Danu, ini Sri.
Dia yang akan bantu Arini mengerjakan pekerjaan rumah.
Selama ini dia sudah pengalaman merawat bayi juga, jadi bisa bantu Arini dalam semua hal.
" Tampak wanita bernama Sri itu tersenyum dan sedikit mengangguk mengiyakan perkataan Pak Rahman.
"Bawa KTP?" tanya Arini dengan nada  ingin menginterogasi.
"Sudah di tangan Tuan Rahman, Non.
" "Nggak usah se-formal itu.
Panggil saja aku 'Mbak Arini', aku nggak suka panggilan yang membedakan strata sosial kayak gitu.
" "Eh ... iya, Mbak.
" Sri tampak masih kikuk, mungkin karena masih baru ketemu atau memang di tempat sebelumnya dia diharuskan memanggil dengan cara tuan-nyonya.
"Sudah ... jangan khawatir, Arini.
Dia rekomendasi dari Bobby, jadi dijamin sip!" Pak Rahman menimpali.
"Apa? Rekomendasi Bobby, Yah?" Netraku membeliak, kenapa harus laki-laki itu lagi yang membantu? ****Kisah lengkap hanya di Joylada dan Mangatoon, ya ... bisa dicari akun Ammi Poo YP.

Sumber:Internet